Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Humaniora » Kisah Pergulatan di Dunia Jurnalistik (1) : Pada Awalnya Adalah Puisi

Kisah Pergulatan di Dunia Jurnalistik (1) : Pada Awalnya Adalah Puisi

Ketertarikan, keterlibatan dan pergulatan di dunia jurnalistik, tidak bisa lepas dari keterlibatan saya di dalam Persada Studi Klub (PSK), kumpulan anak-anak muda penyuka dunia kepenulisan, khususnya sastra, yang diwadahi oleh koran mingguan “Pelopor Yogya“.

Saya datang ke Yogya pada awal 1972. Beberapa bulan tinggal di Yogya, saya mulai tertarik dengan ‘aktivitas’ Persada Studi Klub di koran “Pelopor Yogya” tersebut. Dan, saya pun kemudian melibatkan diri di dalamnya. Lalu berkenalan dan dekat dengan Umbu Landu Paranggi, Sang Pengasuh Persada. Kemudian kenal, dekat dan bergaul akrab dengan nama-nama seperti Suwarno Pragolapati, Teguh Ranusastra Asmara (alm), Iman Budhi Santosa, Emha Ainun Nadjib, Atas Danusubroto, Linus Suryadi AG, Suripto Harsah, Abdul Aziz HM (Malaysia), Korrie Layun Rampan (alm), Kusumateja, Rusli S Purma (alm), Slamet Riyadi Sabrawi (alm), Menik Sugiyah Kartamulya, Yayuk Sri Setya Rahayu, RS Rudhatan, Adjie S Mukhsin, Bambang Darto dan setumpuk nama lainnya, yang terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu.

Ketika itu kantor redaksi koran “Pelopor Yogya” di Jl Malioboro 175 A, seakan menjadi tempat tinggal kedua saya. Betapa tidak. Hampir setiap malam selalu datang ke kantor koran itu, jumpa kawan-kawan, di salah satu ruang yang tersedia, atau duduk-duduk di depan kantor (dekat pintu masuk yang menjorok ke dalam).

Haruslah diakui, karena sering berada di kantor “Pelopor Yogya“, saya pun mulai tertarik dengan dunia jurnalistik. Singkat cerita, ketika di Harian “Berita Nasional” ada lowongan pengasuh halaman atau rubrik remaja (Remaja Nasional disingkat Renas), saya pun bergegas mendaftar. Saya diterima. Dan, saya pun jadi pengasuh halaman Renas. Jadi, haruslah saya akui, semua bermula dari puisi. Puisilah yang mengantarkan saya untuk menyukai dunia jurnalistik. Ya, pada awalnya adalah puisi.

Bermula dari pengasuh atau redaktur halaman remaja (Renas), saya pun kemudian terlibat lebih intens dan jauh lagi di dunia jurnalistik. Saya pun menyandang predikat sebagai wartawan atau jurnalis. Dari halaman remaja, saya kemudian menjadi redaktur (desk) halaman kota (berita-berita kota), lalu menjadi redaktur halaman opini, dan seterusnya, sampai kemudian saya meninggalkan “Berita Nasional“, beralih ke media lain.

Jadi, berkat terlibat di dalam Persada Studi Klub (PSK), saya kemudian mencintai dan menggeluti dunia jurnalistik.

Terimakasih Persada Studi Klub, tanpa kehadirannya dalam hidup saya, mungkin saya tak akan pernah masuk dan bergelut di dunia jurnalistik yang sangat menyenangkan itu.
Dan, pada 5 Maret 2017, Persada Studi Klub akan genap berusia 48 tahun.

 

Dorongan Sahabat

Berbicara tentang Persada Studi Klub dan dunia jurnalistik, saya teringat pada sosok seorang sahabat yang telah menanamkan kesan sangat berarti. Dia adalah Yunus Esbe atau lengkapnya Yunus Syamsu Budhi (alm). Saya mengenal Yunus sejak masih sekolah di Kebumen. Yunus yang asli Yogya (Rejodani, Sleman), ketika itu ikut kakaknya di Kebumen.
Yunus-lah yang pertama kali memperkenalkan saya dengan Mingguan “Pelopor Yogya” dan majalah “Basis”.

Dalam setiap pulang ke Yogya, ia tidak lupa membelikan saya mingguan “Pelopor Yogya” dan majalah “Basis“. Jadi, sejak masih sekolah di Kebumen saya sudah ‘mengenal’ Persada Studi Klub.  Baru setelah tinggal di Yogya tahun 1972, saya memberanikan diri terlibat di dalamnya. Secara tidak langsung, Yunus-lah yang telah memprovokasi saya untuk menyukai dunia kepenulisan.

Ketika saya pindah ke Yogya, Yunus juga balik lagi ke Yogya. Dan, ternyata kami sama-sama berkiprah di Persada. Haruslah saya akui, Yunus jugalah yang mendorong saya untuk masuk ke ranah jurnalistik. Dia mendorong saya agar mendaftarkan diri untuk menjadi pengasuh halaman Renas di Harian “Berita Nasional“. Awalnya saya agak ragu. Saya merasa masih belum siap untuk terikat dengan kerja. Tapi Yunus terus mendorong, dan meyakinkan saya, bahwa lowongan pengasuh halaman remaja di koran itu merupakan peluang menarik yang tak boleh disia-siakan. “Ayo, kamu pasti diterima, Ka. Kamu berbakat untuk menjadi pengasuh di halaman remaja itu. Jangan ragu lagi, daftar saja segera,” ujar Yunus membakar semangat saya.

Demikianlah, saya pun mendaftar, dan diterima sebagai pengasuh halaman Remaja Nasional di Harian “Berita Nasional“. Itu terjadi di sekitar bulan Juni atau Juli 1974. Ternyata tak hanya saya yang bergelut di dunia jurnalistik,Yunus pun melakukan hal yang sama. Ia pun menerjunkan dirinya dalam kesibukan kerja jurnalistik. Hanya saja saya tetap di Yogya, sedang Yunus memilih Jakarta. Terakhir, sebelum menghadap Sang Khalik beberapa tahun lalu, Yunus tercatat sebagai redaktur di majalah ” Eksekutif”.

Ya, Harian “Berita Nasional” yang kala itu kantor redaksinya di Jalan Gondomanan (Brigjen Katamso) Nomor 15, Yogya, merupakan kawah candradimuka bagi kerja jurnalistik saya. Di harian inilah saya pertama kali digodog, ditempa dan dibina agar benar-benar bisa menjadi seorang wartawan atau jurnalis.

Tigabelas tahun saya ditempa di Harian “Berita Nasional“. Karena pada tahun 1986, saya mengundurkan diri dan memutuskan pindah ke media lain. Banyak pelajaran berharga yang saya peroleh selama bekerja di harian ini. Pelajaran-pelajaran berharga yang sangat membantu dan berguna dalam karir jurnalistik saya selanjutnya.

Salah satu pelajaran berharga yang saya peroleh dari Pak Mang (Pak Abdurrahman), Pemimpin Redaksi “Berita Nasional” kala itu, yang kemudian dilanjutkan Pak Badhi (Pak Subadhi), adalah “Jangan pernah tertarik untuk membuat atau memuat berita tentang orang pindah agama atau keyakinan. Apa menariknya berita semacam itu? Berita semacam itu menyenangkan satu pihak, tapi juga menyakitkan pihak yang lain.”

Ketika kemudian pindah kerja di media yang lain, pesan yang sekaligus pelajaran berharga itu tetap saya pegang erat-erat. Pesan semacam itu pulalah yang memperkuat keyakinan saya tentang perlunya jurnalisme hati nurani.*** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVIII: Kembali ke Musyawarah Mufakat

Kita tahu, demokrasi merupakan norma dari barat, dan bangsa kita dijajah oleh bangsa barat. Hanya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.