Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Peristiwa » Sukarno, “The Great Lover”

Sukarno, “The Great Lover”

The Great Lover, inilah julukan yang pernah diberikan kepada Sukarno, atau yang populer dengan panggilan Bung Karno, sang proklamator dan Presiden pertama RI. Julukan ini memang tidak berlebihan. Sejak remaja hingga menjelang akhir hayatnya, Bung Karno adalah pecinta dan pengagum keindahan. Kecintaannya terhadap seni dan keindahan begitu besar. Ia memang ‘Pecinta Agung’, “Pecinta yangt Besar’.

Bung Karno sangat mengagumi, menyanjung dan menghormati wanita-wanita yang selalu menghargai keindahan. Akan tetapi rasa kagum dan hormatnya kepada wanita-wanita yang menghargai keindahan itu sering disalahtafsirkan oleh sejumlah orang. Bahkan tak jarang hal itu sering pula dijadikan alat oleh ‘lawan-lawan politik’ atau pihak-pihak yang tidak menyukainya untuk ‘menyerang’ dan menyudutkannya.

Di tahun 1955, dalam kunjungannya ke Hawai, Amerika Serikat, Bung Karno mendapat sambutan yang meriah dan hangat. Carol Ah You, Miss University dari Hawai University, mengalungkan bunga lei ke leher Bung Karno. Tak cuma itu. Miss University yang cantik itu juga mendaratkan ciumannya yang mesra dan hangat ke pipi Bung Karno.

Bung Karno memang sempat terkejut dengan sambutan istimewa dari Miss Carol itu. Tetapi Laksamana Feit yang mendampinginya membisikkan agar ia membalas ciuman tersebut. Tanpa menunggu waktu lagi, Bung Karno pun membalas ciuman itu dengan mencium pipi Miss Carol. Dan, seusai memberikan sambutan, Bung Karno kembali mendapat ciuman dari Miss Carol. Bung Karno pun kembali membalasnya.

Peristiwa menarik itu pun menjadi santapan empuk para wartawan. Keesokan harinya, tidak hanya sejumlah media di luar negeri, terutama di Barat, tetapi juga beberapa media di dalam negeri telah menempatkan adegan ‘ciuman Bung Karno dengan Miss Carol’ itu di halaman depan dengan judul-judul yang bombas.

Simak juga:  Kisah Cinta Hartini dengan Bung Karno (1) : Berawal dari Pertanyaan “Siapa Namamu?”

Ny. Rochmuljati Hamzah, yang pernah menjadi press officer-nya Presiden Sukarno, di tahun 1986 pernah mengatakan kepada pers bahwa Bung Karno seseorang yang sangat suka menyenangkan wanita dan bisa menghargai wanita dari segala sudut.

 

Menyukai Keanggunan

Kepada majalah Pertiwi, di tahun 1986 itu, Ny Rochmuljati mengemukakan, gallantry Bung Karno lain sama sekali dari gallantry kaum feodal yang meski sopan dan santun terhadap wanita, seringkali tanpa sadar memperlakukan kaum wanita tidak manusiawi.

Penghormatan Bung Karno terhadap wanita tidak hanya yang dangkal-dangkal seperti membukakan pintu atau mempersilakan jalan lebih dulu, tetapi lebih merupakan penghargaan terhadap wanita sebagai manusia.

Bung Karno memang pengagum wanita yang menjaga keindahan dan menempatkan keindahan sebagai sesuatu yangt penting dan berharga di dalam kehidupannya sehari-hari. Oleh karenanya ia selalu memberikan perhatian kepada wanita-wanita yang selalu menjaga keanggunan dan keindahannya sebagai wanita.

Cinta adalah sesuatu yang sangat mendapat tempat berharga di hati Bung Karno. Atas dasar cinta itu pula ia kemudian menikahi Ny. Hartini di tahun 1953.

Pernikahannya dengan Hartini memang telah disambut dengan protes dan demonstrasi oleh banyak kaum wanita. Bahkan Ibu Fatmawati, yang merupakan Ibu Negara, meninggalkan istana sebagai ungkapan rasa kekecewaannya dengan pernikahan itu. Media-media pers oposisi menjadikan pernikahan Bung Karno dengan Hartini itu sebagai obyek pemberitaan yang tendensius dan menyudutkan.

Tapi Bung Karno tetap tidak menyurutkan langkah. “Kalau sekiranya demonstrasi ini menentang kebijaksanaan negara, aku segera mengambil tindakan. Akan tetapi ini ditujukan kepadaku pribadi. Sekalipun menyakitkan hati dan menyebabkan kemarahanku, aku tidak berbuat apa-apa. Aku tidak menyuruh mereka supaya tutup mulut, bahkan aku berusaha menahan perasaan supaya tidak melukai hati mereka di hari-hari selanjutnya,” ujar Bung Karno menanggapi aksi protes itu.

Simak juga:  Kisah Cinta Hartini dengan Bung Karno (3-habis) : Mau Dinikah, Asalkan Bu Fat Tetap First Lady

Ingin tahu apa alasan Bung Karno menikahi Hartini? “Dan mengpa aku mengawini Hartini? Alasannya sederhana saja. Alasan pokok yang telah berlaku sejak permulaan zaman yang akan tetap berlaku jauh sesudah aku tidak ada lagi; aku bertemu dengan Hartini. Aku jatuh cinta kepadanya. Dan percintaan kami adalah begitu romantis, sehingga orang dapat menulis buku tersendiri mengenai hal itu,” jelas Bung Karno seperti dituturkannya dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis Cindy Adams.

 

Kenangan dengan Rika

Kapan Sukarno jatuh cinta pertama kali kepada wanita? Perasaan cinta terhadap lawan jenis tumbuh di hati Sukarno remaja, ketika ia masih berusia 14 tahun. Dan, gadis pertama yang telah menambat cintanya adalah Rika Meelhuysen, gadis Belanda sebayanya.

Rika Meelhuysen juga tercatat sebagai gadis pertama yang dicium Sukarno, sekalipun ketika itu ia baru berusia 14 tahun. Kisah percintaannya dengan Rika begitu sangat berarti bagi Sukarno, walau percintaan itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Sukarno memang takut percintaannya dengan Rika itu diketahui oleh orangtuanya. Selain karena alasan masih kecil, alasan lain, ayahnya sangat membenci Belanda. Jadi, jangan harap ayahnya akan menyetujui hubungannya dengan gadis Belanda itu.

Di usia remaja, hari-hari Sukarno memang diwarnai kisah-kisah percintaan dengan gadis-gadis Belanda. Kisah cintanya yang romantis dengan Rika ternyata tidak berlangsung lama. Pisah dengan Rika, Sukarno menggandeng Pauline Gobee. Setelah Pauline Gobee, ia kemudian berpacaran dengan Laura. Sukarno sempat pula naksir salah seorang anak gadis keluarga Raat, tapi tidak kesampaian.

Ketika usianya 18 tahun, Sukarno berpacaran dengan Mien Hessels. Cintanya kepada Mien Hessels begitu besar. Bahkan ia bertekad untuk menjadikan Mien sebagai isterinya. Bagi Sukarno saat itu, Mien Hessels merupakan gadis terakhir dalam hidupnya. Mien adalah gadis yang dipilih untuk menjadi pendamping dalam hidupnya.

Simak juga:  Berbincang dengan Buku: Bung Karno dan Bung Hatta

Tapi keinginan Sukrno itu kandas. Ayah Mien murka besar, ketika suatu hari Sukarno datang dan melamar Mien. Ayah Mien mengusir Sukarno, seraya mengumpatnya sebagai inlander kotor yang tak tahu diri.

Kisah cinta Sukarno tak pernah berhenti sampai di situ. Saat usianya belum lagi 21 tahun, di tahun 1920 Sukarno menikah dengan Utari, puteri HOS Cokroaminoto. Ketika kulian di Bandung tahun 1923, ia kemudian menikah pula dengan Inggit Ganarsih.

Sewaktu menjalani masa pembuangan di Bengkulu, ia bertemu dengan Fatmawati dan menikahinya pada 1943, dan bercerai dengan Inggit Ganarsih. Lalu, pada 7 Juli 1953, ia menikahi Hartini, 3 Maret 1962 menikah dengan Ratna Sari Dewi, 21 Mei 1963 menikahi Haryati, dan di tahun 1965 menikahi Yurike Sanger. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVIII: Kemerdekaan, Demokrasi, dan Pancasila “Membudayakan Musyawarah Mufakat” Inspirasi Majapahit

Djoko Dwiyanto, Ketua Dewan Kebudayaan DIY Bentuk dan unsur-unsur negara kesatuan Republik Indonesia diyakini berurat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.