Minggu , 16 Desember 2018
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Ruwatan, Laku Budaya Beraras Pedidikan Jiwa
Ritual pemotongan rambut gembe dilakukan di area area Candi Arjuna. (Ft. kompas.com)

Ruwatan, Laku Budaya Beraras Pedidikan Jiwa

Ritual pemotongan rambut gembe dilakukan di area area Candi Arjuna. (Ft. kompas.com)

 

RUWATAN hingga sekarang masih dipandang setengah hati oleh sebagian orang Jawa. Padahal ruwatan merupakan sebuah laku budaya yang berorientasi kepada pencerahan pemahaman soal hidup dan kehidupan. Memang untuk memahami memerlukan pendalaman materi yang kaya akan simbolisasi, terutama yang tersaji dalam laku budaya yang sering dipertontonkan sebagai pertunjukkan. Sebagaimana wayang sekarang ini lebih menonjol perihal tontonannya daripadda tuntunannya dan tidak melahirkan tatanan dalam masyarakat, demikian pula ruwatan, lantaran tidak dipahami secara benar yang terjadi hanya sebagai sarat dan tontonan yang digelar tanpa memahami makna sesungguhnya.

Untuk memahaminya kita perlu contoh yang tercuat lewat lakon wayang Sudamala misalnya.

Lakon ini mengkisahkan ‘kesiku’nya Bethari Uma- lambang belas kasih, menjadi Bethari Durga-lambang keserakahan. Lantaran membela kepentingan anaknya-Dewa Srani, Dewi Uma berani membantah perintah Bethara Guru-penguasa urusan jagad yang notabene suaminya. Guru marah lalu menyabda Uma dan anaknya menjadi berwatak raksasa, hingga berubah menjadi bethari Durga dan Bethara Kala yang berwujud dan berparas raksasa. Keduanya diusir dari kahyangan para dewata dan disuruh menghuni tempat pembuangan Setra Gada Mayit merajai para siluman.

Dari kisah itu bisa dipetik sebuah piwulang, bahwa untuk menghadapi isteri dan anak yang membantah seperti Bethari Uma dan Dewa Srani, Guiru lebih memilih kedudukannya sebagai pemegang amanah keadilan jagad, sebagai Hyang Jagad Girinata, walaupun terpaksa harus berpisah lahir-batin dengan isteri dan anaknya yang sedang mencari kesadaran akan kedudukan sejatinya sebagai isteri dan anak penguasa.

Selanjutnya Durga dan Kala bertemu dan diruwat oleh Sadewa, lambang kewaspadaan dan kebijaksanaan. Dengan begitu boleh dikatakan bahwa kesalahan dan noda kehidupan yang dialami oleh Durga dan Kala hanya dapat dibebaskan dan dipulihkan setelah memperoleh kesadaran diri karena bertemu dengan hakikat kebijaksanaan dan kepandaian.

Simak juga:  Anusapati Meruwat Kendedes (1): Politik Kekerasan Harus Dihindari

Jadi ruwatan sebenarnya sebuah pemahaman untuk pendidikan mendalam tentang watak atau karakter kejiwaan kepada orang yang diruwat. Orang yang diruwat adalah orang-orang yang dikatakan sukerta yang berpotensi mendapatkan nasib buruk akibat suratan kelahirannya. Ini mengandung pendidikan dan peringatan kepada keluarga orang sukerta tadi agar waspada dalam mengasuh dan mendidiknya agar potensi kesulitan dan masalah itu tidak terwujud.

Ruwatan juga memiliki arti sebagai penerahan batin yang diruwat, yakni mengingatkan akan perbuatannya yang kurang baik, yang terlanjur dilakukan, seperti halnya pertobatan. Ini tercermin pada pulihnya Bethari Durga dan Dewa Srani yang terliputi nafsu-nafsu jahat dan keserakahan setelah memperoleh kesadaran lalu kembali menjadi Bethari Uma yang penuh kebaikan seorang Ibu dan Dewa Srani sebagai putra penguasa yang baik.

Ruwatan juga memiliki maksud untuk memutus rantai kesengsaraan, karena setiap perbuatan jahat seseorang maka akibatnya sebagian akan ditanggung pula oleh keturunan atau keluaarga dekatnya. Bentuknya adalah penderitaan dan kesialan-kesialan dalam menjalani kehidupan yang bila dinalar sulit  dirunut penyebatnya. Ketika kesialan dan penderitaan hidup itu ditanyakan kepada orang-orang yang berkompeten, lalu diajurkan untuk menyelenggarakan ruwatan, dalam rangka memohonkan ampun atas perbuatan salah yang telah dibuat sebelumnya.

Ada lagi ruwatan yang disebut dengan ruwatan wuku, yaitu ruwatan atau lebih tepat lagi bila disebut sesaji untuk menolak tulah wuku. Seperti yang telah disampaikan bahwa watak dan jalan hidup manusia dipengaruhi oleh aura kosmis ketika dilahirkan. Daya kosmis itu ada yang buruk yang disebut dengan sambekala. Pengaruh itu disebut sambkala wuku, karena dipercaya berjlan dalam waktu 7 hari, dari Radhite (Minggu) hingga Saniscara (Sabtu) yang merupakan satu periode wuku.

Simak juga:  Anusapati Meruwat Kendedes (1): Politik Kekerasan Harus Dihindari

Sambekala wuku itu berwujud bungkus kosmis yang disandang manusia dari kondisi kosmis  jagad raya ketika dia dilahirkan. Dengan demikian sebenarnya bukanlah kepastian Tuhan Yang Maha Kuasa, yang berarti masih dapat diupayakan penawarnaya agar hilang atau luruh. Caranya beragam. Mengacu pada anjuran Ki Sondong Mandali dalam Bawarasa Kawruh Kejawen disarankan laku terbaik dan termurah adalah laku prihatin yang dilandasi sikap pasrah diri kepada Tuhan. Ada juga yang cukup membuat sesaji penolak sambekala wuku.

Ruwatan sesungguhnya laku budaya Jawa yang memuat pendidikan kejiwaan. Setidaknya merupakan media memberikan pengajaran tentang kendala-kendala yang dimiliki seseorang ketika berintegrasi dalam masyarakatnya. Sebuah mode pembelajaarn khas Jawa yang arasnya kereligiusan, kesemestaan dan keberadaban manusia.

Jawa memaang lebih mementingkan keharmonisan hubungan antar manusia, hubungan manusia dengan alam semesta dan tidak lepas dari aras Jawa tersebut. Pada manusia-manusia jenis sukerta yaitu yang dimungkinkan menggangu keharmonisan semesta (termasuk masyarakat), perlu dicerahkan jiwanya secara khusus. Maka ruwatan juga merupakan bagian upaya Jawa menyelenggarakan kehayuan semesta. Tingkat kesadaran manusia berperadaban yang tinggi kualitasnya.

Dengan dasar pemikiran sebagaimana dipaparkan tadi, maka ruwatan bisa diselisik dan direkonstruksi sebagai satu upaya meningkatkan kualits kesadaran kosmis manusia. Kesadaran kesemestaan umat manusia adalah dasar yang kuat bagi terbangunnya peradaban umat manusia yang ‘hayu’. (Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

Anusapati Meruwat Kendedes (1): Politik Kekerasan Harus Dihindari

SEJARAH mengingatkan agar tidak menggunakan politik kekerasan. Keris Empu Gandringpun menyampaikan pesan bahwa sekali kekerasan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *