Minggu , 21 Oktober 2018
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Peringatan Sabdapalon

Peringatan Sabdapalon

DIDALAM tembang pangkur Serat Darmagandul, Ki Kalamwadi menorehkan sebait tembang unik yang merupakan ramalan Sabdapalon akan kebangkitan kebudayaan Jawa (reneissance). Bunyi tembang itu sebagai berikut;

Yen wonten manungsa Jawa
Jawi angangge mata siji
nami sepuh, gaman kawruh
niku momongan kula
tiyang jawan sun wruhke bener lan luput,
sigra tedhak Sri Narendra
arsa ngrangkul den inggati

Misteri menyelubungi ramalan ini. Bahkan nama Sabdopalon pun hingga sekarang menjadi pertanyaan menarik. Siapa orang ini. Figurnya seperti apa. Tugasnya memang menjadi pamomong ksatria Jawa. Biasanya nama Sabdopalon ditambahi dengan Noyogenggong. Apakah ini dua nama dengan dua figur? Ataukah satu orang dengan nama panjang, terus menggelitik keingintahuan kita semua.

Tetapi bahwa tembang macapat pangkur itu memang ada yang pantas menjadi perhatian kita semua yang masih mengaku Jawa. Lantaran tembang merupakan kepanjangan dari ‘tembung kang mawa perlambang’-kata yang bersayap. Lalu lambang apa. Perlambang atau simbol kehidupan, ‘lambang sasmitaning urip, sing ngambang buwangen, dene kang truntum arum candhinen ana sariranta, supaya cumondhok dadi gamane gesang’. Lambang kehidupan yang buruk dibuang, sedangkan yang baik dipelihara hingga menjadi sebuah kawruh hidup yang baik.

Itulah mengapa leluhur orang Nusantara senantiasa mengedepankan kawruh luhur yang kadang dikedepankan sebagai sebuah ramalan. Padahal itu sebuah piwulang luhur. Orang Jawa tidak mau ‘guroni’, tidak mau mengajar. Ini diharapkan agar generasi penerusnya bisa mandiri     mentas dhewek            . Lantaran bagi orang Jawa ‘guru adalah murid pribadi, dan murid, gurunya pribadi’. Dirinyalah yang menjadi guru dan murid di dalam kehidupan ini. Hidup manusia tidak tergantung kepada orang lain.

Oleh karena itulah ramalan Sabdapalon-Noyogenggong ini sebetulnya bukanlah sebuah ramalan yang perlu ditunggu, tetapi harus disongsong untuk diwujudkan di dalam kehidupan sekarang ini ‘Hic et nunc’.

‘Yen ana manungsa Jawa, Jawi anganggo mata siji’, merupakan sebuah lambang bahwa jawi di sini bukan etnik tetapi sebuah arah kearifan (Jawi-arif bijaksana) menggunakan mata satu. Artinya bahwa mata yang digunakan adalah hati nurani-Mata-arum-Matarum. Kebenaran sejati yang menjadi panutan hatinya. Bukan kebenaran menurut penguasa. Bukan pula kebenaran menurut kelompok masyarakat yang besar. Tetapi kebenaran sejati yang hanya dibenarkan oleh Ingkang Akarya Jagad. Inilah manifestasi dari Parahyangan-tempat para hyang-leluhur. Dan leluhur manusia paling tinggi adalah Allah sendiri.

‘Bener lan pener’, benar dan tepat, seperti apa itu? Semua diserahkan kepada kebijaksanaan diri.

Lalu     asma sepuh, gaman kawruh   , berarti apa? Nama tua bukan sekedar nama, tetapi seorang yang sudah dianggap tua berarti mempunyai bobot kehidupan yang luas dan dalam. Orang tua mempunyai harapan ‘pupuse tansah ngengidung pepudyan jati’. Orientasi kepada ‘Sangkang paraning dumadi, sangkan paraning pambudi, dan manunggaling kawula Gusti’ merupakan tujuan dan semangat hidupnya. Ajakan kearah kebenaran sejati merupakan titik pangkal hidupnya. Semua diperuntukkan bagi ajakan kepada terwujudnya kerajaan Allah di dunia-Sukasarana. Ini merupakan manifestasi dari ‘pawongan’,   suka asih ing sesami    .

Berlandaskan kawruh hidup, bahwa manusia hidup itu hanyalah sekejap saja-‘mampir ngombe’.     Oleh karena itu yang diminum juga harus ‘banyu bening’ yang mampu membuat ‘lejaring jiwa, sukaning sukma. Kawruh ilmu, kawruh agama, kawruh jiwa merupakan sebuah ilmu yang harus dilakoni dengan laku, tidak hanya berhenti pada pengertian. Kawruh-kawruh itu membuka mata batin manusia untuk membina kehidupan yang utama- urip tata manungsa’ hidup teratur terkendali dan bijaksana.

Di sinilah baru orang tahu yang bener yang mana yang salah yang mana. Tata merupakan dambaan setiap orang . Bahwa kemudian dilanjutkan dengan ‘tata titi tentrem kartaraharja’, sebuah harapan luhur yang diidam-idamkan manusia Jawa. Dan ini wujud manifestasi dari ‘palemahan’, selaras dengan alam.

Namun namanya manusia masih terjebak dalam kekuasaan, kesalahan, kelalaian. Oleh karena itulah hanya orang-orang yang mampu melihat kehidupan secara jernih saja yang seharusnya mewujudkan ramalan sekaligus harapan Sabdopalon-Noyogenggong ini di dalam masyarakat yang kita bentuk bersama.

Kalau masyarakat Nusantara ini berlandaskan apa yang disodorkan oleh para leluhur, ‘so pasti’ kehidupan kemasyarakatnya akan, ‘aman, nyaman dan sejahtera, berkeadilan dan tenteram’. (Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

Amustikarana

MUNGKIN kita tak begitu menghiraukan ketika rumah-rumah di jaman dahulu di pagar nya terdapat hiasan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.