Selasa , 22 Agustus 2017
Beranda » Peristiwa » Perjalanan ke Menturo Bersama ‘Sang Arjuna’

Perjalanan ke Menturo Bersama ‘Sang Arjuna’

PERNAH ke Sumobito, tepatnya ke Desa Menturo? Sekadar informasi, Sumobito itu adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Sedangkan Menturo itu, salah satu desa di Kecamatan Sumobito.

Seingat saya, sudah tiga kali saya datang ke Menturo. Pertama dan kedua, saya lupa tahun persisnya, tapi sekitar tahun 1974, 1975 dan 1976. Dan ketiga, di tahun 1998, menjelang era reformasi melanda negeri ini. Tetapi yang sangat berkesan adalah perjalanan pertama.

Dalam perjalanan pertama itu, saya tak sendiri ke Menturo, tapi bertiga. Saya, Linus Suryadi AG (alm) dan Emha Ainun Nadjib (yang populer dengan panggilan Cak Nun). Saya dan Linus, kapasitasnya adalah tamu, sedangkan Emha (maaf, sejak dulu, saya selalu menyebut namanya begini), adalah pemilik Desa Menturo. Maksudnya, Desa Menturo, Sumobito itu, memang desa kelahiran atau kampung halamannya.

Ini perjalanan dalam arti yang sesungguhnya. Karena kami memang berjalan kaki untuk menuju ke Menturo, setidaknya dimulai dari kota Jombang. Kami berangkat dari Yogya siang hari menumpang bus, tiba di Jombang malam hari. Perjalanan ke Menturo dilanjutkan dengan jalan kaki. Padahal jarak antara kota Jombang ke Menturo, sekitar 15 kilometer.

Sekali pun berjalan kaki, menembus gelap malam, tapi ini perjalanan yang menyenangkan. Kami semua masih muda, bujangan lagi, jadi berjalan kaki sejauh 15 kilometer bukanlah hal menyulitkan. Apalagi di Yogya, di tahun-tahun sebelum itu, dalam pergaulan di Persada Studi Klub, berjalan kaki keliling kota, keluar masuk desa, belasan sampai lebih dari 20 kilometer sudah pekerjaan kami.

 

Perempuan Sampai Wayang

Sepanjang perjalanan, kami tak pernah sepi dari perbincangan, canda dan tawa. Terus terang, dalam percakapan di dingin malam itu, tak pernah disinggung soal puisi, atau sastra (khususnya sastra Indonesia). Kami sepertinya ingin terbebas dari perihal sastra. Percakapan kami banyak di seputar soal cinta (maklum, kami semua masih muda), perempuan dan wayang.

Di antara kami, Linus sepertinya yang paling semangat bicara soal perempuan dan wayang. Soal perempuan itulah yang mungkin kemudian menginspirasinya untuk menulis “Pengakuan Pariyem”. Bicara soal wayang, dibanding saya dan Emha, Linus memang pakarnya.

“Em, kalau dalam wayang, kamu memang cocoknya jadi Arjuna,” kata Linus ketika itu.

“Arjuna? Maksudmu, aku cocok jadi playboy? Begitu?” sergah Emha.

Tawa pun berderai, menyelusup di celah-celah dedaunan, dan embun malam.

Entah mengapa, menjelang masuk ke Desa Menturo, dalam percakapan itu tiba-tiba Linus mengajak saya bicara soal Serat Darmogandhul, yang merupakan salah satu karya sastra klasik Jawa. Padahal sebelumnya tak pernah disinggung hal-hal yang berhubungan dengan sastra. Barangkali suara orang mengaji Al-Quran, yang kemerduan lantunan ayat-ayat Allah, terdengar dari kejauhan dan menyeruak di antara risik malam itu, menginspirasinya bicara tentang Serat Darmogandhul.

“Saya suka dengan serat itu. Sekali pun saya bukan penganut Islam, tapi di dalamnya saya menemukan pesan-pesan dakwah Islam yang menarik,” kata Linus.

“Waduh, saya belum pernah membacanya. Apa benar begitu? Ada pesan-pesan dakwahnya?” ujar saya.

Saya tidak tahu persis, apakah Emha yang ketika itu posisinya agak di depan kami, mendengar kata-kata Linus tentang Serat Darmogandhul itu. Dan, yang pasti tak ada sepatah kata pun dari Emha menanggapi pernyataan Linus tersebut.

Sudahlah, saya singkat saja cerita perjalanan ke Menturo malam itu. Kedatangan kami disambut keluarga Emha penuh keramahan. Dua malam kami menginap di rumah keluarga Emha. Sore hari di hari pertama, kami duduk di kursi bambu yang terletak di pinggir jalan, depan rumah keluarga Emha, sambil menikmati suasana sore di desa yang penuh kedamaian.

 

Sang Arjuna

Setelah pulang ke Yogya, percakapan tentang Arjuna dan Serat Darmogandhul itu tak pernah disinggung lagi. Meski pun kami masih sering bertemu dan bersama dalam berbagai kesempatan, tetapi percakapan dua hal itu seakan hilang ditelan aktivitas kesibukan.

Baru sekitar empatpuluh tahun kemudian, entah mengapa saya mendadak teringat dan terusik lagi dengan percakapan Linus kala itu. Saya kemudian sampai pada kesimpulan bahwa apa yang dikemukakan Linus semasa hidupnya itu mengandung kebenaran juga. Emha memang layak untuk disebut sebagai Arjuna, yang tokoh populer dalam dunia pewayangan.

Kenapa begitu? Di dalam lakon pewayangan terdapat beberapa tokoh yang disebut-sebut sebagai ‘sang pembebas’ atau ‘sang pendobrak’ zaman edan. Salah satu di antaranya Arjuna, yang di dalam kisah pewayangan selalu disebut sebagai lelanange jagad, satria berwajah tampan dan sakti mandraguna.

Kapan Arjuna tampil menjadi ‘sang pembebas’ zaman edan? Tampilnya Arjuna sebagai tokoh yang mampu membasmi ‘suatu tatanan kehidupan teramat buruk, penuh keangkara-murkaan, keserakahan dan kemunafikan’ itu terurai jelas dalam lakon “Arjuna Wiwaha”.

Bhatara Kala merupakan ‘tokoh’ penyebab munculnya zaman edan. Kelahiran Bhatara Kala menyebabkan jagad mayapada dan kayangan tempat para dewata gonjang-ganjing bagai terlanda bencana dan kerusakan maha dahsyat. Jagad yang kacau dan rusak itu tidak begitu saja mudah dihentikan. Ternyata anak-anak Bhatara Kala dari perkawinannya dengan Bhatari Durga yang tak lain adalah ‘jelmaan’ dari ibu kandungnya sendiri, Dewi Umayi, masih terus menteror dan merusak tatanan kehidupan di jagad raya.

Di dalam lakon “Arjuna Wiwaha” disebutkan, salah satu keturunan Bhatara Kala yang masih terus melanjutkan usaha memporak-porandakan tatanan kehidupan di jagad raya adalah Prabu Nirwatakawaca. Nirwatakawaca, salah seorang anak Bhatara Kala yang menjadi raja di Manimantaka. Anak Bhatara Kala ini sangat sakti. Di marcapada, tak seorang pun dapat mengalahkannya. Hal itu karena ia mempunyai kesaktian berupa toh belang di langit-langit mulutnya. Ia baru bisa dikalahkan bila toh di langit-langit mulutnya itu terkena senjata tajam.

Akhir cerita, dengan senjata panah sakti Pasopati kemudian Arjuna dapat membinasakan Prabu Nirwatakawaca. Ketika ia tertawa lebar karena gembira mendengarkan kesediaan Dewi Supraba untuk menjadi isterinya, anak panah Pasopati pun melesat dan menunjam tepat pada toh di langit-langit mulutnya.

Terbunuhnya Prabu Nirwatakawaca menyebabkan jagad raya terbebas dari keangkaramurkaan. Arjuna telah membebaskan jagad raya dari belitan zaman edan.

Tak berlebihan rasanya, bila melihat sepak terjang Emha Ainun Nadjib selama ini, ia memang layak untuk disebut sebagai Sang Arjuna yang sedang berjuang membebaskan jagad raya dari belitan zaman edan tersebut.

 

 

Darmogandhul

Dan, tentang Serat Darmogandhul yang sempat disinggung Linus sekilas kala itu  ternyata menarik juga untuk dicermati. Salah satu karya sastra Jawa Klasik yang hingga hari ini masih menjadi bahan perbincangan bahkan perdebatan adalah Serat Darmogandhul. Karya sastra klasik yang ditulis Ki Kalamwadi di tahun 1830 Jawa ini berbentuk puisi sarat ajaran kehidupan berdasar tasawuf Islam. Sebagai suluk atau ajaran kehidupan berdasar tasawuf Islam, tidak semua orang dengan mudah memahami serta mencerna pesan-pesan mulia tentang kehidupan di dalamnya.

Pesan-pesan kehidupan di dalam Darmogandhul ini dituangkan dalam bentuk paparan dialog antara Ki Kalamwadi (sang penulis) dengan tokoh bernama Darmogandhul. Darmogandhul seorang murid atau santri yang sedang mempelajari tentang Islam.

Diuraikan juga di dalam Darmogandhul, kisah runtuhnya Majapahit setelah diserang tentara Demak. Ketika itu Demak diperintah Raden Patah dibantu para Wali Sanga. Dalam penyerangan ke Majapahit, Mahapatih Gajah Mada yang terkenal itu tewas, tentara Majapahit porakporanda, dan Majapahit akhirnya dikuasai Demak. Prabu Brawijaya kemudian meninggalkan istana, bersama pembantunya sembunyi di suatu wilayah. Kemudian orang-orang Majapahit yang tinggal diperintahkan untuk memeluk Islam.

Diuraikan pula tentang pertemuan Raden Patah dengan neneknya, Nyai Ngampeldenta, di Ngampeldenta. Sang nenek menyesalkan tindakan Raden Patah sebagai seorang anak yang telah menyerang kerajaan ayahnya sendiri. Tindakan itu dinyatakan sebagai perbuatan tidak terpuji dan tak pantas dilakukan seorang anak kepada ayahnya.

Raden Patah kemudian menyesali perbuatannya. Ia bersedih. Dan, iapun kemudian meminta bantuan Sunan Kalijaga untuk mencari ayahnya, Prabu Brawijaya. Bila bertemu, ayahnya diminta untuk kembali ke Majapahit, memimpin kerajaan lagi. Usaha Sunan Kalijaga berhasil. Prabu Brawijaya ditemukan di Blambangan. Berkat dakwah yang santun dan rendah hati dari Sunan Kalijaga, Prabu Brawijaya bersedia pulang ke Majapahit. Sikap kecewa dan sakit hatinya terhadap Islam bisa terhapus. Bahkan ia sempat menyatakan kesediaannya memeluk Islam dengan sepenuh hati.

Terlepas dari kontraversi yang ada, sesungguhnya Serat Darmogandhul sudah memberikan pelajaran kepada kita untuk ikhlas meminta maaf dan menyesali perbuatan yang dipandang salah. Dengan posisi apapun, apakah Raja, penguasa, atau rakyat jelata, untuk tidak segan-segan meminta maaf dan menyatakan penyesalannya bila bersalah.

Kemudian Serat Darmogandhul juga memberikan pelajaran tentang bagaimana sesungguhnya cara berdakwah atau memperkenalkan suatu paham (ajaran) agama ke suatu masyarakat yang masih asing dengan paham baru tersebut. Murkanya Prabu Brawijaya karena ada arca dirusak, menunjukkan kekerasan bukanlah cara yang tepat. Tapi kelembutan, kebijaksanaan, dan cara penyampaian yang tepat, seperti dilakukan Sunan Kalijaga kepada Prabu Brawijaya, sehingga ia tertarik kepada Islam, merupakan langkah yang pantas dilakukan.

Lalu, apa hubungannya Emha dengan Serat Darmogandhul? Dalam pemahaman saya, di dalam perjalanan budaya, sosial dan spiritualnya, Emha telah ‘mengajarkan’ banyak hal tentang ajaran-ajaran kehidupan dan spiritual seperti yang ada di dalam Serat Darmogandhul itu. Di antaranya berdakwahlah dengan santun, bijak dan jauh dari kekerasan. Nah, silakan Anda kembangkan lagi, dalam pemahaman Anda sendiri. Silakan.***(Sutirman Eka Ardhana)

 

* Sutirman Eka Ardhana: kini redaktur Warta Kebangsaan (www.perwara.com) dan Jurnal Kebangsaan.

Lihat Juga

Menyimak Ulang Pidato Kenegaraan Terakhir Bung Karno (1)

SETIAP memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, ingatan kita tentu tidak bisa lepas kepada tokoh bangsa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *