Selasa , 21 November 2017
Beranda » Pariwisata » Diskusi Kebangsaan VI: Pancasila Menjiwai Pengembangan Kepariwisataan
Suhendroyono SH MM MPar

Diskusi Kebangsaan VI: Pancasila Menjiwai Pengembangan Kepariwisataan

Oleh: Suhendroyono SH MM MPar

Dewasa ini suka tidak suka, 5×5= 25, diterima atau tidak , tourisme atau pariwisata adalah front liner, di Indonesia.  Pariwisata menjadi garda terdepan,  baik sebagai pintu masuk fisik, manusianya maksud wisatawannya, maupun non-fisik,  yang terkait , baik non fisik maupun bentuk fisiknya. Yang fisik gampang dihitung,  hubungannya jelas. Namun yang non fisik perlu perhatian.

Kalau Menteri Pariwisata mempunyai target tiap tahun ada sekian kedatangan wisatawan dari luar negeri atau wisatawan Nusantara, jelas. Tapi yang non  fisik, yang sekarang kadang-kadang kerepotan. Contohnya adalah budaya. Sekarang ini kadang-kadang pariwisata dituduh  menjadi penyebab budaya bangsa yang rusak. Contohnya kalau dulu zaman era saya masih kecil ada cerita tentang buta rambut geni. Sekarang muncul lagi dalam bentuk yang lain. Kita ini yang sudah lewat masa hitam masuk ke masa putih ini penginnya masa hitam lagi, alias disemir. Tapi yang buta rambut geni ini, dia sudah hitam malah penginnya merah. Itu yang terjadi. Ada lagi sundel bolong.

Sekarang terjadi, bajunya utuh bagus di belakang malah dilobangi. Yang suka mereka yang naik motor di belakangnya. Sampai sampai mengakibatkan salah arah. Tujuan ke Sleman, karena di depan ada sundel bolong akhirnya ngikut ke Bantul, karena asyik melihat sundel bolong tadi yang bolongnya bahkan sampai yang paling bawah. Itu kira-kira salah satu bentuk yang non-fisik..

Yang ingin kami sampaikan adalah bahwa kita ini punya 500 etnis dan kultur,bahkan lebih dari itu. Dengan melewati satu negara, perjalanannya sekitar sembilan jam, yang diliwati banyak etnis. Itulah kekayaan kita. Tidak aneh kalau orang-orang di Singapura punya cerita kalau Indonesia memboikot Singapura maka Singapura itu mati, karena semuanya diambil dari Indonesia. Dari banyaknya kultur, yang beraneka tadi, justru itulah perekat bangsa kita ini.

Banyaknya kultur yang ada di Indonesia, ternyata mempunyai perekat. Perekatnya adalah Pancasila dan Sumpah Pemuda, itulah keunikan kultur yang ada di Indonesia. Semua kultur itu, menjadi salah satu modal yang sangat luar biasa mahalnya. Kenyataannya yang paling berjasa bagi kita ini adalah founding fathers kita. Sejak tahun 1928 sudah menyampaikan Sumpah Pemuda. Oleh karena bahasa kita satu yakni bahasa Indonesia yang mempunyai hukum DM maka, hukum DM itulah yang seharusnya berlaku di dunia pariwisata. Sangat setuju kalau penyebutan pariwisata di desa disebut Wisata Desa, bukan Desa Wisata. Sebab kalau desa wisata itu yang berwisata desanya. Kalau pakai bahasa Indonesia yang benar ya harus wisata Desa. Selaras hukum DM. Maka saya sepakat di kampus kami juga kami idolakan seperti itu. Malah  kami tegaskan menjadi wisata pedesaan. Bukan desanya yang untuk wisata tapi pedesaannya. Kita Sudah menyatakan NKRI, satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa, jadi nilai-nilai luhur itu sudah ada sejak dulu.

Namun sayang sekarang ada yang mulai menggerusnya sehingga menjadi sangat kacau. Kami di kampus menanamkan unsur-unsur kebangsaan ini . Kalu kita cermati dari Senin sampai Minggu, kampus ini seragam terus. Kami pengin yang satu itu. Kita juga punya hubungan luar negeri iya. Karena kita tidak pengin dikucilkan oleh negara lain. Di kampus kami, kami juga memperbanyak hubungan luar negeri itu. Contohnya untuk institusional pendidikan, kami punya hubungan MoU  atau kerjasama dengan sekitar 48 negara. Kami baru bangun lagi 5 negara, jadi semua sekitar 53 negara, kami punya hubungan itu. Untuk apa? Semua itu ditujukan untuk menanamkan jati diri bangsa kita ini, bahwa kita ini gak kalah dengan bangsa lain. Kalau kita membayangkan tidak saja dengan Belanda kita bisa menang, dengan siapapun ternyata kita menang. Dengan dunia kerja kita juga punya hubungan sekitar 32 negara, dunia kerja. Artinya apa, kita tidak mengisolir diri. Ke depannya mahasiswa kami ajak seperti itu. Kita bisa menamakan diri Indonesia di seluruh negara itu. Jangan hanya sekarang kagum dengan budayanya tetapi justru diri pribadi sendiri kita ini tidak menghargai. Itu yang kami tanamkan juga di kampus ini, maka kita harus punya jati diri bangsa yaitu Pancasila.

Konsep Pancasila kita lakukan brandmarking ke seluruh negara yang ada, ternyata  di negeri itu tidak ada yang namanya Pancasila. Amerika dengan semboyan satu untuk semua semua untuk satu  tidak seperti Pancasila kita.  Banyak negara-negara yang pengin belajar itu, maka kita juga membuka kesempatan mahasiswa luar negeri yang kuliah di sini . Mereka antara lain belajar tentang budaya ini. Perkembangan pariwisata, tidak menutup diri karena kita ada di lingkungan internasional, maka kita juga harus mengembangkan diri, mengembangkan diri bahwa pariwisata itu kita pakai sebagai andalan untuk meningkatkan pendapatan nasional atau devisa nasional semaksimal mungkin. Salah satu yang diutamakan sekarang adalah pariwisata. Pemerintah mengandalkan bahwa tourisme sebagai andalan pengembangan atau menaikkan devisa nasional. Ini membuktikan bahwa peran pariwisata ke depan untuk bangsa ini adalah satu-satunya. Bukan yang lain.

Inilah peran pariwisata bisa sebagai pembangunan wilayah. Dan ini manfaatnya, bisa untuk mengembangkan kesadaran nasional serta kebudayaannya, atau bisa juga sebagai saran pelestarian. Sebagai contoh tentang wisata pedesaan. Kita juga sudah mengembangkan diri untuk strata dua, kami punya laboratorium untuk itu. Contohnya adalah wisata pedesaan pengembangan bamboo. Ternyata bambu itu manfaatnya luar biasa dan dunia mengakui itu atas karunia Tuhan Yang Maha Kuasa. Bambu bisa  untuk apa saja. Misalnya untuk menjaga kelestarian air, kemudian mengatur desir angin, mengatur juga tentang agrowisata karena bambu itu berdiri tegak semua. Begitu kena angin goyang semua dan biasa membunyikan irama pedesaan yang indah sekali. Dari bambu saja. Belum dari pepaya, belum yang lain-lain, belum yang dari kelapa dan sebagainya. Kami punya laboratorium untuk mengembangkan masalah ini. Inilah yang dikatana sebagai sustainable developmen.

Pariwisata juga diharapkan untuk meningkatkan pendapatan, lantaran pariwisata berdimensi banyak.  Begitu priwisata dikembangkan di suatu tempat, satu destinasi, maka muncul di sana, banyak sekali petani hidup, kemudian transportasi apalagi, kemudian juga kebersihan jalan  juga, dan sebagainya. Inilah hebatnya pariwisata, sebagai penyerapan tenaga kerja jelas karena investasi yang paling murah di dunia itu adalah pariwisata, khususnya di Indonesia. Kemudian juga untuk mengurangi urbanisasi. Hal ini harus didukung pelestarian budaya setempat seperti tari tarian dan sebagainya. Oleh karena itu kebudayaan setempat seperti tarian daerah juga perlu diajarkan di sekolah pariwisata.

Hal itu dikembangkan berdasarkan harapan agar parisiwata bisa berkembang selaras dengan perkembangan kebudayaan. Pariwisata diharapkan berkembang pesat tanpa harus merusak nilai nilai kebangsaan seperti saya sodorkan dalam kisah tadi. Oleh karena itulah tidak salah kalau pengembangan pariwisata perlu juga selaras dengan pengembangan kebudayaan daerh agar nilai nilai luhur yang terpatri dalam Pancasila juga mampu diimplementasikan dalam dunia pariwisata.

Oleh karena itulah di kampus, khususnya di Sekolah Tinggi Ilmu Pariwisata Ambarukma atau STIPRAM  memiliki kurikulum berbasis kompetensi. Mereka juga diharapkan memiliki jiwa corsa karena keilmuannya sehingga memiliki rasa memiliki terhadap budaya bangsa untuk dikembangkan sebagai sebuah aset wisata yang baik. Disamping itu mereka juga mempunyai jiwa solidaritas tinggi disamping mempunyai prestasi yang hebat di dunia pariwisata. (ASW)

Lihat Juga

Pelayanan dan Menu Masakan Diutamakan Hotel Cakra Kusuma

Advertorial SELAIN pelayanan kepada tamu yang ramah dan santun, masalah menu masakan yang menarik dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *