Rabu , 21 November 2018
Beranda » Sastra » Sastra (Puisi) Tanpa “Kelas”

Sastra (Puisi) Tanpa “Kelas”

CHAIRIL ANWAR, penyair yang dibanggakan hingga hari ini itu, semasa jayanya dulu sempat melontarkan kata-kata: “Yang bukan penyair, tidak ambil bagian.” Kata-kata ini dulu memiliki kekuatan yang terasa dahsyat. Terasa begitu hebat. Begitu kuat. Begitu membius. Begitu mensugesti.

Kata-kata Chairil Anwar ini telah mengesankan dunia kepenyairan merupakan suatu kawasan ekslusif, kawasan tersteril yang tidak semua orang begitu saja leluasa masuk ke dalamnya. Hanya orang-orang terpilih yang bisa masuk dan terlibat, yakni orang-orang yang sudah ditasbihkan jadi penyair, layak disebut penyair, atau pun direkomendasikan menjadi penyair. Jadi, tidak semua orang dengan mudahnya bisa menyandang gelar penyair, atau diberi predikat penyair.

Diakui atau tidak, realitanya ada sejumlah pihak yang seakan-akan memang memiliki hak atau berkompeten untuk mentasbih seseorang jadi penyair, menyebut dan memberi predikat penyair. Pihak-pihak itu antara lain, redaktur atau editor majalah sastra, redaktur halaman sastra dan budaya pada koran-koran (surat kabar) dan majalah umum, kritikus-kritikus sastra, serta (jangan lupa juga) ‘sindikat-sindikat’ sastra.

Jalan untuk menuju ke singgasana penyair tidak mudah. Penuh tantangan. Penuh perjuangan. Medannya berat. Berliku. Pendek kata, untuk sampai ke kursi penyair, harus bekerja keras,  berpeluh-peluh, bersusah-susah, atau bahkan ‘berdarah-darah’.

Sekadar gambaran, untuk mendapat pengakuan atau predikat penyair itu haruslah terlebih dulu mengirimkan karya-karya puisinya di majalah-majalah sastra atau majalah umum, maupun rubrik-rubrik sastra di koran-koran dan sejenisnya. Nasib para pengirim puisi itu di tangan redaktur. Padahal, subyektivitas redaktur itu juga sangat berperan dalam meloloskan atau memuat karya-karya puisi tersebut di medianya.

Tak sedikit yang bernasib malang, berkali-kali atau berpuluh kali mengirim naskah puisinya, tapi tak kunjung dimuat. Kecewa. Putus asa. Patah semangat. Patah arang. Akhirnya, mengambil keputusan drastis, tak akan menulis lagi. Berhenti menulis puisi. Mati sebelum tumbuh. Tragis.

Bagi yang bernasib baik, karya-karya puisinya berhasil dimuat di majalah-majalah sastra, rubrik-rubrik sastra di koran, majalah umum, dan lainnya, tantangan belum selesai. Mereka masih akan berhadapan dengan para kritikus sastra atau sejenisnya. Para kritikus sastra dan sejenisnya yang lain, seakan merasa punya hak untuk mengatakan, menggolongkan, mengidentifikasi dan memvonnis suatu karya sastra atau puisi itu sebagai karya sastra serius, sastra murahan, sastra populer, sastra picisan, sastra kampungan, sastra ecek-ecek, bukan karya sastra dan lain-lainnya lagi.

Sastra pun kemudian seakan berkelas-kelas. Kelas atas, kelas menangah atau sedang, dan kelas bawah. Atau kelas sastra serius, kelas sastra populer, kelas sastra murahan, kelas sastra picisan, kelas sastra kampungan sampai kelas sastra ecek-ecek.

Jangan lupa pula peran para ‘sindikat sastra’. Tidak jarang terjadi nasib atau kehebatan, kepopuleran dan nama besar seorang penyair itu ditentukan oleh ‘sindikat’. ‘Sindikat’ merasa perlu untuk menaikkan, memperkenalkan, mempopulerkan nama seseorang dalam dunia kepenyairan baik dalam tataran lokal, regional bahkan internasional, karena demi kepentingan emosional, kepentingan kelompok, dan kepentingan-kepentingan strategis lainnya.

Begitulah. Begitu beratnya. Begitu berlikunya jalan untuk bisa menyandang nama penyair. Tapi itu dulu. Semuanya telah berlalu. Kata-kata Chairil Anwar yang hebat dan kuat itu, kini sudah kehilangan semangat dan kekuatannya. Ya, kata-kata: “Yang bukan penyair, tidak ambil bagian” itu kini sudah kehilangan rohnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.