Selasa , 13 November 2018
Beranda » Sastra » Serat Wulang, Karya Sastra Sejati

Serat Wulang, Karya Sastra Sejati

Sri Paku Buwana IX. (Ft: Wikipedia.org)

 

PARA pujangga sudah lama pergi dan tak pernah muncul lagi. Penggantinya kini para penulis syair dan penulis prosa, penulis angan-angan serta penulis mimpi-mimpi. Karenanya jagad kesusastraan kita tak lagu punya karya sejati atau sastra sejati. Sastra sejati sudah lama hilang, yang tinggal kini hanya sastra mimpi.

Sastra mimpi, inilah jenis sastra yang dari tahun ke tahun tidak henti-hentinya merasuki pikiran dan mengharubiru perasaan kita. Membuat kita terlena, dan terbuai angan-angan, imajinasi serta hanyut dengan beragam cerita kehidupan manusia. Ada cerita tentang kekerasan, ketakberdayaan, kebimbangan, kepedihan dan lainnya.

Dalam kondisi kehidupan yang sarat ‘ketakberdayaan’ dan ‘hiruk-pikuk’ ini, alangkah damainya bila kita dapat kembali menemukan sastra sejati, karya sastra yang sarat dengan ajaran-ajaran kehidupan. Menunggu karya sastra sejati kembali muncul mewarnai jagad kesusastraan kita, rasanya adalah sesuatu yang musykil, karena para pujangga tak pernah datang lagi. Dan, apa yang bisa kita lakukan sekarang adalah membangun dan mengembangkan motivasi untuk kembali membaca serta menyimak karya-karya sastra sejati warisan para pujangga.

Salah satu karya sastra sejati yang pantas untuk kita baca ulang, adalah Serat Wulang Dalem Ingkang Sinuhun Paku Buwana IX. Karya SDISKS Paku Buwana IX yang menjadi raja di Surakarta pada 1862 sampai 1893 ini sarat dengan ajaran tentang etika dan nilai-nilai moral dalam kehidupan. Sastra sejati ini meskipun ditujukan kepada putra-putrinya, tapi sebenarnya mempunyai arti yang sangat luas dan universal. Di dalamnya sarat dengan pesan, petuah dan pedoman bagi calon pemimpin, tentang sikap dan perilaku wanita, tentang kesempurnaan hidup dan lainnya.

 

Untuk Calon Pemimpin

Kepada calon pemimpin misalnya, diingatkan bila menjadi pemimpin agar senantiasa memperhatikan nasib rakyat, dan tidak hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri saja. Kesejahteraan rakyat harus diutamakan. Tidak mengejar harta kekayaan, tetapi juga tidak melupakannya. Intinya, seorang pemimpin harus bekerja dan berjuang demi rakyatnya. Harus dekat dengan rakyatnya, bila ingin dihormati dan disanjung rakyat. Sedang kepada kaum wanita, terutama wanita yang sudah berkeluarga, Serat Wulang Dalem Ingkang Sinuhun Paku Buwana IX yang naskah aslinya tersimpan di  Sonopustaka Keraton Surakarta ini mengajarkan tentang tugas dan kewajiban seorang isteri terhadap suami dan rumahtangganya.

Simak juga:  Serat Sabdojati, Piwulang Sangat Berharga

Ada empat hal penting yang ditekankan oleh SDISKS Paku Buwana IX tentang tugas dan kewajiban seorang isteri itu, yakni – tertib, teliti, titis dan setya. Tertib, artinya seorang isteri harus bisa menata dan mengatur rumah dengan baik, merawat diri sehingga sang suami selalu tertarik, bersikap ramah dan selalu tersenyum kepada suami, sehingga suami merasa senang dan damai bila berada di dekat isterinya.

Teliti, artinya seorang istri harus pandai dan cermat dalam menata dan mengatur kebutuhan rumahtangganya. Titis, artinya harus pandai dalan menata dan mengatur pengeluaran keuangan dan lain-lainnya. Setya (setia), artinya seorang istri harus setia kepada suaminya dan senantiasa berusaha menjaga keharmonisan di dalam rumahtangganya.

Sastra sejati karya SDISKS Paku Buwana IX memang sarat dengan ajaran-ajaran sejati tentang kehidupan. Ajaran-ajaran atau petuah-petuah kehidupan yang sampai kapan pun rasanya masih tetap relevan, walau mungkin ada sebagian kecil yang memerlukan penyesuaian dengan kondisi dan perkembangan zaman.

Di tengah-tengah kehidupan yang ‘hampa’ sekarang ini, alangkah damainya bila kita kembali membaca dan memahami sastra sejati yang sarat dengan ajaran tentang nilai-nilai kesempurnaan kehidupan. Dan, Serat Wulang Dalem Ingkang Sinuhun Paku Buwana IX  ini hanyalah salah satu dari sekian banyak sastra sejati yang bertaburan di khasanah lama kesusastraan kita.

Sekarang, marilah kita kembali mencintai dan menghargai sastra sejati karya sang pujangga! *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Mengenang Rendra di Sastra Bulan Purnama

Kali ini, Sastra Bulan Purnama 85 akan diisi untuk mengenang Rendra, seorang penyair dan aktor …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.