Minggu , 29 November 2020
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Rahasia di Balik Sebuah Kondhe
Tusuk Konde (foto: net)

Rahasia di Balik Sebuah Kondhe

Di balik kesuksesan seorang priya tentu ada seorang pendamping yang mengantarkannya. Itulah Ibu Tien Soeharto yang mendampingi Presiden Soeharto selama 32 tahun berkuasa.Diakui atau tidak Pak Harto, panggilan Presiden Soeharto, tidak bisa lepas dari pengaruh istrinya Siti Hartinah atau yang akrab di sapa Bu Tien. Bu Tien yang lahir di Solo itu, dalam konteks dunia batin orang Jawa, mempunyai wangsit keprabon yang pada akhirnya wangsit itu merasuk kepada suaminya yang kemudian mengantarkan suaminya Soeharto menjadi seorang yang terkuat dan paling berpengaruh di Asia, sebagaimana yang pernah diakui majalah Asiaweek pada tahun 1996. Padahal, seperti yang pernah dikatakan Soeharto dalam autobiografinya, dia tidak pernah bercita-bercita atau bermimpi menjadi seorang presiden karena memang dia berasal dari keluarga miskin di sebuah dusun kecil di Yogyakarta, yang tidak punya apa-apa. Namun, dengan menikahi Siti Hartinah pada 26 Desember 1947, yang masih keturunan Mangkunegoro itu, dan dengan laku spiritual atau melalui jalan keberuntungan yang harus ditempuh Soeharto, wangsit yang tersembunyi dalam diri Siti Hartinah akhirnya datang menghampiri Soeharto dan menjadikan Soeharto berkuasa di Indonesia.

Sebagai keturunan Mangkunegoro III, Bu Tien menitiskan trah kekuasaan ketangan Soeharto. Ia laksana api keramat kerajaan yang mampu megangkat rakyat biasa, menjadi raja ibaratnya. Namun versi lain ada juga yang mengatakan bahwa Pak Harto bukan keturunan orang kebanyakan, tetapi juga mempunyai darah luhur. Oleh karena itulah pertemuan darah luhur itu akhirnya  menjadikan keduanya menjadi persatuan kekuatan yang maha dahsyat.

Ong Hok Ham, dalam bukunya, Dari Soal Priyayi Sampai Nyai Blorong (2002: 217) membenarkan hal itu. Menurut Ong, perempuan (baca: Bu Tien) keturunan raja ini memiliki pusaka paling keramat karena darinya berasal api keramat kerajaan yang dapat mengangkat rakyat biasa menjadi raja.

Di balik kesuksesan Pak Harto itu sesungguhnya ada kekuatan gaib Bu Tien yang menopang dari belakang. Orang mencoba memformulasikan dengan sebuah pusaka yang karena puteri kemudian disebut sebagai Tusuk Konde. Padahal Jawa penuh dengan simbol bahwa konde merupakan penghias rambut kepala . ini tentu terkait dengan berbagai pemikiran yang muncul dari otak manusia. Demi Pak Harto Bu Tien melakukan puasa dan matiraga, dengan berbagai laku prihatin lainnya. Yang tidak diperhitungkan orang adalah kreativitas Bu Tien ketika mendampingi Pak Harto, dengan membuka Taman Mini Indonesia, Juga mendirikan rumah sakit Jantung Harapan Kita, Kebun Buah Mekar Sari, Peternakan Sapi Tapos dan masih banyak lagi pemikiran Bu Tien yang saat itu sangat kontroversial. Dan itu lahir di balik konde alias kepala Ibu Tien Soeharto.Disamping itu dengan tapabrata dan berbagai macam laku prihatin yang dilakukan Bu Tien , kekuasaan Soeharto makin tertopang, baik ketika Soeharto meniti kariernya sebagai militer maupun ketika menggantikan Soekarno menjadi presiden. Dengan begitu, Bu Tien atas kekuasaan Soeharto mempunyai andil yang cukup besar secara spiritual.

Namun bukan sepenuhnya kekuasaan Pak Harto itu diraih dari kehebatannya Bu Tien. Soeharto bukan orang yang bodoh, yang kemudian menjadi penguasa hanya gara-gara ada wangsit dari Bu Tien. Ia memang cerdas dan punya siasat yang jitu, yang hampir-hampir tak dimiliki sebagian besar rakyat Indonesia. Akan tetapi, seperti yang telah terjadi, Soeharto bukanlah seorang presiden yang tangguh ketika tanpa Bu Tien. Seperti yang kita ketahui, Soeharto makin mengalami kemunduran ketika Bu Tien wafat.

Seharusnya, begitu Bu Tien wafat pada 28 April 1996, Soeharto sudah tidak mau lagi dicalonkan menjadi presiden. Bu Tien sendiri sebenarnya sudah pernah menyampaikan pesan kepada rakyat Indonesia, kalau dapat jangan mencalonkan Soeharto lagi. Sebab, pada waktu itu usia Soeharto sudah 72 tahun dan Bu Tien 70 tahun.

Simak juga:  Memburu Kehidupan yang Tenteram

Jika umur sudah setua itu, dalam tafsir kejawen, sudah saatnya Soeharto menyampaikan sabda pandhito ratu.

Akan tetapi, Soeharto tidak melakukan hal itu, malah ia bersedia dicalonkan kembali, sehingga terbukti setelah Bu Tien meninggal, dan pada 70 hari sesudah MPR mengukuhkan Soeharto sebagai presiden dan B.J. Habibie sebagai wakilnya pada 21 Mei 1998, terjadi perubahan besar. Soeharto oleh rakyat dipaksa “turun” dari kursi kepresidenannya. Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa Soeharto tanpa Bu Tien tidak bisa jadi presiden.

Berburu Wahyu

Perburuan Wahyu Bu Tien tentu dari darah Mangkunegara yang berprinsip merdeka dalam berpikir dan merdeka dalam kebatinan. Itu semua adalah jabaran dari kekagumannya atas leluhur mereka yakni Pendiri Mataram.. Laku keutamaan menjadi contoh pendiri kraton Mataram.seperti Panembahan Senopati ketika mengejar wahyu keraton Mataram. Yang menonjol ketika perjuangan Panembahan Senopati memburu Wahyu keprabon Jawa, lebih dipahami sebagai lakutapabrata di tempat-tempat sepi seperti gunung, pantai, gua dan tepi laut kidul. Padahal dalam tulisan pujangga Jawa dengan jelas dipaparkan perjuangan sang Senapati dilaksanakan dengan nyata dan membumi.

Sangat jelas dipaparkan dalam Wedhatma pada Sinom termuat anak kalimat:” amemangun karyenak tyasing sesama’, artinya senantiasa berbuat demi menyenangkan hati orang lain, tidak malah menyakiti, tidak memaksakan kehendak. Sedangkan dalam Wulangreh lebih ditegaskan lagi perjuangan Panembahan Senopati dalam mendapatkan “Wahyu Keraton Jawa”” Tapane nganggo alingan, pan padha alaku tani, iku kang kinarya, sasap, pamrihe aja ketawis jubriya lawan kibir,sumunggah ingkang den singkur, lan endi kang kanggonan, wahu keraton jawi, tinampelan anggepe pan kumawula’. Demikian paling tidak dikedepankan Sri Susuhunan Pakubuwono IV dalam Wulangreh sinom ke 19. bait tempat ini menyatakan bahwa dalam menjalani ‘laku’-perjuangan,  Panembahan Senapati menjalani kehidupan sebagai petani. Artinya menjalani kehidupan rakyat yang sesungguhnya, menjauhkan watak sok kuasa, sombong dan angkuh. Maka kemudian sang pujangga berpesan bahwa siapapun yang ketempatan Wahyu keprabon , sikapnya pasti merakyat, – anggepe pan kumawula.

Bersikap memihak kepada rakyat dan lebih jelas lagi memihak kepada petani, sesungguhnya merupakan ideologi raja Jawa, sejak zaman kerajaan tempo hari. Namun sayang ideologi tersebut tidak ditangkap secara cerdas oleh masyarakat Jawa sendiri khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya. Termasuk juga para kerabat keturunan raja dan birokrat keraton Jawa. Orang Jawa terkesan lebih mementingkan laku-laku kebatinan untuk mendapatkan amanah kekuasaan. Barangkali hal ini merupakan kecelakaan pemahaman akibat kesederhanaan pola pikir ‘wong Jawa” dalam merespon pemikiran para empu dan pujangga sastra di masa silam.

Dalam banyak prasasti disebutkan pula keberpihakan raja-raja Jawa terhadap petani. Diantaranya berupa statemen raja yang membebaskan suatu wilayah dari kewajiban upeti atau pajak, karena jasa rakyat wilayah tersebut dalam membangun jaringan irigasi misalnya. Kita ingat akan adanya tanah perdikan di masa lalu.

Sejarah Jawa sesungguhnya telah mewariskan hikmah perjuangan para tokoh-tokohnya dalam mendirikan kerajaan. Prabu Erlangga, Ken Arok, Raden Wijaya sampai dengan Panembahan Senapati adalah contoh, tokoh-tokoh sejarah yang mendapatkan dukungan rakyat hingga mampu mendirikan negaranya. Mereka menyelami  kehidupan rakyat secara nyata untuk menangkap suara rakyat yang sejati dalam rangka mendirikan kerajaannya.  Oleh karena itulah mereka itu tergolong pemimpin yang mampu membangun human relation dengan rakyat, mampu berkomunikasi dengan rakyat dan mampu memotivasi rakyat untuk mendukung ide mendirikan kerajaannya dengan tertata dan aturan yang baik. Persoalan yang muncul kemudian adalah bahwa para penerus pendiri kerajaan itu dan juga mereka yang berada di lingkar kekuasaan, terbelit oleh kultur mukti wibawa. Nikmat dalam kekuasaan telah menghapus roh ideologi keberpihakan kepada rakyat.

Simak juga:  Wong Jawa Ilang Jawane

Dalam Wulangreh dan Wedhatama senantiasa dipesankan untuk meniru laku perjuangan  Panembahan Senopati. .. Nuladha laku utama…. Berkacalah dari laku keutamaan  yang dijalankan oleh Wong Agung ing Ngeksi Ganda. Pertama-tama laku utama lah yang diminta untuk dicontoh bukan orangnya.

Wulangreh yang lebih ditujukan kepada kerabat keturunan raja dan birokrat keraton berisikan nasihat mengelola moralitas kekuasaan yang harus berpihak kepada kepentingan rakyat. Sedang Wedhatama merupakan ajaran yang lebih diarahkan memandu setiap individu Jawa dalam bermasyarakat.  Fokus ajarannya merupakan pendidikan moral etika Jawa kepada generasi muda untuk bekal hidup bermasyarakat. Substansi ajaran bukan hanya anjuran bertapa brata, matiraga dan mimpi di awang uwung, tetapi sangat membumi, misalnya tentang ajaran wirya, arta winasis, seperti yang tersirat dalam kalimat berikut ini:’ Bonggan kang tan merlokena, mungguh ugering ngaurip, uripe lan tri prakara, wirya arta tri winasis, kalamun kongsi sepi, saka wilangan tetelu, telas tilasing janma, aji godhong jati aking, temah papa papariman ngulandara “ Demikian KGPAA  Sri Mangkunagoro IV serat Wedhatama bait 29 pupuh sinom.

Ajaran yang terkandung dalam tembang tersebut menanamkan cita-cita kepada generasi muda untuk senantiasa mempunyai ambisi menggapai kehormatan- wirya, kekayaan-  arta, dan ketinggian ilmu –winasis. Dihubungkan dengan bait sebelumnya, maka bait tersebut merupakan ajaran Jawa dalam memberikan penajaman arah menjalani hidup tidak sekadar ‘ngupa boga’ mencari pangan dan sandang saja. Tatkala dikaitkan dengan bait-bait selanjutnya, maka ambisi mencapai wirya-arta-winasis, tersebut belum merupakan kesempurnaan hidup. Sebab menurut ajaran Jawa kesempurnaan hidup adalah mencapai titising pati. Yaitu mampu mengembalikan semua elemen hidup yang dimiliki kepada sumbernya. Wadhag raga kembali sempurna ke alam semesta, roh- urip kembali kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sedang yang tadinya wujud, tinggalah nama yang harum semerbak mewangi dan bisa diteladani oleh anak keturunannya.

Wedhatama yang memuat ajaran ‘wirya- arta –winasis disusun dengan mengabdopsi kisah peri hidup Panembahan Senopati. Kisah perjuangan ksatria Jawa yang merakyat dan menciptakan perubahan. Silang sengketa berebut legitimasi kekuasaan antar keturunan Demak dan Pajang telah menyengsarakan rakyat. Konflik horizontal diperparah dengan keinginan memisahkan diri para bupati pesisir dari kekuasaan Demak Pajang. Panembahan Senopati adalah perwira Pajang yang bertugas memadamkan pemberontakan para bupati pesisir. Oleh karena itulah dialah perwira lapangan yang memahami penderitaan rakyat akibat konflik para elit kekuasaan. Diselami kehidupan nyata rakyat, diberdayakan untuk mengadakan perubahan. Pemberdayaan rakyat tersebutlah yang sejatinya digunakan Panembahan Senapati memadamkan pemberontakan elit politik kekuasaan di daeran dan mendirikan Kerajaan Mataram.

Kultur Wulangreh-Wedhatama yang mengajarkan –wirya –arta –winasis dan keberpihakan kepada rakyat semestinya perlu direkonstruksi kembali dan diperbarui kemasannya agar mudah dipahami masyarakat umum. Kemudian diletakkan pada aras kebersamaan membangun masyarakat yang hayu – indah. Artinya bahwa seluruh rakyat perlu memiliki kehormatan, berjiwa patriot, makmur dan berpendidikan. Dengan demikian kultur Wulangreh-Wedhatama, bukan semata-mata mengajarkan tapabrata dan keprihatinan terus menerus. Syukur kalau mampu mengejawantahkan semangat yang dilaksanakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, tahta untuk rakyat. Bahwa pemimpin itu melayani rakyat. (Dari Berbagai Sumber./Ki Juru Bangunjiwa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *