Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Sastra » Penyair, Dokter, Pensiunan dan Musisi Menandai 6 Tahun Sastra Bulan Purnama
Margono Wedyopranasworo, pensiunan.

Penyair, Dokter, Pensiunan dan Musisi Menandai 6 Tahun Sastra Bulan Purnama

Sastra  Bulan Purnama, satu tajuk acara pembacaan puisi yang diselenggarakan Tembi Rumah Budaya, dan menggunakan penanggalan Jawa, yang dihitung saat bulan purnama, yang jatuh pada tanggal 14 atau 15 bulan Jawa dan menunjuk tanggal nasionalunya selalu beranti-ganti. Acara ini dimulai sejak Oktober 2011, dan pada September 2017 sudah memasuki edisi 72, atau 6 tahun Sastra Bulan Purnama.

Pada 6 tahun Sastra Bulan Purnama, yang jatuh pada 6 September 2017 ditandai penampilan berbagai profesi membacakan puisi karya Yudhistira ANM Massardi. Selain tiga orang penyair berbeda generasi Sutirman Eka Ardhana, seorang penyair Yogya yang aktif sejak ikut Persada Studi Klub asuhan Umbu Landu Paranggi, dan Rudi Yesus, seorang penyair muda yang mulai aktif menulis puisi sejak tahun 1990-an semasa masih menjadi mahasiswa di jurusan Sastra Jawa, Fakultas Ilmu Budaya UGM dan Aly D.Musyrifa, penyair dan penterjemah.

Pembaca lainnya, seorang dokter mata, Halida Wibawaty, tingal di Solo, dan sudah beberapa kali tampil di Sastra Bulan Purnama. Kali ini dia membacakan 2 puisi karya Yudhistira, 1 puisi terbaru dan satu yang lain puisi lama.

“Saya selalu menikmakti setiap kali membaca puisi di Tembi, dan hal ini membuat saya bahagia. Setiap hari yang selalu bertemu dengan banyak pasien, dalam kondisi saya letih harus tetap melayani pasien, yang semua mengeluh sakit. Di Sastra Bulan Purnama, yang sudah genap 6 tahun, saya merasa fresh” kata Halida Wibawaty sebelum membaca dua puisi karya Yudhis.

Memet Chairul Slamet, seorang musisi, kelompok musiknya ‘Gangsadewa’ sudah melakukan pentas di banyak kota, termasuk di negeri-negeri lain, dan juga beberapa kali pentas di Tembi Rumah Budaya, kali ini dia tampil membaca puisi. Karena seorang musisi, dalam membaca puisi sekaligus dia membawa alat musik untuk mengiringinya dalam membaca.

Simak juga:  Empat Penyair Tampil di Sastra Bulan Purnama

“Ini merupakan sejarah baru bagi saya, karena saya memberanikan diri membaca puisi karya seorang penyair yang hebat. Selama ini saya lebih banyak bermain musik, termasuk mengolah puisi dengan musik. Malam ini, memperingati 6 tahun Sastra Bulan Purnama, saya membuat sejarah baru: membaca puisi” ujar Memet Chairul Slamer.

Seorang pensiunan penyiar radio RRI Yogya, yang banyak bergiat dibidang sastra Jawa, dan piawai sebagai MC bahasa Jawa, karena itu sering ditanggap kemana-mana untuk bertindak sebagai MC, yang menggunakan bahasa Jawa, Margono Wedyopranasworo  namanya, kali ini dia membacakan dua puisi karya Yudhis yang diambil dari kumpulan puisi ‘Sajak Sikat Gigi’.

“Rasanya, ini kali kedua saya membaca puisi diajak mas Ons Untoro. Pertama membaca puisi di Bentara Budaya Solo, dan yang kedua, malam ini membaca puisi karya penyair terkenal mas Yudhistira” kata Margono.

Dua pembaca yang lain, seorang calon pegawai negeri sipil Dita Yulia Paramita, dan seorang  perempuan yang memiliki aktivitas dibidang kesenian. Nunuk Nirawati. Keduanya membacakan dua puisi karya Yudhis yang terkumpul dalam buku ’63 Cinta’

Sutirman Eka Ardhana, seorang penyair dan sahabat Yudhis sejak tahun 1970-an semasa di Persada Studi Klun asuhan Umbu Landu Paranggi, membacakan dua puisi karya Yudhis yang berjudul ‘Biarin’ dan ‘Sajak Sikat Gigi’. Keduanya merupakan puisi lama, yang ditulis tahun 1970-an dan diterbitkan dalam antologi puisi berjudul ‘Sajak Sikat Gigi’.

“Puisi-puisi Yudhis ketika masih  muda, terasa sekali kenakalannya, terutama bisa dilihat, salah satunya, pada puisi berjudul  Biarin” kata Eka Ardhana.

Seperti kata Yudhis para pembaca menafsirkan puisi karyanya dengan cara yang berbeda-beda, dan itu menunjukkan bahwa puisi memang bebas untuk ditafsirkan oleh para pembacanya.

Simak juga:  Lagu Puisi, Jalan Hidup Untung Basuki Di Tembi

“Saya senang sekali, puisi-puisi saya dibacakan oleh kawan-kawan yang sebagian besar baru saya kenal malam ini,” ujar Yudhistira Massardi (*)

Lihat Juga

Foto dan Puisi: Dua Karya Seni Dalam Satu Antologi Puisi

Antologi puisi yang diberi judul ‘Kepundan Kasih’, bukan hanya berisi puisi, tetapi juga berisi karya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.