Selasa , 13 November 2018
Beranda » Seni & Budaya » Perempuan Pantai

Perempuan Pantai

(1) Cerber

LAUT menderu.

Suara debur ombak menderu menuju pantai. Buihnya memecah di pantai, lalu tenggelam di hamparan pasir-pasir. Angin pun mengirimkan desaunya, menerpa pasir-pasir, daun-daun pepohonan, dan apa pun yang ada di sekitar pantai. Dari kejauhan ada sepasang burung camar datang, beriringan, berkejaran, beriringan lagi, menukik bagai menyapa permukaan laut.

Miyarti, yang duduk sendiri di gubuk kecil, di tepian pantai itu, sedang terpana dan terpukau menyaksikan semuanya. Ketika pandangannya tertuju ke burung-burung camar, tiba-tiba ia membayangkan dirinya menjadi burung camar, terbang ke mana-mana, melayang, meninggi, lalu menukik ke air. Kemudian terbang menjauh, menghilang, dan entah berhenti atau hinggap di dahan apa. Dalam pandangannya, camar bagai burung misteri, datang, mempesona, melayang-layang, lalu terbang dan hilang di kejauhan.

Pantai dan laut dalam waktu hampir setahun terakhir seakan telah menjadi bagian dari hari-hari Miyarti. Begitu pula pasir-pasir di sepanjang pantai itu, bagai tak pernah berhenti menyediakan diri untuk menyimpan jejak-jejak langkahnya. Juga deru suara angin  laut dan debur gelombang, seperti saling beriring mendendangkan nyanyian untuk perempuan muda berusia sekitar 30 tahunan itu. Tak hanya itu, burung-burung camar pun setiap menjelang senja tiba selalu setia menghadirkan pesona di matanya.Terbang rendah di atas riak gelombang, lalu menghilang di kejauhan. Semuanya, pantai termasuk hamparan pasir-pasir, laut dan burung-burung camar, bagaikan sepakat untuk berbagi pesona, berbagi keindahan.

Seperti di sore itu, ketika Miyarti sedang duduk di sebuah gubuk kecil, dan terpesona semburat cahaya matahari senja yang memantul di atas permukaan air laut, sepasang camar tiba-tiba muncul di pandangannya. Entah dari mana datangnya, sepasang camar terbang beriringan, lalu serentak menukik dan menyentuh permukaan gelombang, bagai sedang bercanda dengan laut. Kemudian sayap-sayap keduanya seperti saling bersentuhan. Begitu indahnya. Begitu mempesona. Sepasang camar itu bagai sedang memadu cinta. Sedang bersuka-ria. Bahagia.

Simak juga:  Perempuan Pantai

Ada rasa bahagia di hati Miyarti menyaksikan kebahagiaan pasangan burung camar itu. “Oh, bahagianya mereka. Andaikan aku yang jadi camar-camar itu, betapa bahagianya. Tapi, burung camar itu terbang berpasangan. Andaikan aku camar, aku terbang beriringan dengan siapa?” Miyarti berkata sendiri dalam hati.

Setelah berputar-putar lebih dari lima kali putaran, sepasang camar itu terbang ke arah barat, menjauh, sayup, dan menghilang dalam keredupan senja. Ketika sepasang camar itu benar-benar hilang dari pandangannya, Miyarti merasakan kecewa yang dalam di hati. Ia berharap sepasang camar yang mungkin sedang memadu cinta itu akan mempesona lebih lama lagi, tidak terburu-buru untuk segera pergi, dan menghilang. Dan, ia berharap, sepasang camar yang menghilang di kejauhan itu mau datang lagi dalam pandangannya, terbang beriringan, menyentuh permukaan laut, saling menyentuhkan sayap. Betapa indahnya, kalau itu terjadi lagi.

“Ah, camar kenapa sesaat saja kau mempesonaku? Kenapa hanya sesaat menghibur hatiku? Kenapa kau cepat-cepat pergi, dan menghilang di kejauhan? Apakah diriku juga akan seperti camar-camar itu? Mempesona sesaat, kemudian hilang….?” keluh Miyarti, sambil mencoba mengalihkan pandangannya lagi ke laut.

Entah sudah berapa ratus senja, Miyarti menikmati pesona pantai, laut dan camar. Dia tak pernah menghitungnya. Tak pernah mencatatnya. Tak pernah mengingatnya. Pernah dicobanya untuk menghitung, mencatat dan mengingat, namun hal itu justru membuat hatinya seperti tersayat. Seperti teriris sembilu. Terluka. Hingga kemudian diputuskannya untuk tak mau lagi berpikir tentang sudah berapa lama ia menikmati pesona yang diberikan pantai, laut dan camar itu. Tapi yang pasti, sudah hampir setahun lamanya, sejak ia memutuskan diri untuk tinggal di kawasan pantai, yang sering didatangi pengunjung tak hanya siang hari, tapi juga pada malam hari, pemandangan seperti itu selalu dinikmatinya.

Simak juga:  Perempuan Pantai

Ya, sudah hampir setahun lamanya Miyarti tinggal di kawasan pantai itu. Suatu kawasan pantai yang memang terbilang lumayan indah, punya daya tarik wisata. Punya pesona. Karenanya banyak yang berwisata ke pantai itu, khususnya di hari Minggu atau di hari-hari libur. Kawasan pantai dipenuhi warung-warung yang menyediakan berbagai keperluan pengunjung. Ada warung makan dan minum. Ada warung-warung kelontong yang menyediakan rokok, sandal, sabun sampai kondom. Warung-warung atau kios-kios yang berjualan souvenir pun lumayan banyak. Losmen atau warung-warung yang sekaligus merangkap losmen pun tak sedikit jumlahnya.

Bahkan, bila malam hari suasana atau geliat kehidupan di kawasan pantai jauh terasa lebih hidup dan lebih semarak dibandingkan siang hari. Warung-warung makan dan minum, juga losmen-losmen seakan saling berdandan, berlomba mempercantik diri. Gemerlap dan cahaya lampu seakan bertebaran di warung-warung atau losmen-losmen. Semua berlomba menghibur atau menarik perhatian pengunjung dengan suara musik yang menggoda. Para penghuninya pun seakan berlomba mengumbar senyum, tawa dan canda. Kegairahan seperti terlihat di mana-mana.

Dan, pada malam-malam tertentu, kawasan pantai itu akan lebih ramai lagi didatangi pengunjung. Setidaknya dalam sebulan, ada dua malam yang pengunjungnya jauh lebih ramai dibanding malam Minggu sekali pun, yakni malam Selasa Kliwon dan malam Jumat Kliwon. Konon, sejak berpuluh tahun lalu, atau bahkan jauh sebelumnya, setiap malam Selasa Kliwon dan malam Jumat Kliwon, kawasan pantai itu ramai didatangi pengunjung. Pengunjungnya tidak hanya para lelaki, tapi banyak juga perempuan. Tua dan muda.

Sebagian besar pengunjung yang datang di malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon itu tujuan utamanya untuk melakukan tirakat di pantai, walaupun kemudian bisa saja muncul tujuan-tujuan sampingannya. Mereka bertirakat dengan berbagai kepentingan, dan harapan. Ada yang berharap mendapatkan kesaktian atau kekuatan, rezekinya bertambah, bisnisnya sukses, daganganya laris, sembuh dari sakit, agar selalu terlihat cantik, sampai mendapatkan jodoh, dan banyak lainnya lagi. Oleh karenanya, pada setiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon, di kawasan pantai itu tak hanya ada aroma bau parfum atau minyak wangi, tetapi juga penuh dengan aroma bau kemenyan serta asap dupa. Dan, justru bau kemenyan serta asap dupa ini yang dominan.

Simak juga:  Perempuan Pantai

Bau kemenyan dan asap dupa menyebar, bagai menyelusup dari warung ke warung, dari losmen ke losmen, menyelinap di celah-celah daun pepohonan sekitar pantai. Angin pun kemudian menyebarkannya ke pasir-pasir pantai, membawanya ke hamparan laut. Kawasan pantai pun menjadi sarat dengan nuansa magis. (bersambung)

Lihat Juga

Mengenang Rendra di Sastra Bulan Purnama

Kali ini, Sastra Bulan Purnama 85 akan diisi untuk mengenang Rendra, seorang penyair dan aktor …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.