Minggu , 21 Oktober 2018
Beranda » Sastra » Puisi Kebangsaan » Puisi Linus Suryadi AG
Linus Suryadi AG (ft. dok-Tempo)

Puisi Linus Suryadi AG

NAZARETH

Dengan gitar tunggal di tangan
Aku pun bernyanyi di tengah malam:
“Ini bulan Desember. Tahun Masehi
Abad 20 kan habis sebentar lagi”

Dengan lilin-lilin di tangan
Berkibaran kain-kain satin
O, para putri gunung Sion
Mengiring Sang Bijak berjalan
Turun, menyibak kegelapan

Siapakah kamu, kau bertanya:
Yohanes Pembaptis?
Penyair Matheus?
O, siapakah kamu:
Seorang patriot?
Yudas Iskariot?

Kucari terang di dalam gelap
Tapi yang kutemu jutaan bintang
Kucari terang di dalam terang
Tapi yang kutemu jutaan kunang-kunang

Siapakah kamu, aku bertanya:
Pontius Pilatus?
Simon Petrus?
O, siapakah kamu:
Seorang pembelot?
Raja berjenggot?

O, putra Nazareth
Yang mandi di tepian bengawan Yordan
Yang kramas diri dalam air kehidupan
Yang menyebar benih permaafan
Cinta kasih dan kasih sayang!

Dengann gitar tunggal di tangan
Aku pun bernyanyi malam lengang:
“Ini bulan Desember. Tahun Masehi
Siapa lahir dengan jiwa tercuci?”

Yogya, 1979

YERUSALEM

Langit dan bumi bertangkupan
Pegunungan-pegunungan diam
Cuaca dingin. Udara pun basah
Bisik-bisik berkabar maut singgah

Lalu derap langkah kuda Zanggi
Derap ladam kaki. Derap tangan besi
Berderap menggegarkan jantung insan
100.000 serdadu bangsa Romawi

Tapi bayang Herodes di pusat malam
Belum beres. Di timur ada bintang
Dan seruling malaikat berkumandang
Kado: “Gloria in Exelsis Deo”

Yogya, 1980

 

GLORIA

Cintamu ibarat bintang berpijar
Yang jauh, ia menerangi jagad raya
Yang mengusap roman indah gemetar
Di antara kelam dan remang cuaca

Cintaku ibarat bintang berpijar
Yang jauh, ia menerangi jagad raya
Yang mengusap roman indah gemetar
Di antara kelam dan remang cuaca

Cintamu dan cintaku saling berpadu
Dan tergetarlah langit dan samodra
Ah, jika jauh kelak kita ingin bertemu
Bayangkan, bintang-bintang bercahaya!

Simak juga:  Foto dan Puisi: Dua Karya Seni Dalam Satu Antologi Puisi

1976

 

BETLEHEM

Di tumpukan jerami di kandang
Sapi dan domba, kuldi dan unta
Kudengar jeritan yang mempesona
Jeritan purba di jagad lengang

Tangisan adalah suara pertama
Suara yang tersua pengembara
Sebentar, pecah tawa gembira
Si wajah kembar yang tua pula

Kudengar jerit cenger suara bayi
Kudengar segar, polos, dan sunyi
Bergelung-gelung di rongga malam
O, kudengar jerit batinku sendiri

Yogya, 1980

 

Catatan:

SENIN, 25 Desember 2017 segenap umat Kristiani merayakan Hari Raya Natal. Untuk itu di rubrik Puisi-puisi Kebangsaan kali ini hadir puisi-puisi dari penyair Linus Suryadi AG, seorang penyair Yogyakarta yang mencuat namanya di jagad kepenyairan nasional sepanjang tahun 70-an hingga menjelang tahun 2000-an. Puisi-puisi Linus ini terhimpun di dalam buku kumpulan puisinya “Rumah Panggung“, yang diterbitkan Penerbit Nusa Indah, Ende, tahun 1988.

Linus Suryadi AG lahir di Kadisobo, Yogyakarta, 3 Maret 1951, dan meninggal dunia pada 30 Juli 1999. Ia dikenal sebagai penyair lirik yang kuat. Selain Rumah Panggung, beberapa buku antologi puisi tunggalnya di antaranya Langit Kelabu (1976), Perkutut Manggung (1986), Kembang Tanjung (1989), Nafas Budaya Yogya (1994), dan Tirta Kamandanu (1997). Salah satu karya prosa liriknya yang dikenal meluas, tak hanya di tanah air tapi juga di luar negeri berjudul Pengakuan Pariyem: Dunia Batin Seorang Perempuan Jawa (1981).

Bila Anda ingin berpartisipasi, silakan kirim karya puisi-puisi “Kebangsaan” tersebut ke sutirmaneka@gmail.com. Kami tunggu. Tabik. (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Foto dan Puisi: Dua Karya Seni Dalam Satu Antologi Puisi

Antologi puisi yang diberi judul ‘Kepundan Kasih’, bukan hanya berisi puisi, tetapi juga berisi karya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.