Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Seni & Budaya » Pengilon, Tubuh Perempuan dalam Silang Budaya
Padupan Ratus Vagina (ft. Arief Sukardono)

Pengilon, Tubuh Perempuan dalam Silang Budaya

Jawa, sebagai satu bangsa sejak jaman kerajaan telah melakukan interaksi dengan bangsa-bangsa lain. Salah satu bentuk interaksi bisa dikenali melalui cindera mata, yang kini menjadi artefak. Benda-benda koleksi ini, di Yogyakarta salah satunya disimpan di Museum Sonobudoyo. Ada banyak benda koleksi yang bisa dilihat dalam setiap harinya di museum ini. Namun, dalam pameran Temporer Sonobudoyo 2017, yang pembukaannya dilakukan 5 Desember 2017 dan akan berakhir 15 Desember 2017, koleksi yang dipamerkan adalah pengilon berikut asesoris yang melengkapinya.

Darpana merupakan salah satu pengilon yang dipamerkan, merupakan koleksi masa klasik sekitar abad 6 – 7 , ini artinya koleksi ini sudah sangat tua, meskipun angka tahunnya tidak terdata secara pasti. Tajuk dari pameran ini “Pengilon: Kisah Perempuan Dalam Silang Budaya’.

Orang Jawa menyebutnya pengilon, dan dalam bahasa Indonesia dikenali sebagai cermin. Bahan bakunya sama, dari kaca. Namanya sama, bentuknya bisa berbeda. Ada beragam variasi bentuk dari apa yang disebut pengilon atau cermin. Ia bukan hanya sekedar untuk ‘ngilo’ dalam bahasa Jawa, atau bercermin dalam bahasa Indonesia, tetapi sekaligus untuk ‘hiasan’ dalam satu ruangan. Karena itu, pengilon tidak hanya terletak di ruang privat, tetapi bisa ditempatkan di ruang terbuka: untuk memberi ruang pada publik supaya  melihat dirinya. Untuk ngilo atau berkaca sebelum memasuki ruang utama, atau ruang tamu.

Pameran Temporer 2017, yang diselenggarakan museum Sonobudoyo, Yogyakarta menyajikan tajuk Pengilon: Kisah Perempuan Dalam Silang Budaya. Di dalam pameran ini aneka pengilon berikut pernik-pernik asesoris perempuan untuk tampil cantik disertakan. Jadi, dalam konteks ini, pengilon tidak hadir ‘sendirian’, artinya hanya menyajikan berbagai macam bentuk pengilon, melainkan aneka barang yang menyertai perempuan di depan pengilon disertakan.

Dalam kaitannya dengan pengilon ini, perempuan merupakan kata kunci. Perempuan dan pengilon merupakan sisi lain dari mata uang yang sama. Kehadiran perempuan di ruang publik tidak bisa dilepaskan dari pengilon berikut pernik-perniknya. Dalam tradisi Jawa, perempuan –lebih-lebih dari kalangan priyayi dan bangsawan—tak bisa dijauhkan dari apa yang ,dalam bahasa Jawa disebut sebagai macak, atau berdandan. Di dalam proses macak ini pengilon menjadi sangat penting. Karena dengan pengilon, kehadiran perempuan bisa terlihat sebelum tampil di ruang publik, sekaligus bisa untuk mengerti bahwa penampilannya berbeda dari kesehariannya.

Jadi, pengilon meneguhkan jati diri perempuan.

Pengilon dan ruang: Perempuan Meneguhkan Jati Diri

Pada satu  momentum, pernah terjadi diskusi agak panjang dalam menempatkan posisi perempuan. Dalam tradisi Jawa, perempuan menempati ruang domestik sehingga dikenal satu istilah masak, macak, manak. Satu tipologi perempuan, yang dianggap ‘merendahkan’ martabat perempuan. Seolah perempuan hanya mempunyai aktivitas tiga hal tersebut. Padahal di ruang domestik, sesungguhnya, perempuan memiliki ‘kuasa’ dan menentukan posisi publik, yang biasanya, atau seolah-olah, menjadi ‘hak’ pria.

Agaknya, ini soal awalnya. Pria memiliki tugas masuk hutan untuk berburu, dan perempuan menjaga rumah, anak dan sejenisnya sambil menunggu hasil buruannya, untuk kemudian dimasak. Berburu kelak kemudian dikenal sebagai pergi ke kantor, dan lagi-lagi perempuan tinggal di rumah untuk menunggu pria pulang dari kantor.

Kini kita tahu, ke kantor bukan lagi tugas pria. Perempuan telah mengisi ruang yang, dulunya dianggap hanya milik pria. Di ruang yang sama, kantor misalnya, perempuan bisa mengambil posisi yang sama, bahkan lebih dari posisi pria. Untuk menyebut misalnya, di wilayah akademis, Dekan dan Rektor bisa dijabat perempuan, dan para pembantunya para pria. Atau juga Presiden atau Perdana Mentri bisa dijabat perempuan, dan bagian-bagian lain dibawahnya dipegang pria (dan juga perempuan). Lihat sisi yang lain, di area yang dulunya dianggap milik perempuan, kini kita menemukan chef diperankan oleh para pria. Para pria chef itu, menikmati dunia memasak dengan penuh gairah.

Perempuan dari kalangan menengah tidak lagi membedakan antara ruang domestik dan ruang publik. Karena di negara-negara maju, termasuk negara berkembang seperti di Indonesia, kita bisa melihat perempuan kelas menengah mengisi ruang-ruang profesional di ruang publik, dan tidak hanya lajim diisi kaum pria. Modernitas telah membawa perempuan ‘keluar’ dari ruang domestik untuk menuju ruang publik. Meskipun secara  tradisional, sesungguhnya, kita bisa melihat, perempuan di desa tidak hanya menghuni ruang domestik, tetapi juga mengisi ruang publik, misalnya memetik teh di kebun, berjulanan di pasar atau di sawah  memanen padi.

Dalam kata lain perspektif dikotomik, yang mempertentangkan domestik-publik tidak lagi relevan, bahkan (harus) sudah dibuang. Karena domestik dan publik tidak lagi bisa ditemukan, bahkan keduanya sudah merapat: domestik sekaligus publik. Dari ruang tamu, seorang perempuan bisa menawarkan apa saja yang dia produksi kepada siapa saja yang ada di luar, bahkan lokasinya sangat jauh dari tempat tinggalnya. Dunia digital telah menyatukan atau menghilangkan dua ruang yang dulu pernah diperdebatkan itu.

Dunia digital dan media sosial telah memberi formula bahwa seseorang bisa melihat dirinya sekaligus melihat orang lain. Bahkan keduanya saling melihat. Wilayah privat tidak lagi urgen, karena kita sering menemukan apa yang dulunya hanya pantas berada di ruang privat, kini (di) hadir (kan) di ruang publik, yang areanya, hampir-hampir tak berbatas. Dari media sosial, kita bisa menemukan hal-hal seperti itu. Jadi, kalau melalui pengilon seseorang melihat dirinya untuk bisa mengerti: apakah sudah pantas atau belum untuk tampil di ruang publik. Kini pemahaman seperti itu tidak lagi memadai untuk (terus) dipegang atau diyakini.

Dalam kata lain, formula pengilon telah mengalami perubahan yang dahsyat, sejauh pengilon memiliki arti untuk meneguhkan jati diri perempuan. Dunia digital adalah bentuk lain dari pengilon, di mana perempuan bisa mengambil peran, atau memiliki prakarsa sebagaimana pria melakukan hal yang sama.

Jadi, pengilon bukan berupa barang, melainkan  adalah ruang,  yang mana di dalam ruang itu perempuan meneguhkan jati dirinya.

 

Kisah Perempuan Dalam Silang Budaya

Tubuh perempuan tidak pernah otonom. Ia selalu dipengaruhi sesuatu yang lain. Ia dikelola agar selalu kelihatan indah dan menarik. Dalam istilah Jawa apa yang dikenal sebagai ngadisarira. Dalam konteks ini tubuh perempuan, yang tidak pernah otonom itu, menjadi pusat untuk ‘dikelola’. Maka, di dalam tubuh perempuan selain mengenakan kebaya, dilengkapi asesoris lainnya, gelang, kalung, cincin dan lainnya. Tidak lupa, minum-jamu-jamu jawa, lagi-lagi untuk menjaga tubuhnya. Ketika seluruh perangkat perempuan sudah lengkap dan terlihat cantik, untuk meneguhkan kecantikannya perempuan berdiri di depan pengilon. Ketika melihat wajahnya di pengilon, sesungguhnya tidak hanya melihat dirinya, tetapi sekaligus melihat keluar. Dalam imajinasinya penampilannya yang dia lihat dari pengilon, dan ketika tampil di ruang publik jadi diri perempuan akan mempesona, setidaknya seperti tubuh perempuan yang dilihat dari pengilon.

Asesoris yang dikenakan berikut pernik-pernik yang dikenakan bisa berasal dari daerah lain. Misalnya, gelangnya dari Tiongkok, kalungnya dari Eropa dan asesoris lainnya dari masa Hindu-Budha dan seterusnya. Artinya, dalam konteks ini, perempuan  kehadirannya telah merepresentasikan dari persilangan budaya. Belum lagi, kehadirannya di ruang publik dalam satu upacara tertentu, yang dihadiri tamu-tamu dari kultur yang berbeda-beda, dan bertemu di ruang yang sama.

Dengan kata lain, dalam mengelola tubuh perempuan, pernik-pernik yang mengawali dalam proses mengelola berasal dari kultur yang berbeda-beda’ Jamunya dari Jawa, mungkin ramuannya dari Cina, rempahnya dari lokasi kultur yang berbeda dan seterusnya,  semuanya ‘menyatu’ dalam tubuh perempuan. Dari sini saya melihat, tubuh perempuan menjadi medan persilangan budaya.

Di tubuh perempuan kita bisa melihat aneka asesoris, termasuk kebaya yang dikenakan berasal dari tradisi yang berbeda-beda. Kain batik yang dikenakan motifnya bisa berasal dari daerah terentu. Selendang yang melekat di pundaknya motifnya berbeda dari kain jarik yang dikenakan. Asesoris lainnya, anting, gelang, kalung, konde bahkan sampai sandal yang dikenakan  berangkat dari tradisi yang berbeda-beda, dan semuanya melekat dalam tubuh perempuan.

Pengilon meresponnya sekaligus meneguhkannya. Maka, setelah perempuan berdiri di depan pengilon, jati dirinya seperti diteguhkan. Dari sini perempuan melangkah ke ruang yang lebih luas untuk bertemu khalayak tanpa perlu membawa beban hidup keseharian sebagai perempuan. Di ruang pertemuan yang dihadiri oleh berbagai macam kalangan dari kelompok sosial yang berbeda-beda inilah, kisah perempuan dalam silang budaya menemukan media sosialnya. (Ons Untoro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *