Beranda » Pendidikan » Bung Hatta Ungkapkan Sekitar Proklamasi (2): Proklamasi Ditulis Bung Karno Sendiri

Bung Hatta Ungkapkan Sekitar Proklamasi (2): Proklamasi Ditulis Bung Karno Sendiri

ADA dongeng dan legenda di sekitar Proklamasi Kemerdekaan? Dari buku “Sekitar Proklamasi” yang ditulis Bung Hatta itu jawabannya jelas. Legenda itu memang ada. Menurut Bung Hatta, dalam legenda baru itu muncul nama Sajuti Melik sebagai seseorang yang disebut memberikan kata yang penghabisan tentang isi Proklamasi. Benarkah? Bung Hatta membantahnya, tidak.

Dinyatakan tegas oleh Bung Hatta, dokumen yang asli membuktikan bahwa Proklamasi itu ditulis dengan tangan Bung Karno sendiri. Sedangkan patokan kalimatnya dan gaya bahasanya sama sekali tak sesuai dengan stijl Sajuti Melik.

Di tahun 1950, seperti ditulis Bung Hatta, pernah dibentuk Panitia Sejarah yang dipimpin Prof. Dr. Prijono. Ketika itu ia sudah meminta Panitia Sejarah itu untuk mengadakan penyelidikan dan penelitian terhadap peristiwa-peristiwa sesungguhnya di sekitar Proklamasi. Tetapi ternyata Panitia Sejarah itu tak sempat bekerja. Bahkan rapat pun tidak pernah diadakan.

Diuraikan oleh Bung Hatta, ketika itu sekali-kali ada tersiar dalam surat kabar yang menambah “Dichtung“. Lengkapnya ia menulis:

 

Sekali peristiwa ada ditulis surat kabar Kedaulatan Rakyat di Yogya, bahwa Proklamasi 17 Agustus 1945 terjadi di Rengasdengklok. Pernah pula ditulis cerita bahwa di Rengasdengklok itu Sukarno dan Hatta menandatangani naskah Proklamasi Indonesia Merdeka di bawah todongan pistol pemuda. Cerita romantik itu dikutip oleh pengarang-pengarang Amerika. Mr. Dr. C. Smit dalam bukunya “De Indonesische Quaestie” terbit di tahun 1952, mengutip cerita-cerita bohong itu. Waktu saya tegur ia dari Honolulu tahun yang lalu (1968) dengan menunjukkan keterangan yang bertentangan satu sama lain dalam bukunya, ia bilang terima kasih atas teguran itu dan minta maaf, karena ia mengutip berita itu dari pengarang-pengarang Amerika.

 

Kebenaran Makin Kabur

Diungkapkan pula oleh Bung Hatta tentang adanya sejumlah rekayasa lain yang berkaitan dengan peristiwa Proklamasi itu. Dengan adanya rekayasa itu, Bung Hatta memandang bahwa kebenaran tentang makin kabur, dan pemalsuan sejarah makin bertambah. Simak apa yang dikemukakan Bung Hatta di bawah ini.

 

Di masa kekuasaan Orla pada suatu waktu sesudah tanggal 17 Agustus diadakan tamasya ke Rengasdengklok di bawah anjuran PKI, disertai oleh orang-orang Partai Murba dengan maksud untuk memalsukan sejarah. Pada kesempatan itu diperingati dengan khikmat suatu peristiwa ‘yang tidak pernah terjadi’. Digembar-gemborkan bahwa pada 16 Agustus 1945 atas dorongan pemuda diadakan di sana rapat antara Sukarno-Hatta dan pemimpin-pemimpin pemuda, yang menelorkan konsep Proklamasi Kemerdekaan.

Pada tamasya itu diputuskan, bahwa meja yang dipergunakan untuk konperensi ‘yang tidak ada itu’ akan disimpan sebagai kenang-kenangan dalam suatu meseum sejarah di Yogya atau Jakarta. Dan orang Tionghoa yang punya rumah itu merasa bangga dan menyerahkan meja tersebut beserta suatu stel piring mangkok yang dalam fantasinya dipergunakan oleh Bung Karno untuk makan. Waktu kami diculik oleh pemuda ke Rengasdengklok, rumah tuan tanah orang Tionghoa itu dikosongkan untuk kami dan yang empunya disuruh pindah ke tempat lain. Di mana dia tahu bahwa satu stel piring pinggan yang ditunjukkannya itulah yang dipergunakan oleh Bung Karno?

Demikianlah! Kebenaran tentang sejarah makin kabur. Pemalsuan sejarah makin bertambah!

 

Dan, pada sekitar perayaan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan yang ke-24, menurut Bung Hatta, muncul pula kenang-kenangan baru dari orang-orang lama yang ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945. Mereka antara lain Mr. Mohammad Roem, Mr. Subardjo dan Sukarni. Mr. Roem mendasarkan paandangannya pada uraian orang lain, tetapi ada juga sesat dalam menangkap bukti dan memahamkan fakta sejarah.

Mr. Subardjo, urai Bung Hatta, menulis dalam memoirnya, yang sebagian dikutip pers, beberapa fakta yang salah ingat. Sukarni tidak mengeluarkan kenang-kenangan sendiri sendiri, hanya mengoreksi ingatan Subardjo. Bung Hatta menjelaskan lebih jauh dalam tulisannya, sebagai berikut:

 

Ada lagi seorang penulis pemuda yang mencoba menganalisa peristiwa yang tidak diketahuinya dalam sejarah itu. Antara uraian yang belum lagi tiga kolom majalah, ia sudah menulis dua hal yang bertentangan. Kalau tidak pandai mempergunakan logika dan mengambil konklusi yang berdasarkan fakta dalam sejarah, orang tak akan pernah menjadi ahli sejarah. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIV: Perempuan Pelestari Pancasila

DISKUSI Kebangsaan XIV, April 2018, memilih pokok bahasan “Perempuan Pelestari Pancasila”. Perempuan ditantang berperan aktif …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *