Selasa , 22 Agustus 2017
Beranda » Pariwisata » Pasar Kembang, dengan Gang III yang Populer

Pasar Kembang, dengan Gang III yang Populer

Prostitusi itu sesuatu yang selalu dicerca, dicaci, dibenci, tapi selalu menarik untuk diperbincangkan. Dipandang dari sudut mana pun, prostitusi atau pelacuran merupakan perbuatan yang tercela, tak terpuji, bahkan dianggap kotor. Dari kacamata sosial, prostitusi dipandang sebagai penyakit sosial yang meresahkan. Dari kacamata hukum, prostitusi merupakan perbuatan yang melanggar hukum. Sedang dari kacamata agama, prostitusi merupakan perbuatan yang berdosa, dan dilaknat Allah.

Tapi realitanya, hingga hari ini tak ada yang mampu menghentikan prostitusi. Banyak cara yang telah dilakukan untuk menghentikan aktivitas prostitusi atau pelacuran, antaralain dengan menutup lokalisasi-lokalisasi prostitusi. Akan tetapi penutupan lokalisasi-lokalisasi pelacuran itu, tetap tak mampu juga menghentikan aktivitas pelacuran atau prostitusi tersebut. Ya, lokalisasi prostitusi bisa ditutup, tapi aktivitas prostitusi tetap saja tak pernah berhenti. Seperti halnya yang terjadi di Pasar Kembang, Yogya.

Nah, mari kita sikapi realita itu dengan mencoba mencari tahu apa dan bagaimana dunia prostitusi itu? Dan, siapa saja yang terlibat di dalamnya. Ya, banyak pihak yang berperan di dalam hiruk-pikuk dunia prostitusi itu. Para perempuan malang yang terperangkap di dalam kehidupan kelam itu tak bekerja sendiri. Tapi ada pihak-pihak lain yang turut serta menyemarakkan dunia kelam itu. Di antaranya ada mucikari, calo atau penghubung, dan lain-lainnya lagi.

Mucikari suatu sebutan yang cukup populer di ranah prostitusi, termasuk juga di Pasar Kembang. Mucikari yang sebelumnya lebih dikenal dengan sebutan germo adalah seseorang yang berstatus sebagai ‘boss’, induk semanng atau ‘pengasuh’. Mucikari berfungsi dan berperan dalam mengorganisir, menyediakan fasilitas seperti tempat tinggal, tempat praktik dan memperoleh sebagian dari uang hasil imbalan pelayanan seks yang diberikan ‘anak-anak asuh’nya.

Peran para mucikari dalam menghidupkan aktivitas prostitusi di Pasar Kembang cukup besar. Boleh dibilang, keberlangsungan kehidupan para Pekerja Seks Komersial (PSK) cukup bergantung kepada ‘sepakterjang’ dan aktivitas mereka. Karena itulah, tak jarang pula para mucikari sangat berperan dan berwenang dalam mengatur perilaku masing-masing PSK yang menjadi ‘anak asuh’nya.

Selain dengan mucikari yang menjadi induk semang, para PSK di Pasar Kembang juga tidak bisa lepas dengan peran para calo atau perantara. Para calo atau perantara memiliki peran yang tak kalah pentingnya dibanding mucikari. Tugas utama para calo di lokasi prostitusi mana pun sama, yakni mencarikan tamu bagi para PSK yang ada. Mereka sekaligus berperan sebagai ‘guide’ yang mengantarkan sang tamu sampai ke tempat yang diinginkan. Misalnya bila ada tamu atau pengunjung yang kebingungan mencari ‘pasangan’, maka sang calo akan dengan mudah membantu atau mencarikan solusinya.

Untuk jerih payah dan ‘kerja keras’nya itu, para calo mendapatkan upah atau sebagian bayaran dari yang diterima PSK. Tak sedikit pula yang menerima upah dari mucikari. Dan, di kawasan Pasar Kembang kini terdapat sedikitnya 20 mucikari dan lebih dari 25 calo.

 

Gang III

Di sepanjang jalan Pasar Kembang terdapat beberapa gang. Tapi yang populer adalah Gang III. Gang kecil di sisi selatan jalan yang menjuruk masuk ke dalam kampung itu bila siang nyaris terkesan lengang dan sepi. Tapi bila malam mulai turun, denyut kehidupan pun mulai terasa di gang itu. Kesibukan pun merebak hingga ke dalamnya. Tak hanya para PSK yang ‘sibuk’, tapi juga para mucikari, dan calo.

Di pintu gang ini, biasanya dua atau tiga lelaki yang berprofesi sebagai calo itu selalu siap menyambut kedatangan para ‘tamu’. Begitu ada ‘tamu’ (tentu saja lelaki) yang masuk ke gang, mereka dengan cepat menyambut ramah.

“Mari….,Mas….,” mereka hampir bersamaan akan menyapa ‘tamu-tamu’ yang datang.

“Mari saya Bantu mencarikan, kalau mau santai…..,” akan ada di antara mereka yang kemudian berkata begini.

Dan, masih banyak sederetan kata-kata ‘indah’ lainnya yang dilontarkan mereka untuk mempengaruhi setiap tamu yang datang dan masuk ke gang tersebut.

Kata-kata itu begitu mudah dilontarkan, dan seakan-akan tanpa beban apa-apa. Tidak sedikit pun terkesan rasa khawatir di wajah para calo itu, bila uluran kata-katanya ternyata keliru. Inilah memang resikonya, siapa pun lelaki yang masuk ke dalam gang itu, terlebih-lebih ketika malam, siap untuk dipandang sebagai lelaki iseng yang sedang mencari perempuan-perempuan penghibur.

Tak bisa dibayangkan, bagaimana bila kata-kata penuh tawaran itu diucapkan kepada lelaki baik-baik yang masuk ke dalam gang itu karena ingin menemui kenalan atau keluarganya yang kebetulan tinggal di dalam kampung. Harap diketahui, di dalam kampung juga banyak tinggal keluarga-keluarga yang tidak ada kaitannya dengan kehidupan prostitusi. Untuk menandai keluarga-keluarga seperti ini, biasanya di pintu rumah mereka tertera  ‘rumah keluarga’.

Baru berjalan sekitar 50 meter ke dalam gang itu, sebuah bangunan rumah berlantai dua sudah menanti. Di sisi utaranya sebuah gang yang terkesan gelap menjuruk ke timur. Bangunan permanen dan kukuh itu persis di tepi gang menghadap ke barat. Dan, biasanya beberapa wanita muda, juga setengah baya, bersandar di depan pintu maupun di tembok bangunan dengan senyum mengembang di bibir. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Menyimak Ulang Pidato Kenegaraan Terakhir Bung Karno (1)

SETIAP memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, ingatan kita tentu tidak bisa lepas kepada tokoh bangsa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *