Selasa , 20 November 2018
Beranda » Peristiwa » Kisah Cinta Hartini dengan Bung Karno (2) : Pertemuan Kedua Terjadi di Candi Prambanan
Bung Karno dan Hartini (foto: net)

Kisah Cinta Hartini dengan Bung Karno (2) : Pertemuan Kedua Terjadi di Candi Prambanan

Harapan Hartini ternyata tidak sia-sia. Keinginannya untuk bertemu lagi dengan Bung Karno terwujud. Tak berapa lama kemudian, tepatnya di tahun 1953, pertemuan kedua pun terjadi. Ketika itu Bung Karno, dalam kapasitasnya sebagai Presiden RI, meresmikan pembukaan panggung terbuka Ramayana di Candi Prambanan, Yogyakarta. Hartini saat itu juga berada di tengah-tengah antusiasnya warga sekitar menyaksikan peresmian panggung Ramayana tersebut.

Kembali dada Hartini bergetar ketika berjabatan-tangan untuk kedua kalinya dengan Bung Karno. Seperti pertemuan yang pertama di Salatiga tahun 1952, Bung Karno tersenyum ramah, dan penuh kesantunan saat menjabat tangannya. Dan, pada pertemuan kedua itu, Bung Karno tak lagi menanyakan namanya. Kali ini, Bung Karno bertanya dengan penuh perhatian tentang kabar dan keadaannya. Dengan tersipu dan penuh hormat, Hartini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan Bung Karno itu dengan apa adanya.

Tidak seperti pertemuan pertama, pada pertemuan kedua di Candi Prambanan keduanya terlibat pembicaraan yang agak sedikit leluasa. Bung Karno tak hanya bertanya, tapi juga bercerita banyak hal kepada Hartini. Bagi Hartini, pertemuan dan perbincangannya dengan Bung Karno saat itu sungguh sangat berkesan. Ia benar-benar merasa tersanjung, karena sebagai rakyat biasa, ia merasa telah diperhatikan oleh seorang Presiden yang dihormati, dipuja dan dikagumi rakyat. Tidak semua prempuan punya kesempatan seperti ini, pikirnya. Kesempatan untuk bertemu-muka, berjabattangan dan berbincang-bincang agak lama dengan seorang Presiden.

Sepulang dari Candi Prambanan, Hartini seakan tak pernah berhenti mengingat pertemuan keduanya dengan Bung Karno itu. Pertemuan itu sungguh berkesan dalam hatinya. Pertemuan itu sangat menyenangkan. Entah mengapa, setelah pertemuan itu, semangat dan gairah kehidupannya terasa begitu menyala-nyala. Senyum dan tatapan Bung Karno itu telah menggairahkan jiwa dan semangat hidupnya. Meski pun begitu terbersit juga perasaan ragu dan khawatir di dalam hatinya. Apakah Bung Karno juga mengingat-ingat pertemuan kedua di Candi Prambanan itu? Apakah dadanya juga bergetar saat bertemu dan berjabattangan lagi? Apakah ia juga mengharapkan pertemuan-pertemuan berikutnya? Beruntun tanya muncul di antara gelisah hatinya.

Sejak pertemuan kedua itu, Hartini memang tidak bisa mengingkari perasaan hatinya bahwa bahwa ia menjadi sering memikirkan Bung Karno. Bahkan ia pun sering  melamun sendiri, membayangkan wajah Bung Karno, membayangkan senyumnya yang penuh pesona, anggun dan berwibawa. Membayangkan tatap matanya yang menggetarkan dada. Tatap mata seorang lelaki tampan dan dewasa. Lelaki yang tahu betul bagaimana caranya menghormati dan menghargai seorang perempuan. Serta membayangkan bagaimana hangatnya pertemuan serta percakapan saat itu. Tetapi Hartini tetap sadar, bahwa lelaki yang dikaguminya itu, lelaki yang sering muncul dalam lamunannya dan meresahkan hatinya itu bukanlah lelaki sembarangan. Lelaki itu adalah seorang Presiden, seorang Kepala. Seseorang yang sangag dihormati dan disegani. Terlebih dari itu semua, lelaki itu juga sudah beristeri.

Menyadari dirinya hanyalah seorang perempuan biasa yang berstatus janda, dan tinggal  di kota kecil Salatiga, jauh dari keramaian ibukota Jakarta, Hartini sempat berpikir untuk tak lagi memikirkan dan mengkhayalkan Bung Karno. Ia khawatir telah melakukan sesuatu yang sia-sia, memikirkan seseorang yang ‘jauh dari jangkauan tangan’. Tetapi, setiap kali ia berusaha untuk melupakan , setiap kali itu pula senyum dan tatap muka Bung Karno kian membayanginya. Seakan senyum dan tatap mata Bung Karno itu hadir  di setiap desah dan detak langkahnya.

Berulangkali Hartini bertanya dalam hati, apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam dirinya? Apakah ia sedang terbakar gelora cinta? Apakah ia sedang jatuih cinta? Jatuh cinta dengan seorang lelaki terhormat dan terpandang? Apakah ini bukan hanya mimpi? Bukan hanya angan-angan dan khayalan dari seorang perempuan biasa? Berhari-hari Hartini mencoba mencari jawaban dari beruntun tanya yang ada dalam hatinya itu.

Namun berhari-hari pula ia dicekam rasa takut untuk mengetahui jawaban itu. Karena sesungguhnya, jawaban itu sudah ada di dalam hati kecilnya. Ya, di dalam hati kecilnya sudah ada jawaban itu. Ia memang sedang jatuh cinta. Jatuh cinta kepada seorang Presiden. Jawaban ini menakutkannya. Merisaukan hatinya. Karena ia sadar, jawaban itu rasanya sulit untuk diwujudkan. Jawaban itu hanya sekadar mimpi dan angan-angan belaka.

Terima Sepucuk Surat
Akan tetapi kegalauan hatinya tak berlangsung lama. Suatu hari ia dikejutkan dengan kedatangan seorang temannya. Sesungguhnya bukan kedatangan temannya itu yang mengejutkan, melainkan sesuatu yang dibawa oleh temannya itu yang telah membuat ia terkejut dan tergetar. Temannya itu membawa sesuatu, titipan dari seseorang yang terhormat dan terpandang di negeri ini.

“Terhormat dan terpandang di negeri ini? Siapa?” Hartini bertanya dengan dada berdebar.
“Dari Bung Karno. Dari Presiden kita.”
Debaran di dada Hartini semakin mengencang mendengar jawaban itu.
“Apa titipannya?”Hartini tak sabar lagi untuk mengetahui apa yang dititipkan Bung Karno lewat temannya itu.
“Sepucuk surat.”
“Surat?! Surat dari Bung Karno?!” Hartini seperti tak percaya mendengar apa yang dikatakan temannya itu.
Tanpa sempat lagi berpikir, bagaimana caranya sampai surat itu dititipkan Bung Karno lewat temannya, Hartini segera meminta titipan surat itu karena sudah tak sabar lagi untuk segera mengetahui isinya. Tapi, apa isinya?
Dengan dada berdebar dan tangan tergetar, Hartini membaca surat dari Bung Karno itu. Kata-kata yang tertera di dalam surat itu tak banyak. Hanya dua kalimat saja.
Ketika aku melihatmu untuk kali pertama, hatiku bergetar. Mungkin kau pun mempunyai perasaan yang sama..—

Di bawah kata-kata itu tidak tertulis nama Sukarno atau Bung Karno. Melainkan tertulis nama Srihana. Srihana, inilah nama samaran yang digunakan Bung Karno ketika menulis surat pertamanya itu kepada Hartini. Semula, Hartini memang sempat ragu dengan kebenaran surat itu. Tetapi setelah diberi p[enjelasan dan diyakinkan oleh temannya itu, barulah ia meyakininya. Dijelaskan oleh temannya, Bung Karno memang terpaksa menggunakan nama samaran Srihana  itu, demi menjaga kewibawaannya sebagai seorang Presiden.

Betapa leganya, betapa bahagianya hati Hartini menerima surat yang pertama dari Bung Karno itu. Surat dari seorang lelaki tampan dan terhormat, yang selama beberapa waktu selalu membayangi tidurnya. Kata-kata di dalam surat itu bagaikan taburan berjuta-juta mutiara, dan berjuta warna-warni bunga yang memenuhi ke seluruh hamparan hatinya. Surat itu sekaligus sebagai jawaban atas beruntun tanya dan keragiuan serta kegelisahannya selama ini. Ternyata ia tidak hanya berkhyalan sendiri. Tidak hanya berangan-angan sendiri. Tidak hanya berdebar dan tergetar sendiri. Perasaan itu juga dirasakan oleh Bung Karno. Presiden itu juga berdebar dan tergetar, di saat bertemu, bertatap muka dan berjabattangan.

Tanpa sadar, air mata gembira dan keharuan menetes di kelopak matanya. Ya, perempuan mana yang tak tersanjung dan terharu menerima sepucuk surat bersisi kata-kata cinta yang menggetarkan dari seorang Presiden iitu.  (Sutirman Eka Ardhana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.