Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Sastra » Obor dan Dupa Dalam Puisi Di Tembi
Ratu Zaenab

Obor dan Dupa Dalam Puisi Di Tembi

Sejumlah penyair dari beberapa kota hadir dalam  Sastra Bulan Purnama ke 70, yang diselenggarakan di Tembi Rumah Budaya, jl. Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.  Para penyair  itu puisinya tergabung dalam antologi puisi ‘Negeri Awan’, yang puisi-puisinya dibacakan dalam acara ini.

Agustina Thamrin, penyair dari Banjarbaru, Kalimantan Selatan, tampil membaca puisi dalam acara Sastra Bulan Purnama edisi 70 di Tembi Rumh Budaya, Sabtu 8 Juli 2017 dengan membawa obor dan dupa. Wangi dupa yang diletakkan di dekat dia duduk dan obor yang ditaruh disampingnya menjadi propeti dari pertunjukkannya.

Sambil duduk di lantai dia mengalunkan mantra, seolah sedang menyampaikan pujaan, dengan diiringi  musik khas dari Kalimantan, Agustina seolah seperti sedang di kampung halamannya, bukan di Amphytheater Tembi Rumah Budaya, tempat Sastra Bulan Purnama diselenggarakan. Selesai membaca mantra, dia berdiri dan mengambil obor sambil terus membacakan puisi berjudul ‘Concerto Balai Bilaran’ karya Burhanudin Soebely.

Agustina Thamrin adalah salah satu dari 174 penyair nusantara yang puisinya dimuat dalam antologi puisi ‘Negeri Awan’, Tentu Agustina tidak sendiri, ada beberapa penyair lain yang puisinya ada dalam antologi puisi ‘Negeri Awan’ ikut hadir dalam Sastra Bulan Purnama yang diberi tajuk ‘Syawalan Sastra (wan) di Negeri Awan’.

Simak juga:  Malam 7 Tahun Sastra Bulan Purnama Puisi Tidak Berhenti Dibacakan

Beberapa nama yang hadir dan tampil membaca puisi, Bambang Eka, Joshua Igho (Magelang), Suyitno Ethex (Mojokerto) SP, Budi (Bogor), Rismudji (Tambun, Bekasi) dan beebrapa penyair dari Yogyakarta diantaranya Sutirman Eka Ardhana, Ratu Zaenab.

Suyitno Ethex, yang sudah beberapa kali datang ke Tembi Rumah Budaya dan membacakan puisi-puisi karyaya. Pada SBP edisi 70, dia hanya membacakan satu puisi karyanya.

“Saya membaca satu saja, supaya penyair lainnya juga ada kesempatan membaca,” kata Suyitno

Biasanya, dari Mojekrto menuju Tembi sebelum pukul 6 sore Suyitno Ethex sudah sampai di Tembi, dan nongkrong di angkringan sambil menikmati kopi. Tapi pada perjalanan kali ini, dia agak terlambat karena jalan darat macet panjang, sehingga sampai di Tembi dan langsung di Amphytheater Tembi Rumah Budaya sudah malam, meskipun acara belum dimulai.

“Ampun mancetnya dari Mojokerto menuju Yogya, sehingga sampai Tembi saya agak sedikit malam” kata Ethex, terlihat wajahnya letih.

Zaenab Ratu, yang mengenakan kemeja warna merah, adalah penyair paling muda di antara penyair yang puisinya masuk dalam antologi puisi ‘Negeri Awan’. Dia dilahirkan tahun 2000, sehingga usia dia baru 17 tahun. Dia membacakan dua puisi karyanya.

Simak juga:  Cerpen Tiga Paragraf di Sastra Bulan Purnama

Selain para penyair yang membacakan puisi karyanya, ada beberapa pembaca puisi, yang ikut tampil membacakan puisi penyair yang tidak hadir. Para pembaca puisi ini memiliki profesi berbeda-beda, tetapi mempunyai kecintaan terhadap puisi. Dadang Koesdarto, seorang disainer Yogya, membacakan dua puisi, Zanita Nita seorang pegawai negeri sipil di Pemda Bantul, dan Yudah Prakosa, seorang jurnalis televisi. Selain itu, tampil juga membaca puisi Bambang ‘Bhe’ Susilo, Dyah Kencono Wungu dan Ninuk Retno Raras.

Karena masih dalam suasana syawal, maka SBP kali ini sekaligus untuk syawalan  antara para hadirin yang hadir, yang sudah saling mengenal sekaligus saling salaman dan saling meminta maaf, yang belum saling kenal, saling memperkenalkan diri sekaligus saling mengucapkan maaf lahir batin.

Kepada semua hadirin, dan komunitas Sastra Bulan Purnama, penyelenggara Sastra Bulan Purnama menyampaikan salam lebaran dan mengucapkan maaf lahir batin, mungkin sengaja atau tidak, Sastra Bulan Purnama mengecewakan hati para hadirin dan semua kominitas SBP, yang selama ini aktif mengikuti acara Sastra Bulan Purnama.

Melalui puisi, saling memaafkan di antara yang hadir terasa indah dan puitis. (*)

Lihat Juga

Puisi dari Guru dan Dosen di Sastra Bulan Purnama

Dua perempuan penyair sekaligus guru dari kota yang berbeda, Nella Widodo (Temanggung) dan Amin Wahyuni …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *