Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Peristiwa » Diskusi Kebangsaan VII: Semangat Kebangsaan Kedepan Penuh Tantangan
Dr Sri Nurhartanto SH LLM (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan VII: Semangat Kebangsaan Kedepan Penuh Tantangan

Oleh: Dr Sri Nurhartanto SH LLM

TERUS terang ketika rekan-rekan The Yogyakarta Senior Journalist (PWSY) ketemu saya menyampaikan idenya, saya menyambut gembira, karena persoalan kebangsaan kita, dan multikulturalisme sempat goyang. Namun, pada saat yang sama kita memasuki dan merayakan Indonesia merdeka yang ke-72, saya menangkap spirit yang luar biasa. Dari berbagai lapisan bangsa Indonesia sendiri mulai tumbuh kembali gelora arti penting hidup berbangsa dan bernegara, terutama menghormati multikulturalisme. Para blantik sapi pun yang menggelar dagangannya, untuk jualan Idul Qurban, mereka menggelar upacara bendera dulu, hebat kan. Ini sebuah fenomena yang 15, 16 tahun pasca reformasi tidak pernah saya jumpai. Tahun ini menjadi titik balik yang luar biasa.

Menurut hemat saya, festival pemilihan gubernur DKI yang terakhir inilah yang menjadi pemicu tumbuhnya kesadaran berbangsa dan bernegara. Bagaimana isu SARA dimainkan sedemikian rupa oleh kelompok-kelompok tertentu untuk mendukung pasangan tertentu, menjatuhkan pasangan incumbent. Sungguh sangat mengagetkan survei membuktikan 70% responden menyatakan puas terhadap kinerja Gubernur dan Wakil Gubernur, hasilnya, kenapa bisa tidak terpilih.

Karena salahnya Gubernur incumbent, dia menyandang 2 dosa besar, ini saya sampaikan langsung ke beliau, dosa anda 2 Mas, apa Pak? Satu sampeyan Cina, dua anda beragama Kristen. Sudah itu saja. Coba anda Muallaf, kejadiannya lain. Betul begitu, mumpung ada sahabat saya, rupanya itu masih menjadi hantu di warga Indonesia. Bangsa Indonesia masih tidak rela dipimpin oleh kelompok minoritas. Inikah Indonesia yang dicita-citakan Bung Karno, the foundhing father kita, mau Wachid Hasyim, Abikusno Cokroaminoto, dan lain sebagainya, yang sudah sepakat ini dasar negara kita, rumah kita bersama, Indonesia yang plural, yang majemuk, yang multikultur.

Rupanya kemudian berbalik arah, saya selaku orang beragama, agama saya juga mengajarkan, campur tangan Tuhan pada saat-saat tertentu bagi bangsa Indonesia pasti akan tiba. Pasca sebelumnya, pasca reformasi telah kehilangan kendali, setelah Pak Harto pada tanggal 21 Mei 98 mengundurkan diri, itu kita kehilangan kendali. Bangsa Indonesia ini mau kemana. Muncullah paham-paham impor, asal berani memaksakan kehendak wis pokoke dapat tempat, termasuk munculnya kelompok-kelompok garis keras, radikal yang ingin membawa budaya Arab, Indonesia akan diarabisasi. Kalau sudah merasa ngomong Arab-Arab sithik merasa Islam banget dan mengkafir-kafirkan yang lain. Ini pengalaman, ketika dalam sebuah forum, saya yang memimpin, dalam pemilihan itu ada yang  mengatakan kalau saya tidak mau dipimpin oleh orang kafir, waduh, saya tersinggung. Dul, saya panggil dia, siapa yang anda maksudkan kafir? Karena saya pegang mick, lho terus terang, apakah yang anda maksudkan saya? Saya punya agama, nama baptis saya Gregorius. Saya punya kitab suci, nabimu karo nabiku iku padha. Bahkan nabi junjunganku yang paling tinggi yang saya sebut juru selamat, di tempatmu dimuliakan, jelaskan pada saya, sing kok maksud kafir kuwi sapa? Dia langsung diam, terus minta maaf  ke saya, . Saya tersinggung, bahkan pernah dalam sebuah forum orang pernah mengatakan darahnya Pak Nur itu halal lho. Kakek saya itu adalah haji di Kabupaten Grobogan Purwodadi. Sungguh, bapak saya agamanya tidak jelas banget, ibu saya Katholik. Anak-anak dibebaskan. Bapak selalu menyekolahkan di sekolah Katholik, begitu anak-anaknya sudah nalar, beragama terserah pilihannya. Bapak Ibu pasti akan mendukung. Maka sampai hari ini kakak saya ada yang muslim, adik saya ada yang haji, saya Katholik, adik dan kakak lain Katholik, maka kalau kami kumpul merayakan hari raya padha wae, anak-anak yang seneng, dhuwite okeh, kan nikmat toh? Kita ini Indonesia kok. Bahkan sampai hari ini istri saya itu saya gedheg-gedheg, setiap lebaran saya pasti merebus ketupat, ini bukan Islam, ini adalah hari raya Bangsa Indonesia. Biar anak-anak tidak lolak-lolok, plongah-plongoh, tanggane gawe kupat kok awake dhewe ora gawe. Saya terus membiasakan bersilaturahmi, begitu selesai sholat Idul Fitri, bahkan ketua FKU DIY sahabat saya.

Simak juga:  Pra Diskusi Kebangsaan 7

Bung Karno dengan jiwa kenegarawanan dan lain-lainnya sudah mengatakan final, NKRI, dasarnya Pancasila, dan Ibu Bapak harus pirsa ya sejarahnya Bung Karno itu tidak lepas dari pembuangan Bung Karno di Ende, Flores, dan beliau selalu duduk termangu di bawah pohon sukun dan cabangnya lima, dan itu ngayomi terus Bung Karno terus mengalami kesejukan dan berpikir, merenung, merenung dan perjalanan paksa, dan akhirnya Bung Karno banyak bersahabat juga dengan pastur-pastur di Flores yang sudah masuk sejak dahulu kala, ada Lambertus, dan sebagainya. Tetapi tidak mengurangi keislaman Bung Karno. Bung Karno justru sering datang ke biara, belajar di perpustakaan biara, dan juga di sana ia memperdalam agama Islam, dan dia selalu berkorespondensi dengan sahabatnya, seorang Islam yang turunan India masuk Islam reformis yang disebut Abdul Nasani dan kemudian Bung Karno membukukan tulisan-tulisannya dalam surat-surat Islam dari Ende. Bayangkan betapa indahnya, betapa harmoninya pada saat itu. Saya berteman dengan kiai, termasuk tokoh Islam ini, intelektual Islam muda, Zuliqodir, tokoh Islam? Hahaha…pandangan-pandangannya itu saya suka, moderat, ya itulah Indonesia masa depan itu ya gini, orangnya moderat-moderat, omong ya ceplas-ceplos ning bener ra ngapusi. Disajikan dengan pemikiran-pemikiran yang sepuh-sepuh kayak Pak Idham, wartawan-wartawan sepuh. Nah peristiwa pilkada DKI kemarin betul-betul menjadi titik balik yang luar biasa.

Kesadaran akan arti penting We are Indonesian, satu untuk semua, semua untuk satu, semua untuk semua. Bung Karno sendiri sudah menegaskan, dan kita tidak boleh kalah dengan kelompok-kelompok tertentu yang memaksakan kehendak seperti itu. Memang saya memandang ada yang berbeda dari tokoh-tokoh nasional kita, sebelum kemerdekaan dan setelah reformasi. Sebelum kemerdekaan, mereka saling asih, asuh, dan asah, saling tepa slira, saling gotong-royong demi Indonesia yang satu. Tetapi pasca reformasi, yang penting kelompokku dulu, yang penting golonganku, tanpa malu-malu. Nah ini sebuah tantangan besar, apalagi dengan radikalisme berkembang subur di Indonesia, maka kalau ditanya orang-orang, pandangan Bapak terhadap RUU No 2 tahun 2017 bagaimana, saya dukung. Ini penting, karena Indonesia itu multikultur. Indonesia terdiri dari 1.700 berapa suku , kalau saya mengacu pada Walles  kita itu hanya ada sekitar 600 sekian lebih, tetapi masing-masing punya tradisi, punya budaya bahkan punya agama, meskipun belum diakui negara secara formal, yang mana masing-masing itu punya kesederajatan, itu ciri masyarakat yang multikultur, maka saya mohon maaf ini sering juga saya membela temen-temen saya yang Tionghoa, sumbangan Tionghoa itu bagi negara kita itu apa? Mung dagang wae. Lho itu kan politik yang diterapkan oleh Presiden ke-2, di eranya Bung Karno tidak. Semua memiliki kesederajatan. Gak peduli Batak, gak peduli Tionghoa, dan sebagainya, tapi di era baru kan lain, apalagi di era pasca G 30 S PKI, yang dianggap pemberontakan PKI itu tidak lepas dari campur tangan Republik Rakyat Tiongkok. Dengan teman-teman Cina kadang-kadang saya ngomong, dasar kowe kuwi Cina pokil tenan, mereka biasa tidak tersinggung. Wah kalau ditanggapi di era sekarang pelecehan, dulu biasa saja. Dan itu penting untuk terus dipupuk

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan VII: Kebangsaan, Pancasila dan Keberagaman

Semangat kebersamaan yang digaungkan, pada72 tahun Indonesia merdeka ini, saya merasakan lagi orang berani lagi menyuarakan kebenaran. Muhammadiyah berani dan pagi ini juga didukung dengan sikap tegas Bapak Presiden kita Bapak Jokowi, klemak-klemek begitu tetapi ibarat pemain catur dia ini punya strategi yang luar biasa. Ada seolah-olah langkah mundur tapi kemudian ster atau menteri itu, apalagi kudanya, bentengnya lalu skak mati, keok. Didukung Panglima TNI dan Kapolri yang dia mengatakan akan selalu menindak tegas setiap upaya-upaya pemaksaan untuk mengganti ideologi bangsa. Maka kalau Pak Idham tadi juga menegaskan bahwa PDI P akan selalu menjadi garda terdepan dan benteng Pancasila, saya yakin mayoritas bangsa Indonesia sudah sama. Dan saya terus terang sangat senang kalau ada diskusi-diskusi kebangsaan apalagi menggelorakan nasionalisme, ini penting bagi kita.

Oleh karena itu nilai-nilai asli bangsa Indonesia mau gotong-royong, tepa slira, asih-asah-asuh ya, sejak kecil harus diajarkan, kalau tidak ya tidak mengerti, karena ciri Indonesia adalah begitu. Kalau bangsa Indonesia bisa menghayati sedemikian rupa, dalam berbangsa, dalam bermasyarakat multikultur itu yang tidak ada perbedaan mayoritas minoritas, semua diperlakukan sama, semua dilakukan sederajat.

. Di Inggris kita bisa melihat Walikota London, Khan, itu keturunan India Pakistan, dia muslim, dipercaya mimpin kota London. Bayangkan, dan baik-baik saja, tidak masalah, tidak pernah ditanya agamamu apa, dan seterusnya. Yang penting dia kerja, kerja, dan kerja. Buktikan bahwa saya betul-betul mengabdi untuk negara, mengabdi untuk rakyat. Kalau semua pemimpin seperti itu, ya nyaman, tidak membuat statemen-statemen yang justru memperkeruh suasana. Sungguh, saya kecewa dengan beberapa kolega di DPR, apalagi yang duduk di pimpinan, omong apa kayaknya tidak pernah dipikir, partainya saja sudah tidak mengakui dia, kok ya masih, heran saya.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan VII: Pancasila adalah Spirit Dekoloninasai

Saya mengingatkan bahwa tantangan kita ke depan itu masih berat. Upaya-upaya untuk membuka dan menggali ideologi Pancasila harus terus dilakukan. Termasuk yang sekarang sangat memprihatinkan adalah penggunaan teknologi komunikasi khususnya di jejaring media sosial, sungguh itu sangat bahaya. Saya bacakan saja supaya tidak keliru,  menurut sebuah penelitian, pengguna media sosial, pengguna aktif di Indonesia itu sekarang untuk jejaring sosial, itu mencapai 111 juta. Dan tercatat sebagai pengguna terbesar ke-4 di dunia. Kemudian pengguna twitter, itu lebih dari 50 juta dan jumlah twit yang dihasilkan mencapai 6,1 milyar. Pengguna internet mencapai 132,7 juta, sekitar 52 persen dari penduduk Indonesia. Jumlah pelanggan telpon seluler mencapai 282 juta atau 13 persen lebih banyak daripada penduduk Indonesia. Artinya itu Bapak Ibu saudara-saudara pasti ada yang nomornya lebih dari satu. Ngaku saja, yang satu untuk yang di sana, yang satu untuk di sana. Bahkan melihat situasi yang berkembang, kementerian koordinator Kemenkominfo, Kementerian Komunikasi dan Informasi sampai sejauh ini sudah memblokir hampir 800 ribu situs, yang berkaitan dengan pornografi, SARA, radikalisme, kekerasan pada anak dan lain-lain. Kita tidak mungkin melangkah mundur.

Tantangan jelas ada di depan kita. Maka saya menghimbau, minimal Bapak Ibu di ruangan ini harus menjadi insan-insan bangsa yang cerdas. Dalam mensikapi, menerima informasi yeng berkembang melalui jejaring media sosial. Kalau misalnya kalau itu tidak benar ya jangan diteruskan. Bahkan langsung ingatkan teman yang ngirim, mohon dicroscek dulu. Jangan sampai menimbulkan kejadian. Dan berkat adanya media sosial tersebut, bangsa Indonesia yang dulu terkenal pendiam, tidak mau menyampaikan ide atau gagasannya, sekarang dikenal sebagai bangsa yang teraktif di dunia, yang menyuarakan ide-idenya. Ya kalau benar, kalau tidak. Nah ini tantangan real yang harus dihadapi, maka kita jangan malu-malu, kalau tidak paham dengan teknologi ya kita bertanya kepada yang muda, pada adik-adik, anak-anak kita. Saya itu sering bertanya pada anak saya,” wis Bapak kuwi desa banget, ya wis ra papa”, karena dari desa ini saya belajar. Kalau kita ndak tahu, wah repot nanti ya. Kita harus tahu jogetan masyarakat Indonesia itu seperti apa. Demikian, pokok-pokok yang dapat saya sampaikan, terimakasih, waktu saya kembalikan.

 

*) Dr Sri Nurhartanto SH LLM adalah rektor Atmajaya Yogyakarta

Lihat Juga

Malam 7 Tahun Sastra Bulan Purnama Puisi Tidak Berhenti Dibacakan

Puisi seringkali dibacakan dibanyak tempat, untuk mengisi acara tertentu, atau malah untuk lomba baca puisi. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.