Selasa , 13 November 2018
Beranda » Sastra » Penyair Empat Kota Launching Antologi Puisi di Tembi
Damtoz Andreas dari Magelang

Penyair Empat Kota Launching Antologi Puisi di Tembi

Pers Release

Empat antologi puisi karya dari  penyair yang tinggal di kota berbeda, akan dilaunching dalam acara  Sastra Bulan Purnama edisi 66, Senin 13  Maret 2017, Pkl. 19.30 di Tembi Rumah Budaya, jalan Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Masing-masing puisi itu berjudul ‘Larik-Larik Kata’ karya Dharmadi (Purwokerto), ‘Rasa Ku Rasa’ karya Suyitno Ethex (Mojokerto), ‘Seriuh Kata Sebisu Kala’ karya Damtoz Andreas (Magelang),  dan ‘Lelaki Mengulum Sunyi’ karya Sunawi (Yogyakarta). Masing-masing buku diterbitkan oleh penerbit yang berbeda.

Buku karya Dharmadi “Larik-Larik Kata’ diterbitkan Kosa Kata Kita, Jakara. Buku Damtoz Andreas ‘Seriuh Kata Sebisu Kala” diterbitkan penerbit TriBEE Press, Magelang. Buku Suyitno Ethek ‘Rasa Ku Rasa’ diterbitkan Media Nusa Creatif, Malang dan buku Sunawi ‘Lelaki Mengulum Sunyi’ diterbitkan Tonggak Pustaka, Yogyakarta.

Selain pembacaan puisi karya empat penyair, juga akan ditampilkan petunjukan musik puisi dari Ahmad Jalidu dkk yang menggarap puisi Damtoz Andreas menjadi lagu. Para pembaca puisi lainnya, akan membacakan puisi karya penyair, yang antologi puisinya dilaunching. Mereka adalah Denny, Resmiyato, Risda Nur Widya, Sashmytha Wulandari, Achmad Sultoni, Nina Purnomo, Wicahyanti Rejeki, Mang Yani dan Teguh Mahesa.

Koordinator Sastra Bulan Purnama, Ons Untoro menjelaskan, tajuk dari Sastra Bulan Purnama ‘Rasa Lelaki Serius Larik-Larik Kata’,  yang merupakan rangkaian dari masing-masing judul antologi puisi yang dilancinching.

“Kata Rasa diambil dari judul antologi puisi Suyitno Ethex, kata Lelaki diambil dari judul antologi puisi Sunawi dan kata Seriuh diambil dari judul antologi puisi Damtoz Andreas, yang kemudian ditutup dengan judul antologi puisi karya Dharmadi” ujar Ons Untoro

Antologi puisi “Larik-Larik Kata’ karya Dharmadi menyajikan sekitar 60 puisi, dan semuanya merupakan puisi alit, yang ditulis pendek-pendek, paling banyak 4 baris, bahkan ada yang dua baris. Puisinya penuh imajinatif dan kental akan suasana.

Simak juga:  Landung Simatupang Akan Membaca Puisi Darmanto Yatman di Sastra Bulan Purnama

Lain lagi dengan puisi Suyitno Ethek. Dalam antologi kali ini, Ethex, demikian panggilannya, menyajikan sekitar 90 puisi dengan tema beragam. Puisinya tidak terlalu panjang, dan terdiri dari tiga empat alinea.

Damtoz Andreas menyajikan sekitar 100 puisi, dan dia ramu antara puisi panjang dan puisi pendek. Ada puisinya yang lebih dari satu halaman, namun ada juga puisi yang hanya empat baris. Tema puisianya tidak tunggal, namun terlihat kalau Damtoz menulis puisi melalui proses pengendapan.

Ketiga penyair ini, Dharmadi, Suyitno Ethex dan Damtoz, sudah beberapa kali tampil di Sastra Bulan Purnama. Launching antologi puisi ini bukan yang pertamakali dilakukan di Tembi Rumah Budaya. Dari keduanya,  Dharmadi penyair paling tua, dia lahir tahun 1948, sementara Damtoz Andreas dan Suyito Ethex lahir sesudah tahun 1960-an.

Sunawi lain lagi, dia menyajikan 80-an puisi, dan baris puisinya panjang-panjang. Dia baru kali pertama tampil membaca puisi, tetapi dia rajin menghadiri Sastra Bulan Purnama. Sunawi tekun menulis puisi, pengalaman hidup keseharian menjadi bahan permenungan untuk menulis puisi. Antologi puisi berjudul ‘Lelaki Mengulum Senyum’ merupakan antologi yang pertama diterbitkan. (*)

Lihat Juga

Mengenang Rendra di Sastra Bulan Purnama

Kali ini, Sastra Bulan Purnama 85 akan diisi untuk mengenang Rendra, seorang penyair dan aktor …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.