Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Humaniora » Persahabatan itu Tak Mengenal Status

Persahabatan itu Tak Mengenal Status

JANGAN menghindar dari kenangan masa lalu. Karena sepahit atau seburuk apa pun kenangan, tetap indah untuk dikenang. Pada sekitar tahun 1970/1971, semasa sekolah di Kebumen, Jawa Tengah, saya punya kenangan menarik dalam hal persahabatan.

Suatu malam, saya nonton film di gedung bioskop yang berada di barat setasiun kereta api. Saya berkenalan dengan lelaki muda yang duduk di kursi sebelah. Saya sebut saja namanya, Mas Win.

Singkat cerita, saya dan Mas Win menjadi akrab. Kami sering janjian nonton bersama. Dan, setelah beberapa bulan berteman akrab, suatu hari saya bertemu dengannya di depan Pasar Tumenggungan.

Aku arep nyambut gawe disek. Wis ya,” katanya begitu usai berjabat tangan.

Sehabis berkata begitu, ia langsung menyeberang ke selatan jalan. Dan, di seberang jalan, di depan deretan toko-toko, saya melihat jelas ia menghampiri satu sepeda yang terparkir dekat toko. Di stang sepeda itu tergantung sebuah tas cukupan besar. Tas itu diambilnya. Kemudian ia bergegas berjalan ke arah timur, dan menghilang. Beberapa menit kemudian, ada seorang lelaki separuh baya mendekat ke sepeda itu, dan heboh kalau tas miliknya hilang.

Malam harinya, ketika bertemu dengannya di depan gedung bioskop, Mas Win langsung berkata,

“Kaget dengan pekerjaan saya? Ya, itulah pekerjaan saya, mencopet.”

Saya hanya tersenyum mendengar pengakuannya.

“Apapun pekerjaan Mas Win, Mas Win tetap sahabat saya,” kata saya.

 

‘Bajing Luncat’

Salah satu kebanggaan menjadi jurnalis atau wartawan adalah bisa bertemu dan bersahabat dengan siapapun. Bahkan, saya sering mengatakan kepada kawan-kawan ngobrol saya di angkringan, juga kepada mahasiswa di kelas, atau kepada siapa pun yang suka berbincang tentang profesi wartawan, bahwa bekerja sebagai wartawan atau jurnalis itu sungguh menyenangkan.

Di Yogya, pada awal tahun 1980-an, sebelum ada pelaksanaan OPK (Operasi Pemberantasan Kejahatan), saya  banyak meliput hal-hal yang berhubungan dengan dunia kriminalitas. Sebagai wartawan yang memilih liputan hukum dan kriminal, saya kemudian bisa berkenalan dan akrab dengan sejumlah orang yang terlibat dalam dunia kriminalitas itu.

Ada yang menarik dan berkesan, di balik kisah perkenalan dan persahabatan saya dengan sejumlah orang yang terlibat dalam dunia kejahatan itu.

Salah seorang di antaranya, saya sebut saja dia dengan Mas Sp. Dia, sebelumnya adalah anggota dari salah satu kesatuan. Tapi karena disersi, dia dipecat dari kesatuannya. Tak berapa lama setelah dipecat, Mas Sp pun terlibat dalam dunia yang bertentangan dengan hukum tersebut.

“Saya itu suka beroperasi di kereta api atau bus-bus malam, selain di tempat lain. Ya, seperti bajing luncatlah,” katanya suatu hari.

 Begitulah. Dalam pandangan saya, Mas Sp itu orang yang terbuka, selalu berkata apa adanya, suka berterus terang. Dan, satu hal lagi, dia seseorang yang enak diajak bicara. Dia terkesan sopan, selalu bicara lembut, penuh sopan santun, dan bersahaja. Sungguh, sesuatu yang bertolakbelakang dengan dunia yang digelutinya.

Singkat cerita. Suatu siang, saya lewat di depan salah satu sekolah menengah pertama, yang berlokasi di dalam kota Yogya. Di jalan depan sekolah itu, saya bertemu dengan Mas Sp. Dia sedang duduk di jok sepeda motor.

 Saya langsung menyapanya, “Lho, kog di sini, Mas?”

 “Ya, saya sedang menunggu. Maksudnya, sedang menjemput,” katanya seraya mengembangkan senyum.

“Menjemput siapa, Mas?”

“Menjemput isteri saya. Dia ngajar di sekolah ini,” ujarnya.

“Jadi, isteri Mas, ngajar di sini?”

“Ya.”

Pertemuan siang itu dengan Mas Sp sungguh berkesan. Tapi, terus terang, saya tak pernah bertanya kepadanya, apakah isterinya, yang menjadi guru itu tahu akan profesinya di dunia kriminal itu.

Sayangnya, sejak terjadinya OPK di tahun 1983, hingga kini saya tak pernah bertemu lagi dengan Mas Sp. Kabar yang saya peroleh ketika itu, sewaktu OPK digalakkan, Mas Sp pindah ke kota lain.

Demikianlah, persahabatan sungguh tak mengenal status. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVII: Budi Politik

SELIRIA EPILOGUS AROK termenung di depan jendela yang mengalirkan hawa segar pagi hari. Berulang-ulang ia …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.