Selasa , 13 November 2018
Beranda » Humaniora » Satu Suro, Cara Sultan Agung Padukan Islam ke Religi Jawa
Topo Bisu Mubeng Beteng Malam 1 Suro (ft.net)

Satu Suro, Cara Sultan Agung Padukan Islam ke Religi Jawa

TAHUN baru Hijriyah (Islam) dan tahun baru Jawa selalu datang bersamaan. Kedatangan tahun baru Hijriyah tentu saja disambut dan dirayakan oleh segenap umat Islam. Sementara masyarakat Jawa yang masih kental dengan budaya dan religi Jawa-nya menyambut dan merayakan kedatangan tahun baru Jawa pada malam tanggal 1 Suro, sebagai awal bulan Jawa.

Tahun baru Jawa yang dikenal dengan sebutan Kalender Sultan Agung, merupakan perubahan dari kalender Jawa sebelumnya, yakni Kalender Saka. Kalender Saka merupakan warisan zaman Hindu-Buddha, yang dimulai pada tahun 78 Masehi. Konon. Tahun Jawa dengan Kalender Saka dimulai dari datangnya seorang tokoh yang bernama Ajisaka di Pulau Jawa. Ajisaka adalah seorang tokoh mitologi Jawa, yang dipercaya sebagai pencipta huruf Jawa: ha na ca ra ka.

Tetapi ketika Sultan Agung Anyakrakusumo bertahta di Kerajaan Mataram, tahun Jawa dengan perhitungan atau Kalender Saka itu digantinya dengan perhitungan tahun Hijriyah (Islam). Sultan Agung memang dikenal sebagai seorang raja yang keyakinannya terhadap Islam begitu kuat dan kental. Ia berkeinginan semua hal yang berhubungan dengan perilaku orang Jawa selalu terikat atau dekat dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam.

Karena itulah, ia kemudian membuat dan menetapkan kalender Jawa yang baru, yang dimulai pada 1 Suro tahun Alip 1555, atau bertepatan persis dengan 1 Muharram 1043 Hijriyah. Penentuan tahun baru Jawa Kalender Sultan Agung itu diberlakukan mulai 8 Juli 1633 Masehi. Dengan penentuan tahun baru Jawa oleh Sultan Agung itu, maka tahun Jawa Kalender Saka berakhir di tahun 1554.

 

Karya Monumental

Tahun baru Jawa yang dimulai pada tanggal 1 Suro 1555 itu merupakan salah satu karya besar Sultan Agung yang masih bertahan hingga hari ini. Bagi sejarah perkembangan Islam di Jawa, tahun baru Jawa Kalender Sultan Agung dipandang sebagai salah satu karya monumental dalam dakwah dan syiar Islam. Kalender Saka yang dijadikan pegangan masyarakat Jawa sebelumnya, mengikuti sistem perjalanan matahari mengitari bumi (Syamsiyah). Sedangkan Kalender Sultan Agung mengikuti sistem perjalanan bulan mengitari bumi (Komariyah)., seperti halnya Kalender Hijriyah.

Simak juga:  Berharap di Bulan Jawa Sura Dal

Langkah Sultan Agung merubah tahun Jawa yang disamakan dengan tahun Hijriyah jelas merupakan salah satu cara dakwahnya sebagai seorang raja di Tanah Jawa dalam menyebarluaskan ajaran Islam. Di samping sebagai upayanya untuk memperkenalkan lebih dalam lagi beragam pengetahuan tentang Islam ke dalam sikap, perilaku, budaya dan religi masyarakat Jawa yang ada di masa itu.

Lebih dari itu, dengan Kalender Jawa yang diawali pada 1 Suro, Sultan Agung ingin memadukan dan mempertemukan tradisi dan religi Jawa dengan nilai-nilai serta prinsip-prinsip ajaran Islam yang sebelumnya telah dikembangkan oleh Wali Sanga secara luas di Jawa. Maksudnya tentu, sekalipun orang Jawa telah banyak yang meyakini Islam sebagai agamanya, tetapi nilai-nilai ajaran dan budaya Jawa yang adiluhung itu tetap ada di dalam kehidupannya.

Sultan Agung sangat menyadari, selain sebagai raja di Mataram (Jawa), dirinya juga menyandang gelar sebagai Sayidina Panata Gama Kalifatullah ing Tanah Jawi. Dengan gelar itu, selain bertanggungjawab terhadap kelangsungan pemerintahan di Kerajaan Mataram, ia juga bertanggungjawab terhadap penyebaran dan perkembangan agama Islam di Jawa. Kebesaran dan kejayaan Islam di Jawa, juga berada di tangannya. Karena itu ia senantiasa melakukan berbagai cara dalam mengembangkan syiar Islam kepada masyarakat di Jawa, dan salah satu di antaranya dengan merubah tahun baru Jawa menjadi sama dengan tahu Hijriyah. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Komda Lansia DIY Salurkan Air Bersih untuk Desa Tileng

20 Tangki Air Bersih untuk Desa Tileng, Kecamatan Girisubo Gunung Kidul dari Komda Lansia DIY …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.