Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Semar Sebuah Pendewasaan Diri

Semar Sebuah Pendewasaan Diri

SEMAR dikenal sebagai tokoh khas Indonesia, khususnya Jawa. Menurut Sultan Agung Hanyokrokusumo dalam karya ‘Sastra Gendhing’ menyebutkan Semar sebagai perwujudan 20 huruf Jawa. Secara lugas Sastra Gendhing memuat “Kawuri pangertine Hyang, tuduhira sastra kalawan gendhing, sokur yen wus sami rujuk, nadyan aksara Jawa, datan kari saking gendhing asalipun, gendhing wit purbaning kala, kadya kang wus kocap pinuji… Manikmaya kang ngelmi

Bahwa Pemusatan dari Hyang, petunjuknya berupa sastra sariat dan bunyi gendhing ma’rifat. Jika telah disepakati, meski huruf Jawa tidak meninggalkan bunyi gendhing asalnya, bunyi.

Gendhing sejak zaman purba, seperti telah diucapkan terdahulu, seperti halnya sastra yang dua puluh merupakan pemula untuk mencari kebenaran, yang merupakan petunjuk makna puji serta puji kepada sumber dari segala yang hidup, memberikan ajaran akadiyat berupa ‘hanacaraka’. Sedang ‘datasawala’ berarti yang dipuji.

Wadat sejati yang dirasakan berupa ‘padhajayanya’ menyaksikan bahwa yang memberi dan yang diberi petunjuk sama tegak kuat. Tujuannya adalah mendukung tegaknya akadiyat, sedang magabathanga berari menjadi nyata, anasir sejati.

Tanda Manikmaya terlihat juga sudah nyata pengetahuan akan tujuan yang sesungguhnya, itulah akhir petunjuk: Manikmaya adalah tiada-<I>suwung<P>, laksana bersatunya hati dengan alam, itulah saat mulai ada akal, dan adalah akhir daripada Hyang Maha Manik.

Kegaiban awal Hyang Manikmaya tak dapat diramu atau diungkap, tiada awal, tidak ada tempat, tiada arah dan akhir, sembahnya melebur ke dalam rasa penglihatan tajam bagaikan pucuk manikam, jernih tembus tak bertepi.

Begitulah Sultan Agung membeber soal Semar yang berkaitan dengan samar-suwung, Sang Taya, awal dan akhir tujuan kehidupan.

Dengan kata lain bila kita melihat sebuah pagelaran wayang kulit akan terlihat jelas peran Semar dalam keseluruhan cerita. Semar biasanya muncul di tengah pertunjukkan sebagai penyejuk suasana yang panas. Semar muncul saat     gara-gara.       Gara-gara terjadi pada saat akil balik.

Secara mikro, Semar merupakan ilmu pendewasaan diri orang perseorangan dalam kesadarannya tentang hidup. Awal dan akhir manusia merupakan sebuah perenungan. Pada akhirnya manusia harus menyatukan langkah, tindak dan kata, keselarasan jiwa-badan yang membuat hati tenang. Kemunculan Semar membawa kesejukan. Kesadaran orang akan pencipta menyinari tindak keselarasan dengan alam dan lingkungan serta sesamanya. Di sinilah letak inti pemahaman ajaran filsuf besar Jawa Sultan Agung, yakni menyelaraskan kehidupan jiwa badan, manusia-Tuhan, manusia-manusia, dan manusia beserta lingkungannya.

Semar ditangkap berbeda satu sama lain seturut cakrawala pandang orang per orang. (Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

Jiwa Jawi Menjawab Kerinduan Barat

PASCA revolusi industri yang terjadi di Barat, masyarakatnya kehilangan pola pikir spiritual. Umumnya mereka berlomba …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *