Beranda » Sastra » Serat Sabdojati, Piwulang Sangat Berharga

Serat Sabdojati, Piwulang Sangat Berharga

RADEN Ngabehi (R. Ng.) Ronggowarsito merupakan sastrawan dan pujangga besar Jawa, yang dikagumi dan dihormati masyarakat Jawa hingga hari ini. Pujangga besar yang hidup pada masa keemasan Keraton Surakarta tersebut telah meninggalkan ‘warisan piwulang yang sangat  berharga’. Warisan berharganya berupa sejumlah karya yang memiliki nilai dan capaian estika sangat menakjubkan.

Serat Sabdojati merupakan salah satu dari sejumlah ‘warisan piwulang berharga’ dari pujangga yang terlahir dengan nama kecil Bagus Burham pada tahun 1728 J atau 1802 M itu. Sebagai seorang intelektual terkemuka di zamannya,  Ronggowarsito telah menulis banyak hal tentang perilaku dan tatanan kehidupan manusia, maupun hubungan manusia dengan Tuhan.

Serat Sabdojati hingga hari ini tetap merupakan ‘piwulang yang sangat berharga’ bagi setiap manusia yang ingin meraih keberhasilan dan kedamaian dalam hidupnya. Bila ingin berhasil dalam kehidupan, selain senantiasa mendekatkan dan memasrahkan diri kepada Allah, juga harus melakukan langkah-langkah yang positif dan bermanfaat bagi kehidupan sesama.

Cobalah simak, terjemahan beberapa bait syair Serat Sabdojati yang sarat dengan ‘piwulang berharga’ itu.

 

           Jangan berhenti selalulah berusaha berbuat kebaikan,
           agar mendapatkan kebahagiaan serta keselamatan dan tercapai semua
           yang dicita-citakan, terhindar dari perbuatan yang merugikan,
           caranya suka melakukan langkah prihatin.

           Dalam menjalani hidup prihatin ini pandanglah dengan seksama,
           introspeksi, telitilah jangan sampai salah, endapkan di dalam hati,
           agar mudah menanggapi sesuatu.
 

           Usahakanlah untuk senantiasa mendambakan kebaikan,
           mengendapkan pikiran, dalam mawas diri sehingga seolah-olah hati ini
           kosong namun sebenarnya akan menemukan cipta yang sejati.
 

          Semuanya itu haruslah dijalankan dengan penuh kesabaran.
          Sebab jika bergeser (dari hidup yang penuh kebajikan)
          akan menderita kehancuran. Kemasukan setan gundul,
          yang menggoda membawa kendi berisi uang banyak.
 

          Bila terpengaruh akan perbuatan yang merugikan,
          sudah pasti akan menjadi sarang iblis, selalu mendapatkan
          kesulitas-kesulitan, kerepotan-kerepotan, tidak dapat berbuat dengan itikad
          hati yang baik, seolah-olah mabuk kepayang.
 
 

          Apabila sudah terlanjur begitu maka tidak akan tertarik terhadap
          Perbuatan  yang menuju kepada kebajikan. Semua yang baik-baik akan
          pergi dari  dirinya, sebab sudah diliputi perbuatan dan pikiran buruk.
          Sudah melupakan Tuhannya. Ajaran-Nya sudah musnah berkeping-keping.
 

Enam bait dari syair Serat Sabdojati tersebut sudah cukup membuktikan, bahwa karya Ronggowarsito ini tidak hanya berguna bagi masyarakat di zamannya, tapi tetap merupakan petunjuk berharga di masa kini. Serat Sabdojati ini sarat dengan ajaran moral yang menuntun manusia untuk melakukan langkah-langkah kebajikan di dalam hidupnya.

Serat Sabdojati ini telah mengingatkan manusia, apa pun status sosialnya, bisa rakyat jelata, petani, pedagang, guru, pegawai pemerintahan, pejabat negara, atau anggota legislatif, untuk selalu introspeksi, mawas diri, berhati-hati, penuh kesabaran, selalu mengendapkan pikiran, dan senantiasa melakukan kebajikan dalam menjalani hari-hari kehidupannya. Semua ini perlu dilakukan bila ingin berhasil dalam kehidupan.

Terlebih di masa seperti sekarang ini, di mana dalam menjalani kehidupannya, manusia dihadapkan pada tantangan dan godaan kehidupan yang begitu dahsyat. Godaan kehidupan yang senantiasa penuh daya tarik dan pesona teramat kental dengan persoalan duniawi. Godaan kehidupan yang membuat manusia lupa bahwa sejatinya manusia tak hanya hidup di dunia, tapi kelak juga akan menjalani ‘kehidupan’ yang kekal di akhirat.*** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Meningkatkan Pendidikan Perkuat Kebudayaan

KETIKA bangsa Tionghoa ingin hidup tenang, mereka membangun tembok Cina yang sangat tinggi besar dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *