Selasa , 21 November 2017
Beranda » Musik » Rasa Kangen, Pasar Kenangan Yang Mengagetkan
Ada turis asing di antara pengunjung Pasar Kangen, foto fb Ong Hari Wahyu.

Rasa Kangen, Pasar Kenangan Yang Mengagetkan

Aneka jajanan yang dulu pernah ada, sekarang sulit lagi ditemukan, kalaupun ada jumlahnya sedikit. Pada masa tahun 1970-an, bahkan tahun2 sebelumnya aneka jajanan khas di Jawa, khususnya Yogya seperti cethil, tiwul, gatot, tempe benguk, sate kere dan lainnya seperti ‘menu harian’ jajanan pasar. Pasar Kangen 2017, yang diselenggarakan di Taman Budaya mengembalikan apa yang dulu pernah ada dan sekarang mulai jarang ditemukan, kalau tidak terlalu tepat disebut hilang. Berbagai jajanan dan barang kuno, dijajakan di pasar kangen dan mengobati rasa rindu akan masa lalu.

Di Pasar Kangen, kita bisa terkaget-kaget karena menemukan barang yang dulu pernah dimiliki atau jajanan yang pernah dinikmati, dan kembali dinikmati, sehingga menghadirkan imajinasi akan masa lalu.

Pasar kangen 2017, memang sudah berakhir pada 27 Juli 2017 lalu. Satu pasar yang bukan hanya untuk sirkulasi ekonomi tersebut, mengobati rasa rindu terhadap sesuatu yang pernah dikenali, dan sekarang sulit lagi bisa ditemukan. Sesuatu itu bisa berupa barang atau jenis makanan.

Pasar Kangen 2017, yang diselenggarakan 22-27 Juli 2017 di Taman Budaya, jl. Sri Wedari 1, Yogyakarta, memang memberi obat akan rasa rindu dan sekaligus menghadirkan kenangan. Di Pasar Kangen ini, orang bisa menemukan jenis kaset, yang mungkin pernah dimiliki, dan sekarang tidak tahu di mana kaset itu. Satu kaset dari  group band Dara Puspita misalnya, bisa tiba-tiba ditemukan di deretan kaset-kaset lama lainnya.

Aneka barang dan jajanan yang dulu pernah ada dan sekarang tidak lagi mudah untuk ditemukan, bisa dinikmati di  Pasar Kangen 2017. Jenis makanan sate, yang disebut sebagai sate kare, karena bahannya bukan dari daging, tetapi dari gajih kembali ditemukan di satu stand di Pasar Kangen, dan banyak orang yang antre membeli jenis sate ini.

Jenis makanan lain, yakni tempe benguk, bisa ditemukan juga di warung ini. Jenis makanan ini, sekarang sudah langka, karena yang paling banyak adalah jenis tempe dele. Mungkin karena langka, dan memberikan sensasi dan eksotisme, tempe benguk ini segera habis, padahal waktu masih sore.

Begitulah Pasar Kangen, yang diselenggarakan setiap tahun di Taman Budaya Yogyakarta, memberikan tanda kultural akan produk kebudayaan masa lalu, dan tidak hanya berupa jenis makanan, namun aneka koleksi yang serba ‘masa lalu’ hadir di pasar kangen sehingga membuat orang memorinya kembali terbuka.

Ada jenis barang berupa uang kuno, yang tidak lagi bisa dipakai untuk membeli, dan dipajang di pasar kangen ini untuk dijual, bagi yang suka mengkoleksi uang lama, bisa memilih berbagai jenis barang-barang kuno tersebut, termasuk bisa ditemukan foto-foto lama, orang bisa memilih foto-foto lama, dan jika tertarik bisa dibeli untuk dikoleksi.

Buku-buku lama juga bisa ditemukan di pasar kangen ini, aneka ragam buku lama, terbitan tahun 19800an, sampai buku-buku tahun-tahun sebelumnya. Misalnya, ada buku Rendra berjudul ‘Mempertimbangkan Tradisi’ terlihat tergeletak di antara buku-buku lama lainnya, dan disampul buku tertera harga Rp. 65.000,-.

Berbagai macam jenis makanan, yang dikenal sudah lama ada di Yogya, dan dikenali sebagai jenis makanan atau jajana masa laliu seperti gatot, tiwul, kipo, cethil dan lainnya bisa ditemukan, dan semua stand yang menyajikan aneka makanan itu, hampir-hampir tidak sepi dari pengunjung. Selalu harus sabar dan rela untuk antri.

Aneka jajanan  mengambil tempat di depan sampai bagian belakang dan samping gendung Societet Militer Taman Budaya Yogyakarta, dan aneka barang lawasan ditempatkan di bagian belakang di Amphytheater Taman Budaya Yogyakarta, dan di teras ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta. Seperti halnya di lokasi aneka jajanan,  dua area barang lawasan, juga banyak dikunjungi orang.

Mengunjungi Pasar Kangen 2017 di Taman Budaya Yogyakarta, kita seperti diajak ‘kembali’ ke masa lalu Yogya, yang banyak memiliki aneka jajanan, dan menggunakan bahan-bahan khas lokal seperti mie lethek, gatot, tiwul, pecel, lempeng gula jawa, tempe benguk, es gosorok dan aneka jajanan lainnya.

Pasar Kangen, seperti telah menjadi obat rindu, dan hadirin yang datang bukan hanya orang-orang tua, tetapi kalangan anak muda dan remaja, bahkan anak-anak juga terlihat di Pasar Kangen, mungkin sekaligus, bagi orang tua yang mengajak anak-anaknya, mengenalkan aneka makanan di Yogya yang dulu pernah ada dan sekarang sudah sulit ditemukan. Tampak juga, turis asing ikut mengunjungi Pasar Kangen dan antri untuk menikmati jenis makanan yang, tentunya, belum pernah dia kenal.

Pasar Kangen 2017,  sungguh memberikan rasa kangen dan kembali akan bertemu di pasar yang sama pada tahun berikutnya. (*)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan IX: Perlu Sosialisasi Hidup Sabutuhe, Sakcukupe, Sakanane

Oleh: Prof Dr Suwardi Endraswara  Membahas Kebangsaan dalam Religi dan Budaya cukup rumit.  Pertama, Yang saya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *