Sabtu , 8 Agustus 2020
Beranda » Hukum » Pelatihan Menulis Puisi Untuk Napi di Lapas Karawang
Para napi peserta pelatihan menulis puisi.

Pelatihan Menulis Puisi Untuk Napi di Lapas Karawang

Kredo; ‘Yang bukan penyair tidak boleh ambil bagian’. Kiranya tidak lagi relevan karena puisi bukan hanya milik penyair, tetapi puisi sudah menjadi milik khalayak, siapapun bisa bersentuhan dengan puisi, baik membaca puisi maupun menulis puisi. Karena puisi telah begitu akrab dengan berbagai kalangan masyarakat, termasuk para nara pidana (napi) yang menghuni lembaga pemasyaratakan.

Lagi-lagi puisi masuk lembaga pemasyarakatan. Kali ini sastrawan dari Yogya, Ons Untoro,  Iman Budhi Santosa dan Budi Sardjono memberi pelatihan menulis sastra, dalam hal ini puisi dan cerpen kepada napi yang menghuni di Lapas Karawang. Pelatihan dilakukan Jumat 19 Mei 2017 di Aula Lapas Karawang, Jl. Surotokunto no 8, Warungbambu, Karawang, Jawa barat.

Zaenal Arifin, Kepala Lapas Karawang dalam memberi pengantar menyampaikan, bahwa menulis merupakan kegiatan yang baik bagi siapa saja, termasuk bagi para napi. Bahkan, demikian kata Zaenal, kita mengenal sastrawan besar Pramudya Ananta Toer, yang menulis novelnya pada saat dipenjara.

“Saya minta tiga orang sastwana dari Yogya, dalam hal ini Ons Untoro, Iman Budhi Santosa dan Budi Sardjono untuk memberikan pelatihan menulis karya sastra bagi pada napi. Ketiga sastrawan ini ketika saya bertugas sebagai Kepala Lapas di Wirogunan pernah memberi pelatihan di sana dan hasilnya para peserta menulis puisi, dan sudah diterbitkan” kata Zaenal Arifin.

Simak juga:  Perempuan Pantai

Iman Budhi Santosa, seorang penyair dari Yogya, dan sudah lama bergerak dibidang sastra, bahkan sejak tahun 1967 sudah mulai menulis puisi dan mendirikan Persada Studi Klub di Yogya bersama Umbu Landu Paranggi memberikan dasar-dasar bagaimana menulis puisi.

“Kalian semua, sebenarnya sudah memiliki bekal untuk menulis puisi, apalagi kalian ada di dalam penjara, yang tidak semua orang bisa menikmatinya. Apa yang anda alami itu merupakan bekal untuk menulis” kata Iman Budhi Santosa.

Secara detil Iman menjelaskan, bahwa selama ini kalian tidak bisa melihat rembulan. Kerinduan kalian terhadap rembulan bisa menjadi bekal untuk menulis puisi. Atau keinginan anda pulang, perasaan rindu terhadap rumah adalah bahan yang bisa dipakai untuk menulis puisi.

“Tulisalah puisi atau apa saja, kerinduan untuk pulang, tetapi jangan dengan melompati pagar dan tembok, melainkan melalui pintu. Itulah pulang,” ujar Iman Budhi Santosa.

Rupanya, para napi yang terdiri dari perempuan dan pria menyimak pelatihan menulis ini, dan diam-diam sambil mendengarkan,  mereka menulis puisi disela-sela latihan masih berlangsung.

Ketika diberi kesempatan untuk bertanya,  beberapa orang di antaranya maju ke depan, tetapi tidak bertanya, melainkan membaca puisi karyanya yang dia tulis disela-sela dia mendengarkan dalam mengikuti pelatihan. Seorang napi perempuan, mengenakan t’shirt warna putih membaca puisi karyanya yang baru saja selesai dia buat.

Simak juga:  Dhritarashtra Akan Naik Tahta Menggantikan Pandu

“Saya akan membacakan puisi, yang baru saja selesai saya buat sambil mendengarkan materi menulis puisi,” kata napi perempuan tersebut.

Sedang Budi Sardjono, seorang cerpenis dan novelis dari Yogya memberikan pelatihan menulis prosa, bisa berupa cerpen atau tulisan lainnya termasuk catatan harian. Kata Budi Sardjono, ‘kalian boleh menulis apapaun bentuknya, yang berangkat dari kisah hidup yang kalian alami.

“Pengalaman kalian banyak, dan bisa dituliskan dalam bentuk apapun, bisa cerpen, kisah atau bahkan catatan harian.” Ujar Budi Sardjono.

Rupanya, ada napi yang tertarik bercerita, dan dia maju kedepan, usianya masih muda. Dia bercerita kisahnya sampai masuk penjara dan divonis 1 tahun lebih. Napi yang lain juga bercerita pengalamannya, dan berbeda dari pengalaman napi yang lain dan divonis lebih lama untuk menghuni lembaga pemasyarakatan.

“Kisah-kisah seperti itu penting untuk kalian tuliskan, nantinya akan berguna bagi dirinya dan bagi banyak orang.” Kata Budi Sardjono. (*)

Lihat Juga

Seputar Kepenulisan Saya

Saya suka menulis. Itu diawali dengan kesukaan saya membaca buku sejak bangku SMP dulu. Terus …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *