Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Humaniora » Pelacur pun Berhak Bergembira….
Kembang api pada malam tahun baru di Yogya. (ft. wisatajogja)

Pelacur pun Berhak Bergembira….

INI sebenarnya tulisan lama. Tapi menjelang datangnya kemeriahan menyambut dan merayakan datangnya tahun baru 2018, saya tergoda untuk memunculkan kembali tulisan ini. Walaupun tulisan ini berlatar belakang suasana menjelang Hari Raya Idul Fitri beberapa tahun lalu, tetapi ada kesamaan sudut pandang sebagian masyarakat terhadap menyambut datangnya tahun baru. Sebagaimana halnya masyarakat Muslim memandang Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran sebagai hari istimewa, tak sedikit pula masyarakat umum memandang malam tahun baru sesuatu yang istimewa juga.

Semua lapisan masyarakat, apa pun profesinya, apa pun status sosialnya, baik yang mampu maupun tak mampu, berduit atau tak berduit, kaya atau miskin, merasa memiliki hak yang sama untuk bergembira menyambut datangnya hari raya, maupun malam tahun baru. Nah, tulisan lama saya ini menggambarkan bagaimana potret masyarakat yang secara kebetulan perjalanan kehidupannya ‘tak seberuntung’ yang lain, dalam menyambut dan merayakan hari yang dipandangnya istimewa itu. Demikianlah, silakan simak.

***

GANG III, gang kecil di sisi selatan Jalan Pasar Kembang yang menjuruk masuk ke dalam kampung Sosrowijayan Kulon, malam itu terlihat sepi. Kesan sepi memang telah terlihat di gang ini sejak awal Ramadhan. Padahal malam-malam di luar Ramadhan, gang ini seakan penuh dengan denyut kehidupan. Bahkan denyut kehidupan dan kesibukannya merebak hingga jauh ke dalamnya.

Gang terkesan agak sempit ini memang menuju ke kawasan yang selama ini populer dengan sebutan ’Pasar Kembang’. Nama Pasar Kembang sejak puluhan tahun lalu terlanjur mematrikan kesan ’kelam’ buat Yogya. Di kawasan ini pulalah, desah kehidupan Yogya yang ’hitam’ menggeliat bersama aktivitas kehidupan lainnya.

Malam-malam sebelum Ramadhan, kehidupan malam di kawasan ini terasa benar denyutnya. Biasanya, baru berjalan sekitar 50 meter ke dalam, di dekat sebuah bangunan rumah berlantai dua menghadap ke barat, ’keriuhan’ malam sudah langsung menyambut. Di sisi utara bangunan itu ada sebuah gang yang menjuruk ke timur. Di depannya, di sisi barat gang, terdapat sebuah kursi panjang terbuat dari beton.  Beberapa perempuan yang rata-rata berusia muda duduk berdempetan di situ. Gaya dan dandanan mereka tentu saja menggoda. Celoteh dan tawa mereka pun begitu ramainya. Terlebih bila ada ’tamu-tamu’ yang berjalan di depan mereka. ’Keriuhan’, celoteh dan tawa ria tidak hanya di situ, tetapi juga terdapat hampir di seluruh sudut kawasan ini.

Tetapi malam-malam di bulan Ramadhan pemandangan seperti itu tidak ditemui. Kesan ’keriuhan’ malam yang menggoda seperti malam-malam di bulan sebelumnya nyaris tak terlihat. Suasananya terkesan biasa-biasa saja. ’Tamu-tamu’pun sepi. Hanya satu-dua yang datang, jalan-jalan, sekadar berkeliling melihat-lihat saja.

Simak juga:  Pasar Kembang, dan Riwayat “Bisnis Seks”nya

Para perempuan yang menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK) di kawasan ini pun terkesan tak seceria malam-malam sebelum Ramadhan. Mereka terkesan pasrah dengan sepinya para tamu.

”Sepi, benar-benar sepi. Selama bulan puasa, tamu-tamu di sini sepi. Hanya satu dua yang datang. Dan, kalau sepi begini, artinya rezeki saya pun akan sepi. Rencana mengumpulkan uang untuk Lebaran menjadi gagal. Saya juga ingin berlebaran seperti lainnya. Saya sadar, bahwa saya ini PSK. Tapi bukankah PSK atau pelacur juga punya hak untuk merayakan Lebaran? Punya hak untuk bergembira di hari raya? Tetapi, sepertinya Lebaran ini saya jalani dengan hati perih, tidak dengan kegembiraan,” kata perempuan yang mengaku bernama Mimi.

Mimi yang mengaku sudah sekitar dua tahunan menjalani profesi sebagai PSK di kawasan Pasar Kembang ini menguraikan kepedihan hatinya karena tak bisa membelikan baju dan kain untuk ibunya di desa. Padahal, ketika ia pulang ke desa beberapa bulan lalu, ibunya minta dibelikan baju panjang atau busana muslim. Tetapi ’sepi’nya suasana Pasar Kembang di bulan Ramadhan, dan ketidakmampuannya mengumpulkan uang sebelumnya, membuat niatnya itu tidak bisa terlaksana.

“Saya benar-benar sedih, tidak bisa memenuhi permintaan simbok di desa. Padahal permintaan simbok itu nggak banyak, Cuma baju panjang atau busana muslimah itu. Tapi mau bagaimana lagi, uang bsaya mepet banget. Hati saya perih, karena nggak bisa membelikan simbok baju baru. Saya hanya bisa memberikan baju baru untuk anak saya yang masih duduk di kelas V SD. Padahal saya ingin, di hari Lebaran melihat simbok mengenakan baju dan kain baru,” kata perempuan berusia sekitar 30 tahunan yang mengaku berasal dari salah satu daerah di Jawa Tengah.

Meskipun begitu, menurut Mimi, ia tetap akan pulang berlebaran bersama ibu dan anaknya. Semenjak berada di Pasar Kembang, sudah untuk kedua kalinya ia merayakan Lebaran di desa. Karena baginya, Lebaran bersama orang-orang tercinta, yakni ibu dan anaknya, karena kebetulan ayahnya sudah almarhum, merupakan suatu keharusan.

“Sekalipun uangnya mepet, saya tetap berusaha Lebaran di desa. Karena Lebaran merupakan saat yang tepat bagi saya untuk meminta maaf kepada simbok, atas dosa-dosa yang sudah saya perbuat. Saya selama ini sudah membohongi simbok, dengan melakukan pekerjaan seperti ini, menjadi PSK. Simbok tidak tahu kalau saya bekerja begini. Simbok tahunya, saya bekerja di sebuah perusahaan pakaian,” urai Mimi apa adanya.

Simak juga:  Pasar Kembang, dan Riwayat “Bisnis Seks”nya

 

Membahagiakan Anak

Duka serupa juga dialami Narti, teman seprofesi Mimi di Pasar Kembang. Jika Mimi berduka karena tak bisa membelikan busana muslimah buat ibunya, akan halnya Narti, ia berduka tidak bisa membelikan baju baru untuk dua buah hatinya di desa. Padahal ia sudah berjanji bila Lebaran akan membelikan kedua anaknya, perempuan berusia 10 tahun dan lelaki berusia delapan tahun, baju baru serta sepatu baru.

“Tapi keinginan saya itu nggak terwujud. Penghasilan saya nggak mencukupi untuk membelikan mereka berdua baju baru dan sepatu baru. Bulan puasa ini sepi sekali. Simpanan saya sebelumnya sudah habis untuk bayar pinjaman ke teman. Tapi saya nggak kehilangan akal. Saya tetap berusaha untuk membahagiakan kedua anak saya itu. Saya tetap membelikan mereka baju, tapi ya, bukan baju baru. Saya belikan mereka baju import. Baju-baju bekas yang masih baik, dan bersih,” ujar Narti, yang mengaku berasal dari salah satu daerah di Jawa Timur.

Baik Mimi maupun Narti sama-sama mengaku, bagi mereka kebahagiaan dan kegembiraan anak di hari lebaran adalah segala-galanya. Bagi mereka, apa pun akan dilakukan demi melihat anak-anaknya berbahagia dan bergembira seperti teman-teman sebayanya yang lain di saar Lebaran.

“Saya rela menjadi pelacur seperti ini, demi anak saya bisa sekolah dan berbahagia seperti yang lain. Tapi saya nggak mau dia tahu, bila ibunya mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bekerja seperti ini, menjadi pelacur atau PSK. Suatu pekerjaan yang sesungguhnya sama sekali tak pernah saya inginkan. Tapi ya, mau apa lagi, saya sudah terlanjur begini,” kata Mimi dengan wajah sendu.

Mimi benar, rasanya tidak ada seorang perempuan pun yang dalam hidupnya berangan-angan ingin hidup di tengah gelimang lumpur pelacuran. Dan, tidak seorang perempuan pun yang tentunya bercita-cita dalam hidupnya ingin menjadi pelacur atau PSK. Manusia dari lingkungan mana pun senantiasa berharap dan mendambakan hidup dalam tatanan kehidupan yang wajar dan normal.

Akan tetapi, kenyataan hidup kadangkala bercerita lain. Kehidupan tidak jarang menghadirkan sesuatu yang tak mampu terelakkan. Mimpi-mimpi indah bukan mustahil secara tiba-tiba berubah menjadi mimpi buruk yang menyakitkan. Itulah kehidupan. Dan, kenyataan hidup yang pahit seperti itulah yang membuat banyak perempuan terpuruk dalam kehidupan kelam pelacuran, seperti halnya yang dialami Mimi dan Narti di Pasar Kembang. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Pasar Kembang, dan Riwayat “Bisnis Seks”nya

Dari sudut pandang budaya dan pariwisata, banyak yang bilang Yogyakarta itu indah, cantik, antik, mengagumkan, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *