Selasa , 4 Agustus 2020
Beranda » Sastra » Puisi Ramadhan Di Sastra Bulan Purnama
Kelompok Musik Jejak Imaji dari Universitas Ahmad Dahlan

Puisi Ramadhan Di Sastra Bulan Purnama

Cuaca cerah, langit bersih, bulan bundar di atas langit dan puisi bertaburan dibawah bulan purnama dalam acara Sastra Bulan Purnama di Tembi Rumah Budaya. Para penampil, tidak hanya dari Yogya, mengisi dengan pembacaan puisi dan lagu puisi. Malam purnama menjadi terasa penuh arti.

Seorang penyair pekerja migran di Singapura, yang pernah tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama, Melur Seruni namanya, Jumat, 9 Juni 2017 di Amphytheater Tembi Rumah Budaya, kembali tampil dalam acara Sastra Bulan Purnama edisi 69. Melur Seruni yang kini tinggal di Magelang,  seperti menemukan kembali dunia sastra di Tembi Rumah Budaya.

Puisi Ramadhan, artinya puisi yang menyajikam tema Ramadhan dalam Sastra Bulan Purnama yang mengambil tajuk ‘Ramadhan Dalam Puisi’ mengisi pertunjukan sastra. Meskipun dalam puisi tidak (di) harus (kan) menyebut kata Ramadhan, tetapi berbagai variasi kata yang memberikan pemahaman menyangkut Ramadhan bisa ditemukan.

Nella Widodo, seorang penyair sekaligus guru di Temanggung, ikut tampil membacakan puisi karyanya. Bulan sebelumnya, Nella juga ikut tampil dalam peluncuran antologi puisi ‘Menyandi Sepi’. Ia membacakan dua puisi karyanya dalam nuansa Ramadhan.

“Ini kali kedua saya membaca puisi, Tembi bagi saya adalah tempat yang menyandi dan selalu mengundang rindu”, kata Nela Widodo.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (56)

Para penampil pembaca puisi di Sastra Bulan Purnama edisi 69, dengan tajuk ‘Ramadhan Dalam Puisi’, juga menampilkan perupa. Dua orang perupa, Atik Kusumo dan Eni Setyaningsih tampil membaca puisi. Eni membaca puisi karya Watie Respati, dan satu puisi karya suaminya, seorang perupa.

Atik Kusumo, membacakan geguritan, puisi yang ditulis menggunakan bahasa Jawa, yang diiringi petikan siter dan gesekan rebab. Melalui geguritan, Astuti seperti ingin membangun suasana yang indah, dibawah bulan purnama yang menghiasi dari langit sekaligus memaknai suasana Ramadhan. Gesekan rebab dari Pardiman dan petikan siter dari unggul, adalah upaya untuk menghidupkan geguritan yang dibacakannya.

Seorang pembaca lain, Jati Suryono, yang memang memiliki kecintaan pada sastra khususnya, dan kesenian umumnya, sehari-harinya adalah pegawai Lembaga Pemasyarakatan Wirogunan. Jati, demikian panggilannya, seringkali datang dalam acara Sastra Bulan Purnama, dan pernah tampil membaca puisi di acara yang sama.

“Saya akan membaca puisi karya saya yang ada di dalam kertas yang saya pegang ini, dan ada dua puisi didalamnya” kata Jati Suryono.

Pembaca puisi yang lain, Arif Rahmanto seorang pendongeng. Dia membacakan puisi karya Emha Ainun Najib. Sambil duduk di kursi biru, Arif membaca seolah  seperti sedang mendongeng, enak untuk didengarkan. Pembaca lainnya, yang juga ikut tampil adalah Ismanto.

Simak juga:  Meningkatkan Pendidikan Perkuat Kebudayaan

Selain para pembaca puisi, penampil lain adalah komunitas musik dari tiga komunitas yang berbeda. Diffcom misalnya,  satu komunitas difabel yang ada di wilayah Bantul, menyanyikan dua puisi karya Butong, seorang anggota difabel. Butong singkatan dari Budi  tongkat, karena memang mengenakan tongkat.

Dua komunitas musik lain yang tampil, satu komunitas pesantren, yang bernama Komunitas Kutub, yang menyajikan lagu puisi dipadukan dengan pembacaan puisi, dan komunitas yang satu adalah dari Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, yang memiliki nama Jejak Imaji. Komunitas mahasiswa ini melagukan satu puisi dengan apik, dan suara penyanyinya enak untuk didengarkan.

Sastra Bulan Purnama edisi 69, yang menyajikan tajuk ‘Ramadhan Dalam Puisi’ tidak hanya diisi pembacaan puisi dan penampilan kelompok musik puisi, tetapi juga penampilan kelompok vokal yang terdiri dari 5 orang anak, yang dikenal dengan nama Jas Stage.

Dalam pertunjukan Sastra Bulan Purnama ini, cuaaca cerah, langit bersih dan bulan purnama bersinar dari atas langit. (*)

Lihat Juga

Lagu Indonesia Raya Di Sastra Bulan Purnama

Malam cerah, langit bersih dan bulan purnama bundar di atas langit memberikan tanda, bahwa malam …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *