Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Humaniora » Pasar Kembang, dan Riwayat “Bisnis Seks”nya

Pasar Kembang, dan Riwayat “Bisnis Seks”nya

Dari sudut pandang budaya dan pariwisata, banyak yang bilang Yogyakarta itu indah, cantik, antik, mengagumkan, penuh pesona serta banyak lagi. Pandangan semacam itu memang tak salah. Yogyakarta memang kota dan daerah yang penuh daya tarik, tapi juga memiliki wajah yang kelam serta buram. Salah satu wajah kelam dan buramnya itu adalah desah kehidupan seks ilegal dan prostitusinya.

Pernah dengar nama Pasar Kembang? Atau mungkin Anda sudah pernah bertandang ke sana? Pasar Kembang merupakan nama ‘perkampungan’ yang tak kalah populernya dengan Malioboro. Nama Malioboro, jalan yang penuh kebanggaan itu begitu melekat dan melegenda di hati orang Yogya. Bahkan ada yang bilang, nama Malioboro jauh lebih populer dan dikenal dibanding nama Yogya itu sendiri.

Seperti halnya Malioboro, nama Pasar Kembang memang sama melegendanya. Rasanya, tidak seorangpun warga Yogyakarta, atau mereka yang pernah tinggal, maupun berkunjung ke kota ini, tak mengenal namanya. Terlebih lagi letaknya di jantung kota yang relatif sangat dekat dengan Malioboro, atau hanya beberapa puluh meter di sebelah baratnya.

Nama Pasar Kembang sejak puluhan tahun lalu sudah terlanjur menanamkan kesan ‘kelam’ buat Yogya. Karena di kawasan inilah desah kehidupan Yogya yang hitam dan buram menggeliat bersama beragam aktivitas kehidupan lainnya.

Selama ini kita seakan sepakat untuk memandang dan berpendapat bahwa kehidupan hitam merupakan perilaku sosial yang menyimpang dari norma-norma masyarakat atau norma-norma yang ada. Dan, pelacuran atau bisnis seks, merupakan salah satu dari perilaku yang menyimpang itu.

Tidak sedikit ahli yang mengatakan, prostitusi atau pelacuran merupakan bentuk budaya manusia yang tergolong tua. Lantas, ada juga yang mengatakan, penyelewengan seks dengan beragam bentuk dan caranya, berusia sama tuanya dengan lembaga perkawinan yang dikenal dan dihormati manusia hingga kini.

Simak juga:  Pasar Kembang Pernah Bersih dari Prostitusi

Bukanlah berlebihan bila ada yang mengatakan, bentuk penyelewengan seks di Yogya sudah muncul bersamaan dengan lahirnya kota ini sekitar duaratus tahun lebih yang lalu. Tapi munculnya Pasar Kembang sebagai kawasan khusus yang menyediakan wanita atau perempuan untuk ‘komoditi jasa’ yang pelayanan seksnya dihargai dengan lembaran uang itu, mungkin baru sekitar seratus tahunan lebih.

 

Balokan

Pasar Kembang punya nama lain, yaitu Balokan. Bahkan, jauh sebelum nama Pasar Kembang dikenal, nama Balokan sudah lebih dulu populer. Sebagai nama yang memiliki pengertian khusus, Pasar Kembang memang mempunyai sejarah panjang dalam keberadaannya sebagai sebagai daerah pemukiman yang menghadirkan sisi kelam dan buram di Yogya.

Nama Balokan pertama kali diperkenalkan semasa zaman penjajahan Belanda. Konon, sebutan Balokan itu bermula dari adanya tempat penimbunan kayu-kayu jati atau ‘balok-balok’ di sebelah selatan Stasiun Tugu.

Sejak kapan sesunggguhnya aktivitas bisnis seks atau pelacuran muncul di kawasan ini, sehingga membuat nama Balokan atau Pasar Kembang selalu disebut-sebut setiap ada yang bertanya di mana geliat serta desah kehidupan hitam dan kelam itu berada.

Pakar-pakar sejarah dan ilmu sosial lainnya, tampaknya tak sempat mencatat secara pasti ihwal riwayat awal mula kemunculan aktivitas jasa pelayanan seks di tengah-tengah kota Yogya itu. Sampai hari ini masih sulit ditemukan keterangan maupun catatan yang jelas mengenai siapa yang pada mulanya dulu menjadi penggagas atau pendahulu, sehingga aktivitas pelacuran bisa berkembang di Pasar Kembang.

Seakan menjadi semacam patokan atau pegangan ‘sejarah’, bahwa tumbuh dan berkembangnya prostitusi di kawasan ini bersamaan dengan hadirnya bisnis penginapan. Seperti halnya prostitusi, usaha-usaha penginapan, baik berupa hotel, losmen, dan penginapan, terus berkembang serta bertahan hingga sekarang.

Simak juga:  Pelacur pun Berhak Bergembira....

Secara kebetulan letak kawasan Pasar Kembang memang sangat dekat dengan Stasiun Kereta Api Tugu yang dioperasikan mulai 12 Mei 1887. Tepatnya terletak di sebelah selatan stasiun. Penumpang kereta api yang keluar dari pintu selatan Stasiun Tugu, akan langsung keluar di Jalan Pasar Kembang.

Lokasinya memang sangat strategis. Barangkali dengan pertimbangan lokasinya yang strategis, dekat stasiun kereta api, penguasa Belanda memberi kesempatan dan peluang untuk dibangunnya bisnis penginapan di tempat itu.

Berkembangnya bisnis penginapan telah membawa perkembangan yang lain pula. Perilaku sosial yang baru pun tumbuh serta berkembang di kawasan sekitarnya. Mungkin saat itu, para pemilik tempat penginapan merasakan perlunya tersedia ‘jasa pelayanan khusus’ yang secara langsung maupun tidak langsung diinginkan oleh sebagian tamu. Jasa pelayanan khusus yang dimaksud adalah jasa pelayanan seks. Dengan kata-kata lain, untuk menggairahkan suasana di kawasan penginapan serta menarik tamu-tamu datang menginap, maka diperlukan sejumlah perempuan, tentunya perempuan-perempuan muda, yang menyediakan dirinya sebagai pemberi layanan seks.

Barangkali, sejak saat itulah aktivitas seks ataupun pemberian layanan seks yang dihargai dengan sejumlah uang muncul di kasawan Pasar Kembang atau Balokan. Lantas, dari hari ke hari Balokan semakin memberikan daya tarik bagi para perempuan yang tergoda untuk mendapatkan penghasilan dengan jalan pintas itu. Perempuan-perempuan yang tergoda itupun semakin banyak yang datang. Ada yang datang secara sendiri, maupun lewat bujukan atau pengaruh dari para calo yang keliling keluar masuk desa.

Pada awalnya perempuan-perempuan yang menyediakan dirinya untuk layanan seks itu menumpang atau menyewa di rumah-rumah penduduk sekitarnya. Lambat laun, kawasan Balokan itupun berubah menjadi komunitas prostitusi yang ramai.

Ketika Jepang berkuasa, penimbunan kayu-kayu jati di sebelah selatan Stasiun Tugu itu berangsur-angsur berkurang, hingga akhirnya hilang sama sekali. Bekas lokasi penimbunan balok-balok kayu itupun kemudian berubah menjadi tempat-tempat berjualan.

Simak juga:  Pasar Kembang Pernah Bersih dari Prostitusi

Lantas, di sebelah selatan jalan, ketika itu terdapat areal kosong. Lahan kosong ini kemudian dimanfaatkan warga sekitar untuk tempat berjualan kembang atau bunga-bunga yang dipergunakan untuk kepentingan ziarah ke makam.

Bisnis penjualan kembang di tempat itu dari hari ke hari menjadi semakin ramai. Lokasi itupun kemudian terkenal dengan sebutan Pasar Kembang. Akan tetapi, usaha penjualan kembang itu tidak mampu bertahan lama, dan tergusur dengan kian berkembangnya bisnis penginapan.

Sekalipun penjual kembang dalam pengertian yang sesungguhnya sudah tidak ada, tetapi sebutan Pasar Kembang hingga sekarang ini masih tetap melekat di tempat itu dan kawasan sekitarnya. Dan di dalamnya memang terdapat bisnis ‘kembang-kembang’ dalam pengertian yang lain. *** (Sutirman Eka Ardhana)

 

Lihat Juga

Malam 7 Tahun Sastra Bulan Purnama Puisi Tidak Berhenti Dibacakan

Puisi seringkali dibacakan dibanyak tempat, untuk mengisi acara tertentu, atau malah untuk lomba baca puisi. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.