Radikal

ANGKRING MATARAMAN

Ki Atmadipurwa

RADIKAL

 

KALI ini, madame chef, Nyai Ngatiman, isteri setia Lek Man turut serta dalam gelar grass root cuisne, Lek Man Square, angkringan sor ringin Jokteng. Yu Man. Tubuhnya subur, suaranya gandem menggelegar. Luwes nyanyi campursari di kampungnya. Meski lemu ginuk-ginuk, tapi cekatan bekerja. Kalau Yu Man mendampingi, gelas kotor, bungkus nasi kucing, biting sunduk sate usus, remah-remah balung ceker dan ndhas ayam, tidak terlalu lama berceceran. Round table angkringan selalu bersih rapih, tikar di trotoar dijamin kalis dari regetan dan asah-asahan.

Denmas Tet, sudah lenggahan. Menikmati ceker bacem kesukaannya. Bolehnya ngrikiti, telaten bin teliti. Tak sedikitpun kulit ceker tersisa di tulang-tulangnya. Keahlian ngrikiti balung itu kehalian warisan dari pamannya, Denmas Koong. Sukanya dhahar bakmi mumi, bakmi Jawa ditambah balungan. “Ceker mana ini, Yu?”

“Kenapa ta Denmas Tet? Ada yang terasa beda? Itu ya ceker biasanya”.

“Kok enak. Empuk.”

“Biasanya alot?”

“Ini lebih enak. Kalau bisa, seperti ini terus.”

Belum sempat Yu Man menjawab permintaan Denmas Tet, Lek Man datang menyangking dua ember besar isi air bersih. Rupanya Lek Man diiringi datanganya mBah Mul Ceklik. Priyayi sepuh yang masa mudanya dihabiskan buat mengumbar hobi motret. Itu sebabnya, dia mendapat paraban Ceklik. “mBah Mul. Lamo ta basuwo. Sini mbah, sini,” sambut Denmas Tet.

“Weh Denmas Letter. Sakploknya kondhang, lalu menjothak saya,” sambung mBah Mul sambil mengelus-elus punggung Denmas Tet. “Kemarin sa lihat situ kesorot tivi. Lagi demo apa gimana? Tenannya, situ ikut garis keras, pa?”

“Tidak. Sa tidak tertarik politik.”

“Lha kok ikut grudak gruduk?”

“Ya gitu itu, Mbah. Berat-beratnya orang cari makan.”

“Tidak usah viveri veri koloso….nyrempet-nyrepet bahaya …”

“Lha duwitnya ada di pusaran bahaya itu he mBah.”

Dimana ada bahaya, di situ ada rejeki besarnya. Itu hikmat politik paling tua. mBah Mul paham. Ia melewati berbagai pergolakan politik masa lalu. Sebagai juru potret, ia bersaksi atas banyak momentum bahaya dalam pergolakan politik. Termasuk, penggunaan tenaga massa. Denmas Tet mengambil keuntungan, penyedia jasa spanduk kampanye dan demo. Denmas Tet berubah menjadi tukang letter sukses dan berkelimpahan rejeki. Dikenal dekat dengan kaum penggerak massa, pentolan partai, preman politik, sampai komandan keamanan.

“Urip kok cari perkara,” sembul ucap mBah Mul di sela kunyahan sega kucing oseng sambel teri saumprit, sambelnya sak ndulit. “Denmas, situ jangan keblasuk di kerumunan garis keras lho”

Denmas Tet nggleges,  ketawa tanpa suara. “Ya kudu keras ta mBah. Kalau tidak keras, tidak isa dipakai, gak bisa ditamake….”

“Leloh, mlesat mleset hahahaha….,” sambung Mul Ceklik ngakak.

Yu Man yang berdiri di seberang dua laki beda usia, pada duduk jegang, pun tanggap sasmita, tahu amsal asosiasi yang Denmas Tet sama Mul Ceklik bayangkan. Yu Man mesam-mesem.

“Mangsud ku, situ jangan sampe kena garap, dicuci otakmu supaya ikutan gerakan radikal. Potongannya situ wangun lho kalo garis keras.”

Denmas Tet kembali tertawa keras. Yu Man menyodorkan kopi pesanan Mul Ceklik. Kata Yu Man, “…weh bolehnya ketawa Denmas Tet keras sekali. Sekeras alirannya… ha…ha…”

“Wong cilik itu juga garis keras lho Denmas Tet.  Keras hidupnya. Keras kerjanya. Keras pula tawanya. Hanya wong cilik yang bisa ketawa lepas,” sela Lek Man seraya menata ulang gorengan di round table cuisne kelas rakyat, angkringan asli Bayat Klaten ini.

“Weh, Lek Man mulai muncul jiwa filsufnya. Tidak ninggal bibit kawitnya. Penyair gagal,” potong Denmas Tet. Mul Ceklik ikut tertawa. Menyeruput kopi sambil menggewel bakwan klomoh disusul ceplusan cabe rawit hijau.

Ayah Denmas Tet dan Mul Ceklik memang bersahabat. Ketika Denmas Tet masih kanak-kanak Mul Ceklik pula yang membimbing menuju ruang nikmatnya rokok. “Rokoknya situ sekarang apa?”

“Rokok Cap Ratu.”

“Cap Ratu?”

“Ratu. Ra tuku”

“Lha kok isa?”

“Sa ini mbah, sa buatken pabriknya rokok, pake leter leter, baliho baliho yang sa bikin. Pokoknya kabeh promo luar ruang, semua sa yang nggarap. Terus sa dapat bonus dikirimi rokok rutin. mBah Mul mau?”

“Waaa… situ belon tahu ya? Aku dah lama ndak ngrokok.”

“Weh lha mBah Mul dah ingsyaf ta ini. Orang yang mengajari sa piawai ngrokok dah sadar. Bercerai dengan rokok, heibat itu mBah. Kok isa mandeg blas, gimana caranya?”

“Harus punya tekad kuat. Harus keras pada diri sendiri.”

“Radikal pada diri sendiri !! ” kata Denmas Tet sambil lahap memasukkan ceker bacem ke mulutnya. Mul Ceklik diam. Lek Man tertawa.

Yu Man tangkas menyahut sambil mesam mesem, “Radikal apa radi kalem?” ***

Lihat Juga

Duit

Ki Atmadipurwa Duit   Pohon beringin rungkut dan teduh. Benteng tebal mendinding kukuh. Benteng bercat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *