Beranda » Humaniora » Paguyuban Anggara Kasih, Mencintai Jawa, Menjaga Indonesia
Drs. Herry Wahyudi MSi. (ft. Ist)

Paguyuban Anggara Kasih, Mencintai Jawa, Menjaga Indonesia

BANYAK cara yang sesungguhnya bisa dilakukan untuk menjaga Indonesia dan menjaga persatuan bangsa. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk tetap mengobarkan semangat kebangsaan dan jiwa nasionalisme demi mempertahankan atau menjaga NKRI dari upaya-upaya para anasir yang ingin meruntuhkan bangunan besar bernama Indonesia. Cara atau langkah untuk menjaga eksistensi bangsa itu pun dapat dilakukan dengan cara-cara yang sederhana, tanpa ‘hirup-pikuk’, dan tanpa ‘teriakan-teriakan politik’.

Cara-cara sederhana itulah yang selama ini telah dilakukan oleh Paguyuban Anggara Kasih Yogyakarta dalam upaya menjaga Indonesia dan mempertahankan kesatuan bangsa. Paguyuban Anggara Kasih merupakan paguyuban para pecinta dan pemerhati atau pengamat budaya Jawa di Yogyakarta.

“Sekalipun Paguyuban Anggara Kasih tempat berkumpulnya para pecinta dan pemerhati budaya Jawa, tapi anggotanya tidak hanya mereka yang berlatar belakang Jawa, tapi bisa siapa saja. Bisa mereka yang berasal dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi atau dari mana pun di Indonesia ini. Yang penting mereka punya kepedulian dan minat untuk berbicara tentang budaya Jawa. Dan, itulah yang ada di dalam Paguyuban Anggara Kasih selama ini,” kata ketua atau Lurah Paguyuban Anggara Kasih, Herry Wahyudi, di sekretariat Paguyuban Anggara Kasih, Jl. Mujair Raya 18, Minomartani, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta baru-baru ini.

Menurut Herry Wahyudi, Paguyuban Anggara Kasih mengadakan pertemuan rutin setiap malam Selasa Kliwon. Pertemuan selalu diisi dengan pembahasan tentang hal-hal yang berkaitan dengan budaya Jawa. Dari sejarah, ragam budaya, kesenian, sikap hidup, keyakinan, filsafat, dan banyak lainnya lagi. Dan, pada setiap pertemuan selalu menghadirkan pembicara atau narasumber yang sesuai kapasitasnya dengan topik bahasan. Tempat pertemuan biasanya di rumah para anggota secara bergiliran. Pertemuan pun dilaksanakan secara sederhana, duduk bersila di atas tikar.

“Pendek kata apa saja yang berkaitan dengan Jawa, selalu menjadi topik bahasan di setiap pertemuan malam Selasa Kliwon itu. Akan tetapi, sekalipun topik atau tema bahasannya hal yang berkaitan dengan Jawa, tujuan akhirnya tetap demi Indonesia. Demi keutuhan dan kejayaan Indonesia. Karena apa yang kami lakukan di Paguyuban Anggara Kasih ini adalah demi untuk mewujudkan kecintaan terhadap budaya Jawa atau Jawa dalam pengertian yang luas, sekaligus juga untuk mewujudkan tekad menjaga Indonesia. Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Menjaga keutuhan NKRI,” jelas Drs. Herry Wahyudi MSi, yang juga dosen pada Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini.

 

Bebas Politik Praktis

Karena Paguyuban Anggara Kasih merupakan tempat berkumpulnya para pecinta dan pemerhati budaya Jawa, menurut Herry Wahyudi, paguyuban yang dipimpinnya itu membebaskan diri dari kepentingan politik. Dengan kata lain, Paguyuban Anggara Kasih bebas dari politik praktis atau kepentingan politik yang dibangun oleh partai-partai politik. Kepentingan-kepentingan politik untuk meraih kekuasaan.

“Paguyuban Anggara Kasih ini, paguyuban yang memfokuskan diri pada budaya, khususnya budaya Jawa. Karena itu paguyuban ini harus bebas dari politik. Maksudnya bebas dari pengaruh dan kepentingan politik praktis. Jadi setiap hal yang berkaitan dengan kepentingan politik praktis pasti akan kami tolak. Anggota atau simpatisan partai politik apa pun, asalkan memiliki kecintaan atau kepedulian terhadap budaya Jawa, silakan bergabung ke dalam Paguyuban Anggara Kasih, tapi jangan sekali-kali membawa kepentingan partai politiknya di sini,” ujar Herry Wahyudi.

Langkah itu, menurut Herry Wahyudi, sebagai langkah agar Paguyuban Anggara Kasih tidak terbawa-bawa dalam pertentangan atau perdebatan antar kepentingan-kepentingan politik tertentu yang bermuara pada kepentingan kekuasaan. Tak hanya ingin terbebas dari kepentingan politik praktis yang ‘dimainkan’ oleh partai-partai politik, tapi juga terbebas dari kepentingan politik kelompok, golongan, juga agama tertentu.

“Jadi, jangan coca-coba membawa perihal kepentingan politik praktis, kepentingan partai politik, kepentingan kelompok, golongan dan agama tertentu ke dalam Paguyuban Anggaran Kasih. Kepentingan-kepentingan seperti itu tidak mendapat tempat dan ruang di Paguyuban Anggara Kasih. Kecuali kalau kepentingan politik itu adalah kepentingan politik nasional, kepentingan politik kebangsaan, kepentingan politik untuk menjaga keutuhan bangsa, kepentingan politik untuk kejayaan negara. Tempat dan ruang terbuka lebar untuk kepentingan politik nasional atau kepentingan politik kebangsaan itu,” tandas Herry Wahyudi lagi.

Herry Wahyudi menegaskan, Paguyuban Anggara Kasih merupakan paguyuban yang lintas golongan, lintas agama dan lintas politik. Karena itu bahasan-bahasan yang dipilih untuk dibahas setiap pertemuan malam Selasa Kliwon adalah bahasan-bahasan yang diperlukan dalam menyatukan pemahaman secara luas tentang kebangsaan atau tentang Indonesia. Sekalipun berbicara tentang hal-hal yang berkaitan dengan budaya Jawa, tetapi pengetahuan atau pemahaman terhadap hal itu semuanya dimaksudkan untuk memperkuat sikap nasionalisme, sebagai bangsa Indonesia. Pembahasan yang mewujudkan kecintaan terhadap Jawa, tapi sekaligus mewujudkan tekad untuk menjaga Indonesia.

“Berkaitan dengan agama, yang kami tolak itu adalah bahasan yang menjurus pada kepentingan agama tertentu. Tapi kami sangat terbuka lebar untuk bahasan yang berkaitan dengan pengetahuan tentang agama. Misalnya, kami sudah beberapa kali berbicara tentang bulan Ramadhan sebagai bulan umat Islam menjalani ibadah puasa, tentang syawalan atau Lebaran, tentang seni budaya Islam, sejarah Islam, filsafat Islam dan lain-lainnya. Tujuannya adalah agar mereka yang bukan beragama Islam bisa memahami sejumlah hal yang berkaitan dengan Islam itu. Pemahaman itu diperlukan untuk lebih mempererat silaturahim sebagai sesama anak bangsa, yang berbeda keyakinan. Dan yang terpenting adalah mempererat lagi semangat dan tekad untuk menjaga keutuhan bangsa dan negara ini sampai kapan pun,” tambah Herry Wahyudi. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Abad Samudera dalam Angan-angan

YOGYAKARTA memasuki abad samudera, meski hanya mempunyai secuil Samudera Indonesia yang sangat Luas. Konon di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *