Kamis , 21 September 2017
Beranda » Seni & Budaya » Perempuan Pantai

Perempuan Pantai

(3) Cerber 

Miyarti bergegas ke kamarmya. Kemudian melangkah santai ke kamar mandi.

Ketika sampai di depan kamar mandi, didengarnya suara Darsih yang ternyata menyertai langkahnya ke ruang belakang.

“Jangan lama-lama mandinya. Yang cepat. Tidak usah kungkum,” ujar Darsih disertai tawa.

“Lama dan cepat, apa bedanya? Yang penting mandi.”

“Nanti kalau kelamaan, keburu hilang semua.”

“Hilang? Apanya yang hilang?” Miyarti masih sempat bertanya.

“Ya, para tamu atau pengunjung yang datang ke sini.”

“Kok bisa hilang?”

“Ya, bisa, karena ada yang gondol dan nyamber.”

“Maksudnya, hilang disamber kamu, Sih?”

“Huss……memangnya aku burung elang yang suka nyamber ikan di laut?” ada tawa di antara kata-kata Darsih ini.

“Ya, sudah, bukan elang. Tapi perempuan pantai yang suka nyamber pengunjung……haaaha…..,” kata Miyarti dengan tawa berderai.

“Bukannya perempuan pantai itu dirimu sendiri, Yarti?”

“Lha kok, aku?”

“Kau tidak bisa mengelak. Bukankah, perempuan yang hampir setiap hari selalu berada di pantai itu adalah dirimu? Pagi di pantai. Sore di pantai. Tiada hari tanpa melihat laut dan pantai. Iya, kan?”

“Kau juga sama, Sih. Sama-sama hidup di pantai.”

“Iyalah, sama. Sama-sama mencari hidup di pantai.”

“Sama-sama menjadi perempuan pantai…..”

Tawa pun berderai. Tawa Darsih dan tawa Miyarti. Dan, Miyarti membawa tawanya ke dalam kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, sambil mengguyur tubuhnya dengan air, Miyarti ternyata terusik dengan kata-kata yang telah diucapkannya kepada Darsih, yakni perempuan pantai. Seingatnya, sebutan perempuan pantai belum pernah diucapkan kepada siapa pun. Walau diakui, sebutan perempuan pantai, sudah lama ada dalam hati dan pikirannya. Sudah lama disimpan, tapi tak mampu diucapkan. Ya, sudah ada, sejak ia mulai merasa bahwa pantai dan laut merupakan bagian dalam kehidupannya. Sejak ia mulai mencintai pantai, laut dan camar. Sejak ia mulai menyukai suara debur gelombang dan deru angin laut, serta merasakan sura-suara itu bagai nyanyian yang indah. Dan, sejak ia tinggal di kawasan pantai itu.

“Ya, Darsih benar. Aku memang perempuan pantai. Perempuan yang tidak hanya menyukai pantai dan laut, tapi juga mencari kehidupan di pantai, di kawasan pantai. Ibarat ikan, aku memang ikan yang terdampar di pantai ini. Aku menemukan semacam kedamaian di sini. Aku merasa nyaman. Pantai beserta lautnya mampu meredakan gejolak kegelisahanku. Pantai dan laut telah mampu menampung resah dan risauku. Mampu menghiburku,” kata-kata seperti saling berdesakan di dalam dada Miyarti.

Seusai mandi, ketika melangkah menuju kamarnya, ia berpapasan dengan Bu Asih.

“Jangan lupa dandan yang ayu ya, dandan yang cantik. Biar banyak yang suka. Siapa pun, baik muda atau tua, pasti suka melihat perempuan ayu atau cantik. Karenanya dandanlah yang sungguh-sungguh, biar tambah ayu, tambah cantik, Yarti,” ujar Bu Asih. “Jangan sia-siakan malam yang ramai pengunjung ini. Karena itu kamu harus tampil ayu. Harus tampil cantik,” tambah Bu Asih lagi.

Miyarti tersenyum, mengangguk.

Dandan yang ayu! Dandan yang cantik! Kata-kata ini hampir setiap hari diucapkan Bu Asih kepadanya. Terutama setelah mandi sore. Dan bukan hanya kepadanya, tapi juga kepada teman-temannya yang lain, Darsih, Asti dan Warni. Kata-kata itu pun bagai suatu perintah yang harus dilaksanakan.

Dandan yang ayu? Dandan yang cantik? Ah, Miyarti jadi ingat, dulu dirinya sangat tidak suka berdandan. Ia selalu ingin terlihat apa adanya. Ingin wajahnya terlihat alami, bukan wajah polesan make-up dan semacamnya. Andai berdandan, dandanannya pun sederhana, tanpa make-up berlebihan. Walaupun begitu, di mata banyak orang di desanya, ia tetap terlihat ayu atau cantik, meski tanpa berdandan yang gemerlap.

“Tanpa dandan pun, tanpa bermake-up tebal, kau tetap terlihat cantik. Tetap ayu. Kau tahu, pujian seperti itu sudah beberapa kali aku dengar dari anak-anak muda bahkan orang-orang tua di desa ini. Kata mereka, kecantikanmu alami, tidak pakai olesan apa pun,” serangkaian kata dari Resti, teman sebaya dan sepermainannya di desa dulu, mendadak muncul kembali dalam ingatan Miyarti.

Tapi di sini, di kawasan pantai ini, Miyarti tak bisa mempertahankan keinginannya untuk tidak berdandan. Setiap hari, apalagi menjelang malam, ia harus berdandan. Harus menggunakan make-up, yang tak lagi tipis seperti dulu.

“Di sini, kamu harus terlihat cantik, Miyarti. Makanya harus dandan. Harus bermake-up. Kamu memang sudah ayu, tapi bila ditambahi make-up, akan jadi lebih ayu lagi. Kecantikanmu semakin terlihat, semakin bercahaya. Di sini tidak boleh tampil apa adanya. Di sini harus terlihat cantik. Harus terlihat ayu. Karena lelaki yang datang ke sini, ke pantai ini, semuanya suka melihat wajah-wajah yang cantik, wajah-wajah yang ayu,” kata-kata Bu Asih yang disampaikan hampir setahun lalu itu juga muncul lagi dalam ingatannya. Miyarti ingat, Bu Asih berkata seperti itu kepadanya saat dirinya baru dua hari berada di kawasan pantai, di warung dan penginapan “Kasih”.

“Hei Yarti, kok malah sembunyi di kamar? Ayo, jangan lama-lama dandannya. Tanpa dandan berlama-lama pun wajahmu sudah terlihat cantik. Cepat keluar, sudah banyak pengunjung lho. Ayo cepat, keburu malamnya habis……” suara Darsih terdengar nyaring di luar kamar, mengejutkannya.

Miyarti memastikan lagi wajahnya di kaca cermin, apakah sudah terlihat cantik atau belum. (bersambung)

Lihat Juga

Yudhistira Merayakan Hari Puisi 2017 di Sastra Bulan Purnama

Sastra Bulan Purnama edisi 72, atau 6 tahun Sastra Bulan Purnama menghadirkan Yudhistira ANM Nugroho, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *