Jumat , 14 Desember 2018
Beranda » Sastra » Puisi Kebangsaan » Puisi Handrawan Nadesul
Handrawan Nadesul (ft. Ist)

Puisi Handrawan Nadesul

BANGGA AKU JADI RAKYAT INDONESIA

Bangga aku jadi rakyat Indonesia
Guru lapar masih tertawa
Anak makan tiwul lolos masuk universitas
Petani terus mencangkul meski pak camat ingkar janji
Tak menggerutu setengah hari antre cuma buat obat diare
Tak gusar berdesakan bayar listrik atau beli karcis kereta api
Sabar bikir KTP harus menunggu lurah pulang menjahir safari
Terima nasib punya karcis di bus berjongkok sampai pagi
Berpanas-panas di atap kereta api mereka tak sakit hati
Dicegat polisi belum tentu bersalah tidak berani marah
Merasa bernegara memang harus begini
Karena kelewat mencintai republik ini

Bangga aku jadi rakyat Indonesia
Kepada delapan puluh persen penduduk yang rajin bangun pagi
Yang tak selalu bisa pergi berobat setiap kalo nyeri uluhati
Hidup adalah memikul-mikul kayu bakar bukan buat sarapan nasi
Belum tentu baca koran atau nonton televisi
Tak iri orang kota masuk restoran sebulan gaji pegawai negeri
Tahu ada pejabat mengutil padahal duitnya lebih sepeti
Tak selalu ada makan siang namun tak memilih mencuri
Madep ngalor sugih
Madep ngidul sugih
Yakin kekayaan ada di dasar hati
Kalau mereka hanya diam karena teramat mencintai negeri seelok ini

Bangga aku jadi rakyat Indonesia
Melihat dosen bersekolah tinggi tak malu nyambi jadi sopir taxi
Profesor tak henti meneliti kendati pensiun tak cukup buat kalau sakit nanti
Guru besar naik KRL supaya kredit motor lekas terlunasi
Semua pasrah lowongan SMA diisi sarjana lulusan SMA jadi tukang cuci
Tak bersuara salah siapa demi ingin hidup terus terlakoni
Tak bertanya minyak dari bumi buat siapa kalau minyak tanah langka
Tak menggugat katanya gemah ripah tapi beli beras saja susah
Kalau mereka hanya termangu karena teramat mencintai bumi pertiwi ini

Simak juga:  Puisi Kirjomulyo

Bangga aku jadi rakyat Indonesia
Lebih setengah abad merdeka mereka tak minta hak istimewa
Berharap saja kapan anak-anak bisa makan pagi dan pergi sekolah negeri
Duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan sebaya di luar negeri
Doa orang tua tak mampu sekolah tinggi anak bisa menjadi orang berarti
Kalau mereka hanya tepekur karena teramat mencintai negeri sepenuh hati

Bangga aku jadi rakyat Indonesia
Masih gigih berjalan kendati kehilangan mendapat cukup makan cukup pangan
Tak ada dendam yang berjasa terabaikan yang mengabdi tersingkirkan
Tersaruk-saruk atlet veteran menjual mendali buat makan
Hujan batu di negeri orang karena emas di negeri sendiri tak memberi pekerjaan
Masih tekun menanti kapan di stasiun tempat bisa hidup pantas akan tiba
Kalau mereka masih tak bertanya tak berkata-kata
Karena teramat mencintai republik sepermai ini

Bangga aku jadi rakyat Indonesia
Masih tersenyum padahal sudah lapar sekali
Masih terdiam padahal sudah perih sekali
Masih menerima padahal sudah pilu sekali
Masih bertahan padahal sudah payah sekali
Belum menangis dari jatuh-bangun berkali-kali
Dibohongi berulang-ulang kali
Mereka kuat karena merasa hidup memang harus begini
Atau barangkali karena niscaya Gusti ora sare.

Indonesia, 2008-2011

Simak juga:  Landung Simatupang Tampil di Tembi Rumah Budaya

(Dari Antologi Sosial 51 Penyair Pilihan “Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia“, Kosa Kata Kita, 2012.)

 

Catatan:

KALI ini di rubrik Puisi-puisi Kebangsaan hadir puisi dari penyair Handrawan Nadesul berjudul “Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia”. Puisi ini terhimpun di dalam buku Antologi Puisi Sosial 51 Penyair Pilihan “Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia“. Simaklah puisi ini dengan pikiran jernih, sehingga nantinya akan tersirat bagaimana kepedulian penyair yang dokter ini dalam persoalan kebangsaan kita.

Handrawan Nadesul lahir di Karawang, Jawa Barat, 31 Desember 1949. Dokter lulusan Universitas Atmajaya Jakarta ini menulis sejak SMA pada tahun 1967, berupa cerita pendek, esai sastra dan puisi. Beberapa buku kumpulan puisinya antara lain, Surat-surat yang Tak Terkirimkan (1975), Sajak-sajak di Bawah Matahari (1980), Sajak-sajak Pergi Berjalan Jauh (2005), dan Forget Me Not (2016). Puisinya juga terhimpun di banyak buku antologi puisi bersama, seperti Negeri Abal-Abal (2013), Negeri Langit (2014), Negeri Laut (2015) dan Negeri Awan (2017). Selain itu ia juga menulis sejumlah buku-buku tentang kesehatan.

Bila Anda ingin berpartisipasi, silakan kirim karya puisi-puisi “Kebangsaan” tersebut ke [email protected]m. Kami tunggu. Tabik. (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Foto dan Puisi: Dua Karya Seni Dalam Satu Antologi Puisi

Antologi puisi yang diberi judul ‘Kepundan Kasih’, bukan hanya berisi puisi, tetapi juga berisi karya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *