Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Sing Edan Bisa Dandan

Sing Edan Bisa Dandan

ZAMAN berputar. Cakra manggilingan, begitu orang Jawa mengatakan. Dunia tidak pernah berhenti. Sengsara akibat bencana alam, bencana kebijaksanaan semakin nyata. Tragedi menjadi-jadi. Manusia tak lagi percaya dengan sesamanya.

Seolah manusia lupa tujuan hidupnya. Yang dikejar adalah kekuasaan, dan kekayaan. Tak luput, agama digunakan sebagai wahana mencapai kekuasaan dan kekayaan. Dengan jalan apapun kekuasaan dan pengumpulan uang ditempuh.

Wong mangan wong., orang makan orang, sudah lumrah. Anak lali bapak, anak lupa orangtuanya, semakin biasa. Wong tuwa lali tuwane. Orang tua lupa ketuaannya, juga tidak lagi aneh. Dan itulah yang diramalkan para leluhur Jawa dalam Jangka Jayabaya.

Manusia semakin buta, meski melihat. Oleh karena itulah peringatan nenek moyang yang diwujudkan dalam jangka ini semakin penting untuk dicermati.

Orang tua sudah lupa akan sifat ketuaannya. Yang seharusnya sudah “mupus pepujan jati’ menjadi tempat bertanya anak cucu akan kehidupan yang baik dan benar justru sebaliknya masih mengejar dunia dengan jalan yang tak benar.

Sing edan bisa dandan– yang gila bisa berrias diri, Sing bengkong bisa nggalang gedhong. yang berjalan tak jujur, mampu membikin gedung.

Wong waras lan adil uripe kepencil.= orang jujur dan baik malah tersingkir =  Durjana saya ngambra-ambra.  penjahat semakin nekat,Wong apik saya sengsara. orang baik semakin sengsara.

Orang gila dimaksudkan tidak lagi memperhitungkan norma dan etika dalam mengejar barang dunia. Orang yang ‘bengkong’ artinya cara mengejar kebendaannya tidak jujur jadi kaya. Orang waras-baik dan adil biasanya hidupnya malah susah dan terpencil.

Uniknya lagi, Wong bener saya thenger-thenger.Wong salah saya bungah-bungah. , orang benar kebingungan, orang bersalah makin riang.

Memang di zaman seperti ini barang dan uang hilang tak keruan. Demikian pula kepangkatan dan drajad kemanusiaan tidak lagi mempunyai arti, lantaran digunakan mengejar hal-hal menyimpang dari jalur kebenaran.

Simak juga:  Bhatara Kala, Sang Penyebab Zaman Edan

Namun nenek moyang masih memberikan petunjuk bahwa Bejane sing lali, bejane sing eling. Nanging sauntung-untunge sing lali.Isih untung sing waspada. Angkara murka saya ndadi.

Masih untung yang ingat daripada yang lupa, tetapi lebih untung yang waspada akan kehidupan. Sebab angkara murka di dunia ini semakin merajalela. Hal ini membuat rakyat kecil jadi bingung. Tidak ada lagi panutan yang bisa dipegang. Teladan baik sudah sirna. Yang lebih berat lagi orang usaha jadi susah. Banyak halangan untuk berusaha. Sebab banyak pekerja menantang majikan. Dan majikan jadi umpan.

Dunia semakin tua dan semakin tak lagi mengindahkan kebaikan. Kelihatannya dunia sebagai semakin memburuk. Ini terlihat dari jangka selanjutnya yang mengatakan Wong ala diuja. Wong ngerti mangan ati. Bandha dadi memala. Pangkat dadi pemikat. Sing sawenang-wenang rumangsa menang. Sing ngalah rumangsa kabeh salah. ..Wong sing atine suci dibenci.

Orang jahat dibiarkan. Orang yang seharusnya tahu malah bikin kisruh. Orang-orang yang melek hukum yang diminta mengatasi masalah hukum di negeri ini semakin menggunakan kepandaiannya untuk bikin frustrasi rakyat kecil. Orang yang berkuasa makin merasa menang. Dan yang mengalah justru merasa serba salah. Orang-orang yang baik dan suci justru dibenci dan dijauhi. Zamannya memang baru begini.

Peringatan ini semakin membuat nyati jadi ciut lantaran Pitik angkrem saduwurane pikulan.Maling wani nantang sing duwe omah. Begal pada ndhugal. Rampok pada keplok-keplok.

Rakyat yang mengharapkan kebahagiaan, justru khawatir, karena ayam yang bertelur itu bertelur dan mengeram di ujung tanduk. Harapan rakyat pasti jauh panggang dari api. Zaman makin rusak. Pencuri kian berani melawan yang punya rumah. Harta rakyat disikat. Begal dan perampok makin merajalela. Dan perampok-perampok gembira berpesta pora.

Anehnya lagi di tengah-tengah kegembiraan dan pesta pora itu masih juga dilantunkan doa-doa keselamatan. Dan nenek moyang mengingatkan bahwa banyak orang menyalahgunakan doa. Akeh wong mendem donga. Kana-kene rebutan unggul. Angkara murka ngombro-ombro. Agama ditantang. Akeh wong angkara murka. Nggedhekake duraka. Ukum agama dilanggar. Prikamanungsan diiles-iles. Kasusilan ditinggal.

Doa hanya pelengkap seremonial.Di sana sini berebut keunggulan. Sebab angkara murka digelar di mana-mana. Agama ditantang. Kedurhakaan dibesarkan. Hukum agama dilanggar. Kemanusiaan dilanggar. Kesusilaan ditanggalkan.

Simak juga:  Zaman Edan

Nenek moyang prihatin sebab akhirnya orang Jawa yang sebenarnya mempunyai semangat baik , arif bijaksana serta meninggalkan diri dan menegakkan pribadi justru semakin langka. Tata Lahirnya saja orang Jawa tetapi semangatnya sudah bukan lagi orang Jawa. Oleh karenanya ditulis Wong Jawa kari separo, Landa-Cina kari sejodo. Akeh wong ijir, akeh wong cethil. Sing eman ora keduman.Sing keduman ora eman. Akeh wong mbambung. Akeh wong limbung. Selot-selote mbesuk wolak-waliking jaman teka.

Kelihatan zaman bukannya semakin membaik. Manusia dituntut tetap waspada akan datangnya zaman yang berubah. Sebab akhirnya manusia akan sadar bahwa yang “salah bakal seleh”. Dan akhirnya yang benar akan tetap benar. Yang putih akan tetap putih.

Kawruh Bangunjiwa mengedepankan piwulang, ‘tuwa pan wus pantes, kalamun pupuse tansah ngengidung pepujan jati, karana wus lerem kerem ing reh rahayu’. Tua seharusnyalah senantiasa mengedepankan kearifan Ilahi, karena senang dalam ulah kebatinan yang mengarah kepada kelestarian. “Kalamun pupuse wus tumelung, tumuli ngalami alum, tumungkula kanthi alim, paniku sinebut sepuh, garis wates pepancening gusti pinasthi”. Kalau umur sudah senja, bergegaslah untuk sadar dan insyaf karena sudah garis Tuhanlah bahwa manusia harus mati. “Tuwa hawya kongsi tiwas hangudi nggayuh utama, kang supadi sinupeket ing pamitran, margane antuk pangapura“. Tua jangan sampai lelah memburu keutamaan, mencari sahabat, karena itulah jalan mendapatkan maaf. (Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

Zaman Edan

Dalam beberapa tahun terakhir ini kita terlalu sering mendengar dan membaca tentang apa yang disebut …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *