Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Sastra » Puisi Bening dan Wangi di Sastra Bulan Purnama
33 Perempuan Penyair Seusai Tampil Membaca Puisi (ft. Ist)

Puisi Bening dan Wangi di Sastra Bulan Purnama

Bulan Desember seolah tak bisa dipisahkan dari perempuan, mungkin ada angka pada penanggalan yang menunjuk hari ibu disana, sehingga bulan desember indentik milik perempuan. Untuk merespon hal itu, Sastra Bulan Purnama yang diselenggarakan Tembi Rumah Budaya, pada bulan desember memberi ruang pada 33 perempuan penyair untuk tampil membacakan puisi karyanya. Mereka, 33 perempuan penyair tersebut menerbitkan satu antologi puisi yang diberi judul ‘Perempuan Di Ujung Senja’.

33 Perempuan datang dari kota yang berbeda dan memiliki profesi yang berlaianan, selain sebagai ibu rumah tangga, ada yang menajdi guru SLTP dan SLTA, pengajar di Perguruan Tinggi, pegawai negeri dan lainnya. Mereka bukan hanya baru saja menulis puisi, tetapi sudah sering ikut antologi puisi bersama dan sudah ada yang menerbitkan antologi puisi tunggal.

Malam Sastra Bulan Purnama, yang meriah dengan kehadiran banyak perempuanm bahkan ada 33 Mahasiswa dari UNESA Surabaya, dengan satu bus hadir menikmati Sastra Bulan Purnama yang dibawa oleh dosennya, Riri Rengganis, seorang dosen sekaligus penyair dan pernah tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama.  Diujung tahun 2017, Sastra Bulan Purnama perempuan penyair tampi penuh gairah dan semarak.

Penampilan Christine Francesca, yang menyanyikan puisi karyanya menututup pertunjukan Sastra Bulan Purnanama edisi 75, yang diselenggarakan Jumat 8 Desember 2017 di Pendhapa Tembi Rumah Budaya. Penampilan Christine memang menarik, iringan musiknya menghidupkan lagu puisi yang dibawakannya.

Menutup akhir tahun 2017, Sastra Bulan Purnama yang diselenggarakan Tembi Rumah Budaya, dan sudah memasuki edisi 75 menampilkan 33 Perempuan Penyair dari berbagai kota dengan meluncurkan satu antologi puisi bersama yang berjudul ‘Perempuan Di Ujung Senja’ diterbitkan Tonggak Pustaka, Yogyakarta.

Simak juga:  Noorca Massardi Di Sastra Bulan Purnama

Dari 33 Perempuan 6 di antara berhalangan hadir, dan mereka datang dari kota-kota yang berbeda, Jakarta, Bandung. Temanggung, Surabaya, Sidoarjo, Sragen, Semarang dan Yogyakarta, Pekalongan. Mereka mengirimkan 5 puisi dan 3 di antaranya diterbitkan dalam satu antologi bersama.

Beberapa di antara dari 33 perempuan penyair sudah beberapa kali tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama, dan di antara mereka sudah ada yang saling kenal, dan ada yang baru bertemu dalam peluncuran antologi puisi bersama, tetapi melalui media sosial masing-masing sudah saling kenal, sehingga masing-masing saling memberi komentar untuk bisa bertemu di Tembi Rumah Budaya dalam acara Sastra Bulan Purnama.

Karena Sastra Bulan Purnama menampilkan perempuan, yang kebanyakan mengenakan kebaya, sehingga SBP 75, yang jatuh bulan Desember 2017 seperti terasa wangi dan bening. Para penampil memang semuanya bening-bening. Jadi, Sastra Bulan Purnama edisi 75 penuh wewangian dan bening. Anggap saja nuansa bening menggantikan langit yang kelabu tertutup mendung, dan bulan sudah tidak lagi tampak.

Di antara bening dan wangi, gerimis di luar tipis, namun hanya sebentar sehingga tidak mengganggu hadirin yang hadir, yang malam itu memenuhi ruang depan, tidak hanya di kursi yang disediakan di pendhapa, tetapi memenuhi kursi di angkringan dan berdiri di sekitar pendhapa. Sejuk angin seolah tidak terasa dingin, karena cukup banyaknya hadirin yang datang.

Karena yang tampil membaca puisi cukup banyak, sehingga pertunjukan tidak menampilkan penyair satu persatu secara bergantian, melainkan ditampilkan dalam satu kelompok. Bahkan kelompok dari Temanggung yang jumlahnya 7 orang tampil bersama dan secara bergantian masing-masing tampil membacakan puisi karyanya.

Simak juga:  Butet Kartaredjasa dan Landung Simatupang Dalam Lagu Puisi Nana Ernawati di Tembi

Bahkan, sebelum kelompok Temanggung tampil membaca puisi, salah seorang di antaranya, Nella Widodo namanya, tampil mengalunkan lagu puisi yang diiringi gesekan biola oleh Doni Onfire. Lainnya, seperti Dini Rahmawati, Selsa, Ika Permatahati, Henny Prayoga, Tri Rahayu dan Umi Prihwanti membacakan puisi karyanya.

Selain pembacaan puisi, tidak ketinggalan, Doni Onfire bersama kelompoknya mengolah puisi karya Julia Utami dan Ristia Herdiana menjadi lagu.. Doni, yang spesialis menggesek biola, dan sudah berulang tampil di Sastra Bulan Purnama mengolah puisi karya sejumlah penyair.

“Saya selalu ingin kembali dan kembali di Tembi untuk puisi” kata Selsa penyair dari Temanggung dan sudah  beberapa kali tampil di Sastra Bulan Purnama.

Hal yang sama juga dialami oleh Heti Palestina dari Surabaya, ingin kembali di Tembi untuk puisi. Maka, Heti dan empat perempuan lainnya yang tampil bersama di Sastra Bulan Purnama edisi 75, seperti Yuliani Kumudaswari (Sidoarjo), Ristia Herdiana (Jakarta) dan Novi Indrastuti (Yogya) akan mempersiapkan antologi puisi tunggal dan di bulan Juli 2018 akan diluncurkan di Sastra Bulan Purnama. Mari kita suport semangatnya.(*)

Lihat Juga

7 Tahun Sastra Bulan Purnama, Puisi di ‘Rumah Kita’

Sastra Bulan Purnama yang diselenggarakan setiap bulan kini telah memasuki usia 7 tahun, dan akan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *