Beranda » Sastra » Puisi Kebangsaan » Puisi Kirjomulyo
Kirjomulyo (ft. net)

Puisi Kirjomulyo


TANAH AIR

Siapa hendak kusebutnya
Kini jelas berlinang di mata puisiku
Kenyataan dan impiannya menatapku
Betapa indahnya, betapa jelita

Siapa hendak kusebutnya
Kini jelas berlinang dalam ucapanku
Kebenaran kebangsaanku dan kemanusiaannya
Menataplu mendesak aku berdiri kuat

Sebelah ragaku daratnya
Sebelah tubuhku lautnya
Sebelah jiwaku kenyataan
Sebelah jiwaku impiannya

Siapa hendak kusebutnya
Kini jelas berlinang dalam adaku
Terimalah tanganku, hatiku dan jiwaku
Telah kuterima adamu seluruhnya.

(Dari kumpulan puisi Lembah Pualam, 1967)

HARI KEMERDEKAAN

Akhirnya tak terlawan olehku
Tumpah di mataku, di mata sahabat-sahabatku
ke hati kta semua
Bendera-bendera dan bendera-bendera
Bendera Kebangsaanku
Aku menyerah kepada kebanggaan lembut
Tergenggam satu hal dan kukenal

Tanah di mana kuberpijak berderak
Awan bertebaran saling memburu
Angin meniupkan kehangatan bertanah air
Sangat getir yang menikam berkali
Makin samar
Mencapai puncak kepecahnya bunga api
Pecahnya kehidupan kegirangan

Menjelang subuh aku sendiri
Jauh dari tumpahan keriangan di lembah
Memandangi tepian laut
Tetapi aku menggenggam yang lebih berharga
Dalam kelam kulihat wajah kebangsaanku
makin bercahaya makin bercahaya
Dan fajar mulai kemerahan

(Dari kumpulan puisi Lembah Pualam, 1967)

TUMPAH DARAH
(Buat Sitor Situmorang)

I
Sejuk angin di tanah air
tapi membakar serasa api

Hijau, rumput di tumpah darah
tapi membakar serasa belerang

Salamku padamu
salam sekandung

II
Tapi lari aku tak mau
bila hangus akan terasa

Lupa aku tak bisa
bila hanyut akan nampak

Soalnya, ku telah lanjur
berpaku cinta terlanjur?

III
Salamku padamu
salam sekandung

(Dari kumpulan puisi Romansa Perjalanan, 1959-1979)

 

Catatan:

JIKA pada edisi Minggu lalu, di rubrik Puisi-puisi Kebangsaan hadir dua puisi dari penyair Sitor Situmorang, kali ini yang hadir adalah puisi-puisi dari penyair kenamaan dan produktif di era 50-an/60-an, Kirjomulyo. Cobalah simak tiga puisi Kirjomulyo ini, terlihat jelas bagaimana ia mengajak kita untuk senantiasa memahami, menghormati dan mencintai tanah air.

Kirjomulyo lahir di Yogyakarta pada tahun 1930 dan meninggal dunia pada tahun 2000. Selain dikenal sebagai penyair, ia juga sangat dikenal sebagai penulis naskah drama. Naskah-naskah dramanya yang populer hingga kini di antaranya Nona Marjan (1955), Penggali Kapur (1956) dan Penggali Intan (1957).

Bila Anda ingin berpartisipasi, silakan kirim karya puisi-puisi “Kebangsaan” tersebut ke sutirmaneka@gmail.com. Kami tunggu. Tabik. (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Sulis Bambang dan Bengkel Sastra Taman Maluku di Sastra Bulan Purnama

Bengkel Sastra Taman Maluku dari Semarang yang dipimpin Sulis Bambang, seorang perempuan penyair yang bukunya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *