Beranda » Sastra » Puisi, Musik dan Kopi di Tembi

Puisi, Musik dan Kopi di Tembi

Satu pertunjukan kesenian yang dipadukan dengan kuliner dan diberi tajuk: Special Performance: Puisi, Musik dam Kopi’ telah dipentaskan Selasa, 7 Maret 2017 di Tembi Rumah Budaya, jalan Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Dalam pertunjukan ini, puisi dan musuk saling berinteraksi, yang kemudian dipaduakan dengan kopi. Seorang Coffe Grading dari Surabaya, Mintaraga Pakasi namanya, menjelaskan perihal kopi dan kemudian membuat racikan kopi untuk para hadirin yang datang.

Dalam acara ini, 10 puisi digubah menjadi lagu. Empat puisi karya Nana Ernawati, penyair yang kini tinggal di Jakarta, dua puisi lagi masing-masing karya Iman Budhi Santosa Landung Simatupang dan Ons Untoro. Rimawan Ardono, yang lebih dikenal dengan nama Donas, yang menggubah puisi dan musiknya merupakan kolaborasi antara petikan gitar dan pukulan kendang dan gong beris oleh Otok Bima Sidharta.

Diawali dua lagu puisi karya Nana Ernawati berjudul ‘Angin Bertamu 1’ dan ‘Angin Bertamu 2’, perpaduan antara gitar akustik, kendang dan gong beri memberikan suasana menjadi terasa hidup. Selesai dua lagu puisi, Mintaraga Pakasi, seorang coffe grading memberikan sedikit kisah mengenai sejarah kopi.

Menurut Aga, panggilan Mitaraga Pakasi, kopi merupakan jenis tanaman endemik, yang sebenarnya seperti semak-semak, bukan merupakan tanaman berupa pohon, yang memang dsiapkan sebagaimana umumnya pohon. Sejarah kopi memang panjang, untuk menyingkat penjelasan, sejarah kopi masuk di Indonesia pada abad 17.
“ Di Indonesia kopi awalnya di tanam di daerah Jawa Barat, kemudian dikembangkan di daerah Jawa Timur, terutama di Dampit, Malang. Kopi masuk Indonesia dibawa oleh Belanda,” kata Mintaraga.

Suasana pertunjukan puisi, musik dan kopi, terasa akrab. Masing-masing hadirin menempati kursi dalam bentuk round table yang sudah disediakan, sambil mendengarkan lagu puisi yang mengalun, hadirin yang menyukai kopi bisa menikmati kopi buatan Mintaraga Pakasi. Bagi yang tidak gemar kopi bisa menikmati teh atau wedang secang.

Ditengah lagu puisi dialunnkan, Mintaraga Pakasi menyiapkan kopi untuk dinikmati para hadirin yang memang senang menikmati kopi. Ada yang pesan kopi dicampur susu sehingga menyerupai kopi exelso, namun kebanyakan menikmati kopi hitam.
“Kopi ramuan ini memang dibuat tidak menggunakan gula.” kata Aga ketika menimpali hadirin yang meminta disaipkan kopi tanpa gula.

Puisi-puisi yang dilagukan, dua karya Iman Budhi Santosa berjudul ‘Pengantin Puisi Pengantin Sunyi’ dan ‘Belajar pada Siang Pada Malam’. Dua puisi karya Landung Simatupang berjudul ‘Ranjang Pasir’ dan ‘Bunga Untuk Angelina”, empat puisi karya Nana Ernawati berjudul ‘Angin Bertamu 1’, ‘Angin Bertamu 2’ , ‘Lagu Malam Pencari Kata’ dan ‘Suka Cita’. Dua puisi karya Ons Untoro berjudul ‘Kutulis Puisi ini’ dan ‘Di atas Awan”.

Rimawan Ardono, yang diminta menggubah puisi menjadi lagu hanya tersedia waktu 2 minggu, dan dalam waktu relatif pendek itu 10 puisi selesai dikerjkan, yang kemudian dikolaborasikan dengan pukulan kendang Otok Bima Sidharta.

Untuk memberi variasi lain, Donas panggilan dari Ardono, meminta Sashmyta Wulandari untuk ikut menyanyikan lagu dan Gendis serta Probo membacakan penggalan puisi yang dilagukan Donas.
“Dalam waktu dua minggu saya kerjakan secara ngebut sehingga 10 puisi tersebut selesai dibuat menjadi lagu, apalagi puisi-puisinya memang pas untuk dibuat menjadi lagu,” kata Rimawan Ardono. (*)

Lihat Juga

Polisi, Jadi ‘Korban Harapan’ Masyarakat

JULI tahun ini Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) genap berusia 72 tahun. Tepatnya Polri atau …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *