Jumat , 19 Oktober 2018
Carakan (ft. net)

Ratu

ANGKRING MATARAMAN

Ki Atmadipurwa

RATU

 

MALAM larut. Siaran wayang purwa di radio swasta niaga, rekaman kaset Ki Hadi Sugito, lakon Bagong Ratu, masuk babak Gara Gara. Suatu Gara Gara yang tidak dihadiri oleh Bagong. Sesuai tebakan lakon, Bagong murca. Tidak ada di tempat. Sedang bersalin rupa sekaligus bersalin peran. Wong cilik Bagong diangkat oleh Ki Dalang, menjadi Ratu gung binathara, sekti mandraguna, ngluruk tanpa bala, sugih tanpa bandha, pinter tanpa meguru, menang tanpa ngasorake ….aneh tapi heuibat.

Jalan raya perlimaan Jokteng terbilang sepi, meski sulit dibilang mati. Pesepeda dari Bantul sudah beriringan masuk kota, bakul-bakul candhak kulak menuju Pasar Beringharjo,  bersama para buruh gendhong.  Di dekat Lek Man Square, dua sedulur becak, menginap di peraduan spesialnya, meringkuk dalam balutan sarung lusuh di jok palenggahan penumpang. Tiap-tiap malam tidur meringkuk, tidak menjadikannya bongkok. Begitulah tidurnya wong cilik, bisa angler pulas, sepulas-pulasnya pulas,  meski beranjang super sempit dalam terpaan angin malam yang menyengat.

Night round table pedestrian tradisional cuisine, angkring Lek Man, memang sudah ngglondhang, bak bus kota tanpa penumpang. Tinggal beberapa potong gorengan dan selebihnya, remukan. Doktrin bisnis angkringan, pengangan dagangan harus ditunggu sampai habis. Dilarang bawa pulang makanan sisa, ora ilok. Kalaupun sudah harus pulang, maka makanan tersisa tidak boleh dijual, diberikan saja kepada siapa yang mau. Biasanya, Lek Man cukup memasukkannya dalam tas kresek lalu mencanthelkan di tautan becak. Sering sekali para sedulur becak sarapan makanan peninggalan Lek Man.

Lek Man masih berbinar mata dan cekatan menuang jerang untuk kopi kepyur garem pesanan Kang Kuncung. Barusan pendagel papan atas Yogya itu tiba. Pulang dari ngejob di Pasar Ngasem, katanya. Bintang tamu wayang kulit purwa. “Lho, kok lakonnya sama. Dalange Bena di Ngasem tadi ya Bagong Ratu, kok di radio ini juga. Kok isa?”

Simak juga:  Arjuna, Tokoh Pembebas Zaman Edan

“Yang namanya kebetulan, serba bisa terjadi, Kang Kuncung,” sahut Solis, seniman muda yang malam itu mengaku mata walangen, tidak bisa tidur lalu memilih nongkrong bersama Lek Man. “Situ beruntung lho ya. Di Ngasem ketemu Bagong Ratu di angkringan Lek Man Bagong Ratu juga. Lha apa bukan beja namanya itu? Semalam dua kali ketemu Ratu.”

“Haaa… Solis Solis, bolehnya situ nyandra kabejan sa.”

“Beja, wong dapet honor gede. Bintang tamu….,” susul Lek Man penuh nada meledek.

“Apesnya ya due yute …,” sambung Solis tangkas

“Rong Yuta gundhulmu.”

Lek Man dan Solis tertawa. Kang Kuncung meneruskan bicara, “ … rong atus. Le ngenehkan ja ndak pake amplop, lung gitu aja kaya ngenehi upah seton buruh bangunan.”

“Bintang tamu ki rong atus ewu?”

“Tenan Lis. Tenin wis ta. Rong nggelo.”

“Mungkin Kang Kuncung ora lucu,” timpal Lek Man.

“Asem ki.”

Sambil menyulut rokok thingwe, melinting sendiri, Lek Man tertawa nggleges. “Tenannya, situ bintang tamu atau tamu tak diundang?”

Solis tertawa ngakak karena tahu persis kelakuan cerdas Kang Kuncung. Ada saja caranya agar mendapat job. Kang Kucung mulai menyeruput kopi tubruk kepyur garem kesukaannya. Diseruput penuh perasaan. Srhrrruubb. Solis menjeb dan tersenyum kecut.

“Situ itu ndak punya blas rasa bersyukur. Bisa ketemu Ratu, kamangka Ratunya ja Bagong. Wong sudra jadi Ratu. nJuk situnya dibayar dua ratus. Mendagel di Limbukan. Kamangka ya tidak dituntut tampil lucu. Disyukuri, Cung. Ah,” kata Solis menirukan gaya antagonis pelakon panggung ketoprak.

“Rong atus ewu lumayan lho. Timbang turu sore,” sergah Lek Man dalam nada ringan, canda, dan ceria meski hari telah berubah menjadi dini, gagat rina. Kang Kuncung memerhatikan meja saji angkringan. Nyaris kosong dan tinggal remukan.

Simak juga:  Wayang, Dunia “Lawang Sewu”

“Dah habis-habisan ini. Bikinkan mie rebus aja Lek.”

“Weeee, berani pesen mie ini. Pake telor?”

“Ya.”

“Hawong habis ketemu Ratu, makannya musti bergizi. Mie rebus telur. Telurnya satu apa dua?” sahut Lek man mengelulu.

“Satu ja. Kolesterol”

“Lho ketemu Ratu ki bisa menurunkan koleterol lho Cung,” goda Solis

“Ratune ki ratu wayang, Nyuk!” gertak Kuncung kepada Solis.

“Ning rak ya tetep Ratu, ta?.”

“Ratu yang mberkahi. Raketang dua ratus ribu,” sela Lek Man.

Mata Kuncung plerak-plerok, masgul dan nyeletuk pendek. “Iya, ya.”

 

Yogya, 30/8/2017

 

Lihat Juga

Duit

Ki Atmadipurwa Duit   Pohon beringin rungkut dan teduh. Benteng tebal mendinding kukuh. Benteng bercat …

1 komentar

  1. Bahasa sederhana yang mengalir, enak diikuti.
    Gambaran sederhana, banyak mengandung makna kehidupan.
    Cekak aos untuk menjadi pelajaran hidup, bersyukur itu harus di barengi rasa ikhlas..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.