Beranda » Pendidikan » Proses Kreatif, Novel Pertama Ditulis Seminggu

Proses Kreatif, Novel Pertama Ditulis Seminggu

SAYA sungguh bersyukur, karena kegemaran membaca yang terbangun sejak masa kecil dulu telah membuahkan hasil. Hasilnya, menurut saya, sungguh merupakan sesuatu yang berharga. Bahkan teramat berharga. Ya, hasilnya, telah membuat saya menyukai dunia kepenulisan. Suatu ‘dunia’ yang membuat kehidupan saya menjadi sangat berarti, menjadi indah dan bermakna.

Saya lahir di sebuah kota kecil, kota kabupaten, Bengkalis. Di masa-masa itu, kota kelahiran saya itu tak hanya sebuah kota kecil, tapi juga terbilang sepi, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota, sehingga sumber-sumber bacaan nyaris sulit didapatkan. Koran, majalah dan sejenisnya sulit diperoleh. Andaikan ada, itu pun hanya dimiliki oleh mereka yang berlangganan, dan itu pun jumlahnya sangatlah terbatas. Koran-koran atau majalah-majalah itu diterima melalui pengiriman pos. Kalau media itu terbit di Jakarta dan kota-kota lain, paling cepat sampainya seminggu lebih atau dua mingguan. Tak jarang pula sampai tiga mingguan lebih baru sampai ke tujuan. Jadi, di masa-masa itu, tak pernah ada kios-kios koran dan sejenisnya.

Tapi sekarang, semuanya sudah berbeda. Kota kelahiran saya yang dulu terkesan sunyi, miskin, terpuruk, setelah memasuki era otonomi daerah berubah drastis. Sekarang kota kelahiran saya itu menjadi ibukota kabupaten terkaya kedua di seluruh Indonesia, setelah Kutai Kartanegara sebagai kabupaten terkaya pertama. Sayang, saya sudah tinggal jauh di Yogya, sehingga tidak ikut merasakan perubahan itu.

Beruntung almarhum ayah saya semasa hidupnya juga punya kegemaran membaca. Sekali pun tinggal di kota kecil yang terletak di sebuah pulau kecil, di tepian Selat Melaka, Ayah saya berlangganan dua majalah dan satu surat kabar. Dua majalah itu, majalah Sketsmasa yang terbit di Surabaya, dan satunya kalau tidak salah ingat, majalah Panorama (entah terbit di Surabaya atau Jakarta). Sedangkan surat kabar, jika tak salah ingat juga, namanya Demokrasi (terbit di Pekanbaru, atau di mana). Saya tidak tahu persis, bagaimana bisa Ayah ketika itu berlangganan majalah berita Sketsmasa terbitan Surabaya, yang ketika itu terasa nun jauh di sana, juga majalah semi hiburan Panorama.

Dari majalah-majalah serta surat kabar itulah kegemaran membaca saya terbangun sejak kecil. Jika majalah-majalah atau surat kabar itu datang, saya seperti berlomba dengan Ayah untuk bisa membacanya lebih dulu. Dan, bermula dari membaca majalah dan koran itu, saya pun mulai menyukai bacaan-bacaan lainnya seperti buku-buku dan novel-novel.

Sama seperti halnya surat kabar dan majalah, ketika itu buku-buku bacaan termasuk novel-novel, juga tak mudah diperoleh. Ketika itu di kota kelahiran saya hanya ada satu toko buku, kecil dan sederhana. Buku-buku yang tersedia, biasanya buku-buku yang berhubungan dengan pelajaran di sekolah, sedang karya-karya fiksi seperti novel sangat jarang.

Singkat cerita, suatu hari di tahun 1968, di toko buku itu saya melihat ada buku kumpulan cerpen “Dua Dunia” karya N.H. Dini yang diterbitkan CV Nusantara, Bukittinggi, Sumatera Barat, dan novel “Menangkap Pencuri Anak Perawan” karya Suman HS. Kedua buku itu saya beli. Dan dari kedua buku fiksi itu jugalah tumbuh dan terbangun kesukaan saya terhadap dunia penulisan fiksi, walau itu baru terwujud pada sepuluh tahun kemudian. Ya, sepuluh tahun kemudian, barulah saya wujudkan kesukaan terhadap dunia penulisan fiksi itu dengan menulis sebuah novel.

 

Barter Pacar

Novel pop “Barter Pacar” merupakan karya novel saya yang pertama. Novel yang diterbitkan Penerbit Cemerlang, Jakarta, Mei 1978 ini saya tulis dalam waktu seminggu di bulan Maret 1978.

Saya tidak berbagi cerita yang ada di novel tersebut, tapi saya akan berbagi bagaimana kisah novel itu terwujud. Suatu hari saya membeli sebuah novel karya Benny L. Jayasaputra di kios buku, Shopping Center, Yogya (sekarang Taman Pintar). Setelah membeli novel itu, saya kembali ke kantor koran “Berita Nasional“, tempat saya bekerja, di jalan Brigjen Katamso 15. Di kantor, karena belum ada kerjaan, saya pun langsung membacanya.

Saya lupa judul novel karya Benny itu. Di novel itu saya temukan alamat penerbitnya. Seketika itu juga muncul gagasan untuk bertanya apakah mau menerima dan menerbitkan novel karya saya. Padahal sesungguhnya saat itu saya belum punya naskah novel walau selembar kertas pun. Surat pun langsung saya ketik di kantor, dan kemudian saya kirim ke penerbit tersebut.
Sekitar sepuluh hari kemudian balasan dari penerbit itu pun datang. Isinya: naskah novel saya ditunggu secepatnya. Dalam waktu dua minggu, naskah novel sudah harus diterima penerbit!
Bagi saya ini adalah peluang dan tantangan. Saya pun bertekad untuk tidak melepaskan peluang itu. Bagaimana pun caranya, saya harus bisa mewujudkan novel itu dalam waktu seminggu. Permasalahannya, saya tidak punya mesin ketik sendiri.      Karena itu, tak ada pilihan selain menggunakan mesin ketik kantor.

Setiap malam sehabis kerja, saya pun membawa pulang mesin ketik kantor dengan berjalan kaki. Jadi, setiap malam saya jalan kaki dari kantor di Jl Brigjen Katamso ke tempat tinggal saya di Bintaran Tengah, sambil menenteng atau mengepit mesin ketik yang lumayan berat juga.

Begitulah, sesampai di rumah (Asrama Riau), saya pun langsung mengetik cerita, yang ide ceritanya sudah ditemukan siang hari saat di kantor. Dan, pagi hari mesin ketik itu saya bawa lagi ke kantor. Selama seminggu saya lakukan semua itu. Ya, sesuai tekad saya, novel itu selesai dalam waktu seminggu. Begitu selesai langsung saya kirim naskahnya ke penerbit di Jakarta. Itu terjadi di akhir Maret 1978.

Dan, sebulan kemudian, tepatnya di bulan Mei 1978, novel pertama saya itu pun terbit.
Ini hanya sekadar contoh, dalam proses kreatif, saya seringkali melakukannya secara tiba-tiba, dadakan, spontan dan tidak terencana. Novel “Barter Pacar” ini misalnya, ide ceritanya muncul dadakan, dan waktu penulisannya hanya seminggu. Semua serba dadakan dan spontan. Andai ketika itu penerbit tidak memberi batas waktu dua minggu naskah sudah harus diterimanya, mungkin naskah novel itu tak terwujud. Sejumlah karya saya yang lain, juga terwujud dengan model dan gaya yang sama. Tiba-tiba, dadakan, spontan, dan tidak terencana.

Saya punya pengalaman, menulis novel secara terencana, bahkan sudah ditunggu-tunggu oleh editor di salah satu penerbit, bertahun-tahun naskah novel itu tak kunjung selesai. Bahkan sampai hari ini. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIV: Dialog

RAISA: Pemilu Perlu ditinjau Lagi Aturannya Perkenalkan nama saya Raiza dari HMI, kuliah di Fakultas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *