Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Sastra » Perpaduan Gitar, Kendang dan Gong Beri di Sastra Bulan Purnama

Perpaduan Gitar, Kendang dan Gong Beri di Sastra Bulan Purnama

 

Pertunjukan musik yang megolah lagu puisi, dan dipentaskan Sastra Bulan Purnama 65, Jumat 10 Februari 2017 di Tembi Rumah Budaya memdukan tiga jenis alat musik yang berbeda, yakni gitar akustik, kendang dan gong beri. Dua alat musik disebut kedua merupakan jenis alat musik tradisional berpadu dengan alat musik modern, yakni gitar akustik. Ketiganya mengolah karya sastra dalam hal ini puisi.

Interaksi antara puisi dan musik sering disebut sebagai musikalisasi puisi, dan kali ini Rimawan Ardono, yang biasa dipanggil Donas, mengolah dua puisi karya Jane Ardaneshwari masing-masing berjudul ‘ 14 Mei 1998’ dan ‘Tarian Hujan’, dari antologi puisi yang berjudul ‘Tarian Hujan’ dan dilaunching di Sastra Bulan Purnama 65.

Pada puisi berjudul ’14 Mei 1998’,  Donas memetik gitar dan mengalunkannya, dan dipadukan dengan pembacaan puisi oleh Gendis Pawestri, yang kebetulan memilih judul yang sama untuk dibacakan. Jadi, keduanya selang-seling antara dilagukan dan dibacakan.

 

Pada puisi kedua, berjudul ‘Tarian Hujan’,  Donas dibantu oleh Otok Bima Sidharta yang memainkan kendang dan gong beri. Keduanya saling berpadu sehingga menghidupkan puisi tarian hujan, di tengah lagu, Gendis Pawestri membaca penggalan puisi, yang memang pendek dan hanya terdiri dari dua alinea.

Perpadukan  alat musik tradisional yang dimainkan Otok dan gitar aksutik yang dipetik Donas, menghidupkan puisi karya Jane, dan kebetulan hujan belum juga reda, sehingga puisi yang dilagukan berjudul ‘Tarian Hujan’ menemukan konteksnya.

Otok memang tampil spontan, artinya pada jauh-jauh hari aransemen musik sudah digarap oleh Donas, dan Otok tidak mengetahui. Hanya, pada saat latihan, sehari sebelum pentas, Otok ikut hadir dalam latihan, dan mungkin membayangkan kalau ditambahi tepukan kendang dan pukulan gong beri, suasananya akan menjadi tambah hidup.

Simak juga:  Hujan Deras Di Tengah Tarian Hujan

“Saya siang nanti akan kirim gong beri ke tembi bung Ons, untuk pentas Sastra Bulan Purnama nanti malam,” Otok mengirim pensa melalui WA.

Otok memang piawai dalam memainkan kendang. Kemampuannya memainkan alat musik tradisional gamelan memang sudah terlatih di rumah sejak dia masih muda, bahkan kanak-kanak. Karena di rumahnya, di Padepokan Seni Bagong Kusudiardja, di mana Otok tinggal,  sudah terbiasa memainkan gamelan.

Dua jam sebelum pertunjukan dimulai, tepatnya pukul 18.00, Otok dan Donas latihan untuk memadukan dua jenis alat musik yang berbeda tradisi,  agar penampilannya bisa enak untuk didengarkan.

Sambil duduk bersila, saat pertunjukan dimulai, Otok memukul kendang dan gong beri dengan penuh semangat dan ekspresif. Tidak jarang, kepala seringkali digerak-gerakan sebagai tanda dia mengekspresikan mengikuti irama musik, dan sambil duduk di kursi, Donas memetik gitar sambil mengalunkan bait-bait puisi karya Jane yang berjudul “Tarian Hujan’. Gendis, berdiri di tengah, dan siap membacakan penggalan puisi yang dilagukan.

Biasanya, Sastra Bulan Purnama selesai pukul 22.30, tetapi pada Sastra Bulan Purnama edisi 65, yang diwarnai hujan lebat sejak sore sampai malam, SBP-65 jarum belum mrnunjuk pukul 22.00 sudah selesai, dan untuk mengisinya, Donas kembali mengalunkan dua lagu berjudul ‘Sajak Batu’ karya Dhenok Kristiani’ dan ‘Perjalanan Laut’ puisi karya Ons Untoro. Sebagai penutup, kembali Donas mengalunkan lagu ‘Tarian Hujan’ karya Jane, dan di luar hujan sudah reda. (*)

Lihat Juga

Foto dan Puisi: Dua Karya Seni Dalam Satu Antologi Puisi

Antologi puisi yang diberi judul ‘Kepundan Kasih’, bukan hanya berisi puisi, tetapi juga berisi karya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.