Sabtu , 27 Februari 2021
Beranda » Sastra » Puisi dan Fotografi Di Tembi
Ita Fauzia (Ft: Ist)

Puisi dan Fotografi Di Tembi

Puisi selama ini terbiasa berinteraksi dengan musik, sehingga dikenal ada musikaliasi puisi, lagu puisi, atau puisi yang digarap sebagai drama dan dipadukan dengan puisi dan dikenal dengan drama dan lagu. Pendek kata, sebagai ekspresi budaya, puisi bisa berinteraksi dengan karya seni lainnya.

Kali ini, gelaran sastra di Tembi Rumah Budaya, yang menyajikan peluncuran antologi puisi rupa ‘Di Balik Lensa Kata’, antologi puisi kolaborasi Dr. Novi Indrastuti, pengajar di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya UGM, dan  Prof.Dr Harno Dwi Pranowo, guru besar kimia di FMIPA UGM, Sabtu malam 21 April 2017  di Museum Tembi Rumah Budaya, dihadiri bukan hanya publik sastra, tetapi para dosen UGM termasuk pejabat rektorat UGM.

Hadir di antaranya, Wawan Rusiawan, Direktur Riset dan Pengembangan Badan Ekonomi Kreatir RI, Prof.Dr. Budi Wignyosukarto, Wakil Rektor  Bidang  SDM dan Aset UGM, Dr. Wening Udasmoro, Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM dan sejumlah staf pengajar UGM lainnya. Dan juga sejumlah arsitek alumni dari Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Para pembaca puisi, selain penyairnya Novi Indrastuti, tampil beberapa pembaca yang lebih dikenal sebagai akademisi dan dokter spesialis yang pekerjaan sehari-harinya tidak bersentuhan langsung dengan sastra, lebih-lebih puisi. Mereka adalah Dr. Supra Wimbarti, M.Sc, Psikolog,  dosen Fakultas Psikologi UGM., Dr.dr Ita Fauzia Hanoum, MCE, Dr.dr. Halida Wibawaty, Sp.M.

Simak juga:  Noorca dan Yudhis Tampil di Sastra Bulan Purnama

Dua dokter disebut terakhrit Ita Fauzia dan Halida Wibawaty, sudah beberapakali tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama, Tembi dan kali ini keduanya kembali tampil membaca puisi karya Novi Indarstuti, yang beinteraksi dengan karya fotografi. Ita Fauzia membaca tiga puisi, masing-masing berjudul ‘Di Sela Pucuk-Pucuk Pinus’; ‘Telaga Memori’; dan ‘Karang Jiwa Yang Resah’.

Halida Wibawaty membaca tiga puisi berjudul ‘Senandung Doa’; ‘Meniti Lorong Kehidupan’; dan ‘Sang Pemimpi Di Tengah Lautan Pasir’. Supra Wimbarti, psikolog membaca dua puisi ialah ‘Lilin Keikhlasan’ dan ‘Senandung Alam’

Ita Fauzia, yang sudah mulai terbiasa membaca puisi, nampak terlihat dia mencoba memahami karakter puisi dan mengekspresikan melalui gerak tangan, perubahan mimik muka bahkan gerak tubuh. Hal yang sama juga dilakukan Halida Wibawaty. Kedua dokter ini terlihat sudah mulai terbiasa dengan puisi, dan bahkan menikmatinya. Supra Wimbarti, psikolog, tampil tanpa canggung, seolah seperti sudah terbiasa membaca puisi.

Novi Indrastuti dan Harno Dwi Pranowo, tampil bersama, yang satu membaca puisi, dan satunya menjelaskan karya fotografinya. Dalam penampilannya, Harno menayangkan foto karyanya, dan kemudian Novi membaca puisi karyanya yang berdampingan dengan karya fotografi,

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (49)

Seorang Guru Besar Emeretus UGM  dan dikenal sebagai kritikus sastra, Rachmat Djoko Pradhopo ikut membacakan puisi karya Novi Indrastuti berjudul ‘Daun Kuning Merabuk Bumi’ dan ‘Menggemgam Warisan Adilihung’. Rachmat Djoko Pradhopo yang sudah terlihat tua, membaca puisi sambil duduk.

Puisi dan fotografi, dalam acara ini seperti terus saling mengisi, baik saat dibacakan atau ditayangkan melalui LCD. Keduanya saling mengisi dam memaknai dan keduanya memiliki nuansa puitis yang berbeda.

Harno Depe, demilian panggilan dari fotografer puitis ini menyampaikan, bahwa dalam mengambil satu obyek, selain menyajikan panorama, namn perlu menghadirkan fokus pada karya foto itu, sehingga pada foto yang berkolaborasi dengan puisi berjudul ‘Menatap Bayang Senja’, Harno menampilkan sosok seseorang, yang ditonjolkan pada hidungnya yang mancung, sosok seseorang itu adalah Novi Indrasuti.

“Jadi, dalam suasana senja di tepi pantai, terlihat matahari akan tenggelam, di sana Novi dalam suasana samar-samar dibungkus senja,” ujar Harno Depe (Kang Tius)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *