Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Hukum » Sang Advokat (2) Aprillia Supaliyanto MS, SH: Pekerja Hukum Harus Bermoral Tinggi
Aprillia Supaliyanto MS, SH (Ft: Ist)

Sang Advokat (2) Aprillia Supaliyanto MS, SH: Pekerja Hukum Harus Bermoral Tinggi

Aprillia Supaliyanto MS, SH (Ft: Ist)
APRILLIA Supaliyanto memandang masalah moral merupakan persoalan penting dalam kerja profesi advokat. Tak hanya advokat. Pekerja hukum lainnya, termasuk aparat penegak hukum lainnya seperti hakim, jaksa dan polisi, dalam melaksanakan tugas dan kerjanya juga tak bisa lepas dari standar moral.

Rendahnya moral sebagai pekerja, praktisi atau penegak hukum, menurut Aprillia, akan mudah membuat seseorang yang bekerja di bidang penegakan hukum itu tergoda atau tergelincir  untuk melakukan perbuatan-perbuatan tercela. Misalnya, memanipulasi hukum, memperdagangkan, mempermainkan hukum dan sejenisnya.  Tetapi bila moralnya tinggi, maka setiap pekerja hukum akan berpikir berulang kali dulu sebelum ia terjerumus untuk mempermainkan hukum.

Aprillia Supaliyanto yang sebelum berkiprah di Kongres Advokat Indonesia (KAI) sempat aktif di sejumlah organisasi advokat lainnya tersebut merasa yakin bahwa pekerja atau praktisi hukum yang bermoral tinggi tentu tidak akan berkhianat  terhadap hukum dan keadilan. Hukum dan kebenaran atau keadilan pasti akan ditempatkan  di bagian terdepan dan di atas segala-galanya. Dunia penegakan hukum akan berjalan lancar tanpa kendala yang berarti. Demikian pula dunia peradilan akan terlihat cerah dan menggembirakan. Sehingga tidak akan pernah lagi isu tentang ‘jual-beli hukum’, suap-menyuap, pungli, ‘mafia peradilan’ dan semacamnya.

“Alangkah indahnya dunia hukum kita bila harapan-harapan seperti itu terwujud. Tentunya tidak akan ada lagi pencari keadilan yang merasa hak-haknya disingkirkan, tidak akan ada lagi yang mengeluh dirinya telah menjadi korban dari praktik permainan hukum. Dan, lembaga peradilan benar-benar menjadi benteng keadilan yang memberikan rasa aman, damai serta mengayomi setiap pencari keadilan,” harap Aprillia.

Akan tetapi, kata Aprillia lagi, yang menjadi pertanyaan kapan suasana yang serba indah itu akan terwujud secara nyata. Kapan praktik-praktik yang memanipulasi hukum benar-benar akan hilang? “Inilah yang menjadi tantangan kita semua, khususnya para praktisi atau pekerja hukum. Karena di tangan para praktisi atau pekerja hukumlah, cita-cita mulia dalam pembangunan hukum itu akan terwujud,” tambahnya.

 

Potret Hukum Sekarang

Berbicara tentang potret hukum kita sekarang, Aprillia Supaliyanto menilai, kondisinya tidak bisa lepas dari bagaimana situasi dan wajah dunia penegakan hukum dan dunia peradilan. Seperti halnya dunia penegakan hukum dan dunia peradilan yang masih mendapatkan sejumlah kendala, potret hukum di negeri ini masih dalam perjalanan menapak ke wajah yang cerah. Ini artinya, wajah cerah yang didambakan itu belum lagi terlihat sepenuhnya dalam potret hukum.

Simak juga:  Sang Advokat (1) Aprillia Supaliyanto, MS, SH: Menegakkan Kebenaran Wujud Nasionalisme

Aprillia keberatan jika ada pendapat yang mengatakan bahwa potret hukum di negeri ini masih buram. Menurutnya, sangatlah tidak pantas bila mengatakan potret hukum kita berwarna buram. Karena pada kenyataannya, dari tahun ke tahun sejumlah perkembangan dan pembaharuan bidang hukum telah mewarnai potret hukum di tanah air kita.

Kita harus jujur, kara Aprillia Supaliyanto lagi, untuk mengakui bahwa pembangunan hukum dari tahun ke tahun telah menampakkan hasil yang menggembirakan. Setidak-tidaknya tingkat kesadaran hukum masyarakat sudah terlihat di mana-mana. Namun kita harus jujur pula untuk mengakui bahwa potret hukum kita memang belum secerah yang diharapkan. Di sana-sini masih ada celah-celah  yang ‘bopeng’ atau ‘luka-luka’ yang perlu segera disembuhkan.

Menghapus noda-noda dalam potret hukum kita memang bukan merupakan pekerjaan mudah. Aprillia berpendapat, menghapus noda-noda itu merupakan tugas dan kewajiban segenap pekerja atau praktisi hukum yang harus dilakukann secara bersamaan, terpadu dan terarah. Paling penting, kewajiban menghapus noda-noda dalam potret hukum itu bukan hanya sekadar lontaran tekad, kata-kata maupun slogan yang selalu mencuat atau dicanangkan dalam berbagai pernyataan, forum-forum seminar, diskusi-diskusi hukum serta  berbagai kesempatan lainnya. Tetapi semua itu harus dibuktikan dengan langkah serta tindakan nyata yang mengarah pada suatu kepastian. Dan, semuanya itu bertumpu pada integritas moral segenap pekerja atau praktisi hukum. Baik itu advokat, polisi, jaksa dan hakim.

 

Eksistensi Advokat

Berbicara tentang eksistensi advokat di dalam dunia penegakan hukum di Tanah Air, menurut Aprillia Supaliyanto, sejak tahun 2003 profesi advokat memiliki eksistensi yang sama dengan hakim, jaksa dan polisi dalam kerja penegakan hukum. Artinya, seperti halnya hakim, jaksa dan polisi, advokat di dalam melaksanakan kerja profesinya juga telah diatur dan dilindungi oleh undang-undang.

“Peran dan eksistensi advokat sudah diatur secara tegas di dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat. Undang-undang itu telah melindungi advokat dalam melaksanakan kerja profesi yang diembannya secara bebas, tanpa campurtangan pihak mana pun, sesuai nilai-nilai moral dan etik yang selama ini dimiliki profesi advokat. UU itu mengatur secara tegas tentang peran dan fungsi advokat dalam kerja penegakan hukum di negeri ini,” jelasnya.

Simak juga:  Sang Advokat (1) Aprillia Supaliyanto, MS, SH: Menegakkan Kebenaran Wujud Nasionalisme

Meski diakui keberadaan UU Nomor 18 Tahun 2003 itu telah memperkuat eksistensi profesi advokat, namun Aprillia menyadari perlunya dilakukan sejumlah revisi atau perubahan di dalam UU Advokat itu. Ada kesan, UU tersebut masih memunculkan sejumlah persoalan di dalam organisasi profesi advokat sehingga memunculkan sejumlah penafsiran yang berbeda di antara sejumlah organisasi profesi advokat itu. “Revisi itu perlu dilakukan agar tak ada lagi perbedaan-perbedaan penafsiran terhadap sejumlah ketentuan di dalamnya,” ujarnya.

Walau masih ada persoalan di dalamnya, tapi Aprillia mengakui, UU Advokat telah berperan besar dalam membangun serta meningkatkan eksistensi advokat, terutama yang berkaitan dengan kerja profesi sebagai pemberi layanan jasa hukum kepada para pencari keadilan. Tak hanya dalam kerja pemberian layanan jasa hukum, tetapi advokat juga berperan besar dalam membangun dan meningkatkan tingkat pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang arti pentingnya hukum dalam kehidupan bermasyarakat, serta hak-hak mereka di dalam hukum.

Ditegaskan Aprillia Supaliyanto, kesadaran masyarakat akan hukum itu harus tetap dijaga. Karena jika kesadaran hukum itu tidak terjaga, maka kondisi hukum akan kembali pada wajahnya yang rumit. Akibatnya, kesewenang-wenangan akan terjadi di mana-mana, dan korban-korban dari kesewenang-wenangn itu akan bermunculan. Terutama di desa-desa yang tingkat pemahaman warga terhadap hukum masih lemah. Petualang-petualang hukum akan berkeliaran mencari mangsanya jauh sampai ke pelosok-pelosok desa.

“Saya bersyukur bahwa kesadaran hukum masyarakat, di kota-kota bahkan juga di desa-desa, kini sudah sangat meningkat. Masyarakat sudah sadar akan hak-haknya di dalam hukum. Disamping itu masyarakat juga semakin sadar dengan fungsi dan peran advokat dalam kerja penegakan hukum. Sehingga masyarakat sekarang tidak lagi ragu-ragu untuk meminta bantuan hukum dari advokat ketika mereka mempunyai atau berhadapan dengan permasalahan hukum,” jelas Aprillia Supaliyanto yang kini tak hanya sibuk dengan kerja profesinya di DIY, tapi juga sibuk di kantor DPP Kongres Advokat Indonesia (KAI) Jakarta, dan banyak beracara di berbagai kota lainnya di Tanah Air. *** (Sutirman Eka Ardhana/bersambung)

Lihat Juga

Sang Advokat (1) Aprillia Supaliyanto, MS, SH: Menegakkan Kebenaran Wujud Nasionalisme

MULAI hari ini Warta Kebangsaan akan menampilkan sejumlah sosok advokat di Daerah Istimewa Yogyakarta, terutama …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *