Selasa , 20 November 2018
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Pola Kepemimpinan ala Nenek Moyang

Pola Kepemimpinan ala Nenek Moyang

PADA dasarnya hanya ada dua pilihan bila kita hidup dalam suatu masyarakat, yakni sebagai pemimpin atau sebagai yang dipimpin yang lazim di sebut anggota. Sebagai anggota yang, kita harus memiliki loyalitas, patuh dan taat pada perintah atasan sebagai pemimpin dan rela berkorban serta bekerja keras untuk mendukung atasan dalam pencapaian tujuan yang dalam ajaran agama, disebut Satya Bela Bhakti Prabhu.

Sedangkan sebagai pemimpin, harus mempunyai pengetahuan dan kemampuan untuk memimpin (kapabilitas) serta dapat diterima oleh yang dipimpin ataupun atasannya (akseptabel).

Kemampuan dalam arti mampu memimpin, mampu mengorbankan diri demi tujuan yang ingin dicapai, baik korban waktu, tenaga, materi dll serta dapat diterima, dalam arti dapat dipercaya oleh anggota masyarakatnya dan pejabat yang di atasnya.

Berdasarkan kriteria Abhekamika

Pemimpin harus tampil simpatik, berorientasi ke bawah dan mengutamakan kepentingan rakyat banyak dari pada kepentingan pribadi atau golongannya.

Kemudian Prajna, mempunyai arti pemimpin harus bersikap arif dan bijaksana dan menguasai ilmu pengetahuan teknologi, agama serta dapat dijadikan panutan bagi rakyatnya.

Harus bersifat ‘Utsaha’: maksudnya pemimpin harus proaktif, berinisiatif, kreatif dan inovatif (pelopor pembaharuan) serta rela mengabdi tanpa pamrih untuk kesejahteraan rakyat.

Harus bersifat ‘Atma Sampad’; artinya pemimpin harus mempunyai kepribadian : berintegritas tinggi, moral yang luhur serta obyektif dan mempunyai wawasan yang jauh ke masa depan demi kemajuan bangsanya.

Berjiwa ‘Sakya Samanta’, artinya pemimpin sebagai fungsi kontrol mampu mengawasi bawahan (efektif, efisien dan ekonomis) dan berani menindak secara adil bagi yang bersalah tanpa pilih kasih.

Piminan harus berjiwa ‘Aksudra Pari Sakta’ maksudnya pemimpin harus akomodatif, mampu memadukan perbedaan dengan permusyawaratan dan pandai berdiplomasi, menyerap aspirasi bawahan dan rakyatnya.

Simak juga:  Pemimpin Tanpa Rasa Bersalah

Sebuah Sastra Weda yang telah digubah dengan bentuk Kakawin/Kakawin Ramayana Bab I Sloka 3 menyebutkan :

“Gunamanta Sang Dasaratha, Wruh Sira ring Weda, Bhakti ring Dewa Tan Marlupeng pitra puja, masih ta sireng swagotra kabeh’.

Maksudnya bahwa Raja Dasaratha adalah seorang pemimpin yang memahami pengetahuan suci Weda, taat beragama, Bhakti kepada Tuhan dan tidak melupakan leluhur atau pendahulu-pendahulunya serta adil dan mengasihi seluruh rakyatnya.

Raja berputrakan Sri Rama ini adalah seorang pemimpin yang patut dijadikan panutan. Artinya seorang pemimpin harus menguasai ilmu pengetahuan & teknologi, agama, taat kepada Tuhan, hormat kepada para pahlawan dan pendahulu-pendahulunya, adil serta sayang kepada rakyatnya.

Disamping itu disebut pula tentang Panca Sthiti Dharmaning Prabhu.

Ilmu kepemimpinan yang digariskan Raja Harjuna Sasrabahu, kepemimpinan yang dikenal dengan Panca Sthiti Dharmaning Prabu (Lima kewajiban Sang Pemimpin) yang terdiri dari :

“Tut Wuri Handayani” : Maksudnya seorang pemimpin senantiasa memberikan dorongan, motivasi dan kesempatan bagi para Generasi Mudanya atau anggotanya untuk melangkah ke depan tanpa ragu-ragu.

“Ing Madya Mangun Karsa”, Maksudnya seorang pemimpin di tengah-tengah masyarakatnya senantiasa berkonsolidasi memberikan bimbingan dan mengambil keputusan dengan musyawarah dan mufakat yang mengutamakan kepentingan masyarakat.

“Ing Ngarsa Sung Tulada”, Artinya seorang pemimpin sebagai seorang yang terdepan dan terpandang senantiasa memberikan panutan-panutan yang baik sehingga dapat dijadikan suri tauladan bagi masyarakatnya.

“Sakti Tanpa Aji” artinya seorang pemimpin tidaklah selalu menggunakan kekuatan atau kekuasaan di dalam mengalahkan musuh-musuh atau saingan politiknya. Namun berusaha menggunakan pendekatan pikiran (Viveka), lobiing, sehingga dapat menyadarkan dan disegani pesaing-pesaingnya.

“Maju Tanpa Bala”, berarti pemimpin sebagai seorang ksatria senantiasa berada terdepan dalam mengorbankan tenaga, waktu, materi, pikiran, bahkan jiwanya sekalipun untuk kesejahteraan dan kelangsungan hidup masyarakat. (Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

Beberapa Ajaran Kepemimpinan

PADA dasarnya hanya ada dua pilihan bila kita hidup dalam suatu masyarakat, yakni sebagai Pemimpin …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.