Beranda » Humaniora » Diskusi Kebangsaan IX: Perlu Sosialisasi Hidup Sabutuhe, Sakcukupe, Sakanane
Sambutan Rektor USD Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. pada Diskusi Kebangsaan IX "Kebangsaan dalam Religi dan Budaya" Ruang Koendjono Gedung Pusat lantai 4 Kampus II Mrican Universitas Sanata Dharma 24/10/17 (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan IX: Perlu Sosialisasi Hidup Sabutuhe, Sakcukupe, Sakanane

Oleh: Prof Dr Suwardi Endraswara 

Prof Dr Suwardi Endraswara
Membahas Kebangsaan dalam Religi dan Budaya cukup rumit.  Pertama, Yang saya tahu, sejak tadi dibuka acara ini teman-teman dengan lagu Indonesia Raya, berdiri, menyanyi, atau melagukan bisa serempak, semua. Entah yang dari Papua, atau dari mana pun, ternyata bisa bersama-sama, bisa bareng, tidak usah pakai dirigen, mungkin tidak perlu ditayangkan tadi sebenarnya, tapi orang sudah hafal. Saya mempunyai pengalaman, berkaitan dengan lagu Indonesia Raya,  ketika di Flores  sempat terjadi kehebohan, karena satu bait terakhir tidak dinyanyikan, padahal ada yang memberi aba-aba. Seharusnya masih satu bait terakhir, dirigennya itu sudah turun, akhirnya orang yang sudah In… itu In-nya ditahan semua In…betul itu, terjadi, dan orang itu lalu tidak naik lagi untuk meneruskan, artinya lagu Indonesia Raya itu lalu tidak diulang atau tidak diteruskan,

Jadi tidak harus ditampakkan, tetapi orang sudah bisa tahu dan ternyata dari Sabang sampai Merauke, orang memberi aba-aba berbeda-beda, khususnya lagu Indonesia Raya. Dirigennya berbeda-beda. Tapi orang semua yang melagukan kok bisa. Sama, serempak. Di UNY itu sering kalau ada, kebetulan saya dosen di situ, kalau ada wisuda, itu selalu, Indonesia… itu dirigennya itu biasanya laki-laki, Indonesia tanah airku, lagunya semacam itu, cara memimpinnya pun unik.  Kemarin di Flores tidak begitu, mungkin karena kesalahan aba-aba, jadi lupa karena saking semangatnya. Di sana, dia memberi aba-aba dengan tangan tengkureb yang sebelah kanan, yang satu terlentang, Indonesia Raya, lho ternyata semua bisa. Biarpun lupa. yang satu bait. Artinya apa, saya menduga bahwa kita itu sebenarnya kalau disatukan dengan satu energi yang sama, aba-aba apapun, bisa sama.

Kemudian yang kedua, setahu saya, bahwa landasan kebangsaan yang disebut empat pilar itu,  sekarang banyak yang sudah atau sedang melakukan pembelokan. Entah pembelokan kecil, entah itu agak besar, terutama masalah gotong-royong. Kerukunan, sudah dibelokkan yang sesungguhnya kerukunan itu bagus, gotong royong itu bagus, tetapi kadang-kadang dibelokkan menjadi gotong-royong untuk korup, sehingga korupsi itu banyak. Kalau bupatinya kena, di bawahnya itu juga kena, bawahnya lagi kena. Bawahnya lagi kena lagi. Begitu seterusnya. Jadi, gotong-royong entah disadari atau tidak semua tadi gotong-royong atau kerukunan. Kowe oleh aku oleh. Kalau kamu bagiannya sendikit, sana banyak, jadi masalah, lalu nanti mudah terbuka, dan banyak yang hobi, pake rompi oranye. Kalau sudah pakai itu baru, yang semula bicaranya keras menjadi agak lemah. Kecuali satu teman kita Mas Nazarudin, itu tetep biar pun pakai rompi tapi tetep bicaranya luar biasa. Di sana, artinya tetap menyanyi saja.

Nah itu yang terjadi menurut hemat saya persoalan bangsa muncul karena ada pembelokan kecil-kecil . Padahal sebenarnya gotong-royong bagus, rukun, kerukunan bagus, tapi dibelokkan. Sehingga tahun 2014, semua hampir pakai A, huruf abjad A itu pada pakai oranye. Mulai tahun 2015 nama berinisial B, Batugana yang almarhum, ini karena pembelokan yang kecil-kecil, dll. Ini artinya apa,  bahwa landasan kebangsaan kita sudah dibelokkan, kalau orang Jawa mengatakan diselewengkan, sebenarnya bagus, tapi diselewengkan kerukunan itu. Musyawarah itu sebenarnya bagus, permusyawaratan rakyat bagus, tapi lalu itu diubah sedikit menjadi, musyawarah menjadi lobi, kalau sudah bernuansa lobi, ini padahal lobi, kalau hotel itu kan lobi itu sebenarnya untuk berembug itu, tapi sudah kalau itu nanti membelokkan kerukunan, membelokkan kegotongroyongan yang akhirnya menjadi negatif.

Catatan saya yang ketiga, bangsa kita, tampaknya sekarang baik itu dari religi ataupun dari budaya, kita itu sedang sakit. Diakui atau tidak, entah itu gula, ataupun ginjal, ataupun jantung, itu kita sedang sakit. Mengapa kita  sekarang sedang euforia masuk ke tataran yang oleh Ranggawarsita disebut dengan jaman edan. Amenangi jaman edan, kita sedang masuk di situ. Padahal seharusnya harus kita balik, kalau Mas Satyagraha Hoerip, seorang cerpenis itu, itu bukan amenangi tapi kita seharusnya sudah sampai berani amerangi. Celakanya kita itu baru sampai pada titik amenangi jaman edan, seharusnya amerangi jaman edan. Seharusnya begitu. Hanya beda-beda sedikit. Amenangi dengan amerangi.

Kalau kita berani amerangi, saya kira kebangsaan kita, orang-orang yang pakai rompi akan berkurang, orang-orang yang tidak adil itu akan berkurang. Yang seharusnya dia salah lalu kelihatannya tidak salah, padahal orang lain sudah tahu bahwa dia itu sebenarnya, jan-jane ya salah, tapi ketika masuk pengadilan, apa itu namanya pra-peradilan, ada yang menang, pra-peradilan ada yang kalah, dan sebagainya, ha ini artinya apa? Kita sedang amenangi tetapi tidak berani amerangi. Bangsa kita tampaknya baru sampai ke tingkat itu, sehingga catatan saya ini dari segi religi juga belum mendalam, sehingga banyak yang mengaku-ngaku orang beragama, tapi tidak relegius.

Agama itu sifatnya politis. Politis agama itu lebih banyak politis. Sedangkan relegius itu berada di dalam rasa, di dalam sanubari. Hal itu tidak dihargai kadang-kadang oleh negara, contoh sederhana ada seorang siswa dari SMK 7 Semarang, tidak naik kelas, tidak dinaikkan kelas, bahkan kasus ini sampai DPR/MPR sampai Pak Presiden, tidak dinaikkan kelas gara-gara karena dia penghayat, religi, penghayat kepercayaan. Dia tidak dinaikkan kelas karena diminta mengikuti salah satu agama yang ada di KTP. Padahal orang tuanya dan dia sendiri bukan agama KTP. Artinya agama Islam atau Buddha atau apa begitu, di KTP itu, tapi kepercayaan. Lha ini jadi korban, dalam tanda kutip, lalu teman kita dulu di Karanganyar Solo juga ada yang semacam ini. Tidak dinaikkan kelas karena harus mengikuti ujian agama Islam. Padahal dia bukan Islam, biar pun namanya Yulva. Tapi dia penghayat. Atau religi minor, kalau di sini kita membagi religi mayor dan minor, silakan, tapi ini minor, jadi hanya penghayat, lalu dia tidak dinaikkan, tapi sekarang sudah selesai masalahnya itu sudah sampai, sudah ada UU-nya sekarang sehingga ini sudah diakui dan kami sudah pernah bersama Pak Damami untuk ikut membantu para penghayat itu untuk berdarah-darah supaya dihargai sebagai bangsa.

Ini sebagai contoh sederhana yang terjadi, bangsa kita itu sebenarnya sedang mengalami sakit. Kalau tidak agama yang diakui, tidak digubris. Ini yang berbahaya, yang sangat berbahaya, sebenarnya kalau kita beragama kan sebenarnya hati. In action yang sebenarnya paling penting.   Mengaku berarti beragama di KTP. Tapi saya Islam misalnya, tapi kalau dengan tetangga cek-cok, mohon maaf, tetangga saya dekat, itu haji. Tetapi hanya lantaran rebutan batas kepunyaan menjadi cekcok dengan tetangganya yang haji juga. Gara-gara  masalah tanaman Sukun yang menimpa genting menjadi masalah besar. Gara-gara sukun yang jatuh, karena selalu gentingnya pecah. Hal itu jadi ramai . Akhirnya haji yang di utara batas jalan pensiun dini mungkin sakit lalu meninggal. Demikian juga yang di selatan tidak lama kemudian juga sakit dan meninggal. Dan ketika meninggal, semua warga kampung beramai ramai kembali meluruskan jalan yang menjadi sengketa. Akhirnya aman. Sekarang sampai hari ini aman. Waktu itu kalau untuk parkir bis tidak muat, karena satu meter menjorok ke utara. Tapi dua-duanya sudah meninggal semua. Nah ini semua artinya apa, agama tidak dalam praktek. Tidak in action tapi agama masih agama resmi, agama mayor, agama yang kelihatan, dia tidak diterapkan dalam bermasyarakat .

Catatan saya yang terakhir,  sekarang bangsa kita tergerus pada ego, baik itu ego sektoral dan lebih parah lagi ego yang dirinya. Ini parah. Ini yang paling parah sekarang. Karena itu sebenarnya sudah diingatkan oleh para pujangga dulu, itu ada lagunya sebenarnya anak-anak kecil selalu melagukan, gundhul pacul gembelengan, Kalau anak kecil kan gundhul-gundhul pacul-cul, gembelengan, ha itu, kalau saya gundhul pacul gembelengan, nyunggi wakul, kalau ada gamelan bagus ini, gembelengan, gundhul-gundhul pacul-cul, ha gitu. Ini ternyata ajaran yang sangat luar biasa dalam kebudayaan kita. Hanya ini tidak ditepati, gundhul pacul, pat cul itu adalah ada papat atau empat yang sudah ucul, atau yang sudah lepas, di dalam diri kita.

Satu, kalau bahasa religi itu syariat. Dua tarikat. Tiga hakikat. Yang terakhir makrifat. Ini sekarang sudah mulai lepas. Empat hal ini kalau ini lepas, sudah kacau-balau. Kalau Ki Ageng Suryametaram itu kan sudah mengajarkan kepada kita, uripa 3 S, akan enak. Yaitu S pertama sabutuhe, dadi urip iku sabutuhe, lalu sacukupe, atau yang cukupnya itu yang terakhir, lalu saanane. Dadi kalau hidup itu saanane, sabutuhe, sacukupe, kita jadi tenang. Hal yang terjadi sekarang, kan kita tidak sabutuhe, saanane, sacukupe, tapi saturahe. Ini yang sekarang itu saturahe yang mengacau Indonesia dalam berkebangsaan .

Akhirnya apa, kacau-balau. Padahal kalau sacukupe, kita  tidak mungkin, mohon maaf, Ibu pembawa acara, dan sahabat saya Mbak Maria yang kebetulan wanita, dua-duanya. Saya yakin kedua beliau ini pernah membeli BH,. Tapi pernah kah mereka  pememakai BH tiga sekaligus? Maksud saya begini, maksud saya akan menjelaskan urip iku sabutuhe, kalau siji wae cukup (Satu saja cukup), kenapa harus pakai tiga. Lho itu. Tapi kalau beli, boleh tiga-tiganya karena pas diskon. Tetapi memakainya kan tidak tiga-tiga sekaligus. Wong pakai satu saja sudah cukup. Inilah yang namanya konsep budaya sabutuhe, saanane, sacukupe. Tidak perlu kita itu saturahe, lha ini yang terjadi sekarang ini kan saturahe, akhirnya ya terjadi pada pakai rompi oranye. (ASW)

Lihat Juga

Mudik Mempererat Tali Persatuan

SETIAP Ramadhan tiba, bangsa ini, terutama yang beragama Islam, akan disemarakkan dengan beragam aktivitas. Aktivitas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *