Beranda » Seni & Budaya » Perempuan Pantai

Perempuan Pantai

(2) Cerber

ADA suara adzan Mahgrib terdengar sayup. Suara adzan itu datang dari desa terdekat, yang berada di sebelah utara kawasan pantai. Dan, suara adzan itu bagai sedang berbagi ruang dengan suara deru laut dan debur gelombang.

Miyarti masih duduk di gubug kecil itu, memandangi pasir-pasir pantai dan hamparan laut, ketika suara adzan Mahgrib menyeruak sampai ke tepian pantai. Ini bukan yang pertama ia mendengar suara adzan Mahgrib saat berada di pantai. Sejak pertama berada di kawasan pantai, ia sudah terbiasa mendengarkan suara-suara adzan seperti itu. Tapi kali ini, tak seperti biasanya. Terasa ada yang berbeda. Entah mengapa, suara adzan di senja itu tiba-tiba membuatnya teringat pada kampung halamannya, pada wajah ibunya, almarhum ayahnya, dan pada wajah-wajah yang tak mungkin dilupakannya. Wajah-wajah orang terkasih. Wajah orang-orang yang berarti dalam hidupnya. Juga, wajah orang-orang yang membuat hidupnya terluka.

Dan, dia pun mendadak teringat masa kecilnya. Dia ingat, ketika kecil dulu, sehabis sembahyang Mahgrib, ibunya selalu mengajari dirinya membaca Al-Quran. Ibunya memang pintar mengaji, karena semasa remaja pernah jadi santri di pondok pesantren. Tak hanya pintar, tapi suara ibunya bila mengaji terdengar sangat merdu. Setidaknya di lingkungan desa tempat tinggalnya.

Nduk, sebagai orang Islam, kita harus belajar membaca Al-Quran. Harus bisa memahami dan mengerti isinya. Karena Al-Quran adalah pegangan hidup kita. Hidup kita bisa tenteram dengan membaca Al-Quran. Karena itu, baik dalam kesenangan maupun kesusahan, jangan pernah lupa dengan Al-Quran. Saat kita gembira, bacalah Al-Quran. Apalagi saat sedang tidak gembira, sedang sedih, gelisah atau berduka, bacalah Al-Quran. Yakinlah, dengan membaca Al-Quran, gelisah atau kesedihan kita akan pergi,” serangkaian pesan dari ibunya yang disampaikan suatu malam sehabis belajar mengaji, seketika muncul kembali dalam ingatannya.

Tapi tiba-tiba ingatan tentang ibunya itu buyar. Ingatannya dibuyarkan suara teriakan perempuan yang datang dari arah belakang. Suara itu nyaring. Melengking. Teriakan itu bagai bersaing dengan suara deru laut dan debur ombak. Suara nyaring itu, suara Darsih, teman sekamarnya.

“Hei, Miyarti!”

Miyarti menoleh ke belakang. Darsih berada sekitar 30 meter di belakangnya.

“Ada apa, Mbak Darsih?” tanya Miyarti setengah berteriak.

“Bu Asih mencarimu.”

“Ada apa, mencariku, Mbak?”

“Lha, kok malah bertanya. Miyarti, …Miyarti.. Sudah, sudah melamunnya di situ. Ini sudah Mahgrib, sudah mau malam. Ingat lho, ini malam Jumat Kliwon! Sebentar lagi pengunjung akan berdatangan.”

“Wah, lupa kalau ini malam Jumat Kliwon. Lupa, Mbak….”

“Ayo, pulang! Siap-siap! Bu Asih menunggumu, lho!” seru Darsih lagi.

Mendengar nama Bu Asih disebut, Miyarti merasa tak punya alasan untuk menolak ajakan Darsih. Ia pun bangkit dari duduknya. Lalu ditinggalkannya gubuk kecil itu dengan langkah gontai. Sebenarnya ia ingin berlama-lama lagi menyaksikan semua panorama di laut, mendengarkan deru laut, desau angin dan debur ombak. Tapi dirinya tak ingin membuat Bu Asih kecewa, karena menunggunya berlama-lama di gubug kecil tepi pantai.

Bu Asih, bersandar di tiang pintu masuk warung yang sekaligus juga penginapan itu. Bangunannya sederhana, tapi tampak bersih. Cat di temboknya berwarna pink, masih terlihat baru. Mungkin baru sekitar dua atau tiga minggu merasa tak punya alasan sebelumnya dicat ulang. Di atas pintu masuk ada papan nama tak seberapa besar, Warung dan Penginapan “Kasih”. Dan, Bu Asih, perempuan berambut panjang berusia sekitar 55 tahun, adalah pemilik atau pengelolanya.

“Yarti, Yarti…..selalu saja kalau tidak dijemput kamu asyik di pantai, sampai lupa pulang. Lupa kalau hari sudah mau gelap. Lupa mandi. Lupa segala-galanya. Ayo, siap-siap, sebentar lagi orang-orang akan berdatangan. Ini malam Jumat lho, Yarti. Seperti biasa pasti akan ramai tamu atau pengunjung yang datang ke sini,” ujar Bu Asih tegas, tapi tetap disertai senyum menyambut kedatangan Miyarti.

“Baik….baik, Bu. Saya tidak lupa kok, kalau ini malam Jumat,” kata Miyarti, juga dengan tersenyum.

“Lho, tadi bilangnya lupa kalau ini malam Jumat Kliwon?” potong Darsih yang berdiri tak jauh dari Bu Asih.

“Haha….itu tadi kan cuma bercanda, Mbak Darsih,” ujar Miyarti.

“Tapi, kenapa tidak cepat-cepat pulang?” masih kata Bu Asih.

“Lautnya indah, Bu.”

“Lha, cuma laut saja. Dari dulu laut yang begitu, tidak berubah-rubah.”

“Tapi di mata saya indah sekali, Bu. Ombaknya yang bergulang-gulung ke pantai, indah. Suara debur ombaknya indah. Juga ada burung-burung camar yang mempesona. Eman-eman kalau dilewatkan.”

“Tapi kalau kelamaan, sampai Mahgrib, kamu bisa digondol yang punya laut, Yarti,” timpal Darsih.

“Huss, jangan ngomong begitu,” potong Miyarti.

“Lha, ngomong yang bagaimana? Ya, sudah saya ganti. Tidak digondol yang punya laut, tapi digondol lelaki ganteng. Begitu?” kata Darsih sambil tertawa.

Bu Asih, Asti dan Warni juga ikur tertawa.

“Tuh…lihat, Darsih, Asti, dan Warni, sudah siap semua. Juga yang lain. Sudah ayu semua. Sudah wangi. Kamu saja yang masih semrawut, masih acak-acakan….,” seru Bu Asih kemudian seraya menunjuk ke nama-nama yang disebutnya.

Kebetulan ketiga perempuan yang berusia sebaya, antara 25 sampai 30 tahunan itu berada di ruang depan, duduk di kursi tamu, tak jauh dari pintu masuk. Ketiganya bersama Miyarti memang tinggal di warung dan penginapan “Kasih”.

“Sudah sana mandi. Siap-siap. Dandan yang ayu ya Nduk….., yang cantik,” kata Bu Asih lagi. (bersambung)

Lihat Juga

Meningkatkan Pendidikan Perkuat Kebudayaan

KETIKA bangsa Tionghoa ingin hidup tenang, mereka membangun tembok Cina yang sangat tinggi besar dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *