Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Sastra » Memburu Buku-buku Lama (2) : Novel Penulis Singapura Itu Terinjak Sandal

Memburu Buku-buku Lama (2) : Novel Penulis Singapura Itu Terinjak Sandal

Dunia penulisan dan penerbitan buku di Indonesia, tak pernah surut dari masa ke masa. Di tahun 50-an misalnya, ketika negeri kita sedang tumbuh membangun diri, dengan segala keterbatasan yang ada, dunia penulisan dan penerbitan tetap tak pernah sepi. Sekalipun tidak sesemarak sekarang ini, tapi di masa itu dunia penerbitan buku di Indonesia telah menebarkan pesona dan daya tariknya. Dan, hingga kini daya tarik itu telah ‘menggoda serta menggelisahkan’ saya.

Terus terang, saya tergoda untuk bisa memiliki buku-buku terbitan tahun 50-an itu, baik novel, buku-buku pengetahuan populer, budaya dan lainnya. Tidak perlu banyak-banyak, pikir saya. Tiga, empat atau lima saja sudah cukup membuat saya puas. Paling tidak, di rak buku saya ada juga buku-buku yang mewakili era 50-an itu.

Saya pernah berhari-hari menjelajahi kios-kios buku di Senen, Jakarta. Tapi tak satu pun saya dapatkan. Saya juga sempat mencari di penjual buku-buku bekas di Semarang, serta di belakang Stadion Sri Wedari, Solo, hasilnya tetap sama saja. Tidak ada. Ada memang yang sempat saya temukan. Tapi sayangnya, bukan jenis buku yang saya sukai.

Tapi suatu hari di tahun lalu, seperti biasa saya menyambangi kios buku “Pak Zul” di Gondomanan. Sejumlah buku-buku bekas dan usang berserakan tak teratur di lantai depan kios. Bahkan beberapa di antaranya sempat terinjak sandal seorang ibu muda dan anaknya yang sedang mencari buku Matematika untuk kelas VI SD. Tampaknya buku-buku itu baru saja datang, sehingga masih dibiarkan terserak begitu saja.

Setelah ibu muda dan anaknya itu pergi, tanpa membuang waktu lagi, saya pun langsung jongkok  ‘membongkar’ buku-buku yang berserakan itu. Diperlukan kesabaran dan ketelatenan dalam melihat buku-buku tersebut. Satu demi satu dilihat judul dan sebagian isinya, kalau-kalau ada yang menarik dan layak untuk dibeli.

Simak juga:  Memburu Buku-buku Lama (1) : 'Harta Karun' itu Ditemukan di Pengepul Kertas Bekas

Hari itu saya memang sedang beruntung. Kesabaran dan ketelatenan itu tidak sia-sia. Saya menemukan tiga buku sekaligus. Ini luar biasa, pikir saya. Ketiga buku itu meliputi dua novel dan satu buku pengetahuan populer. Kedua novel itu masing-masing berjudul “Inilah Hidup” karya Mardiana SM dan “Triffid Mengantjam Dunia” karya John Wyndham yang diterjemahkan Sitor Situmorang. Sedang buku pengetahuan populer itu berjudul “Masa Remadja Puteri”.

Saya tersenyum bila mengingat, sejumlah uang sudah dikeluarkan untuk ke Jakarta, Semarang dan Solo, demi mencarinya. Ternyata tetap di Yogya juga buku-buku itu ditemukan dengan hanya mengeluarkan uang yang sedikit.

 

“Inilah Hidup”

Inilah Hidup” adalah sebuah roman atau novel yang diterbitkan Usaha Penerbitan “Bintang Mas” Jakarta, pada Desember 1950 – Januari 1951. Menariknya, roman ini merupakan buah karya seorang penulis wanita dari Singapura bernama Mardiana SM.

Seperti dikatakan penerbit di halaman “Sirih-pinang” (semacam kata pengantar), sesuai ejaan aslinya:

“Dengan bangga ‘Bintangmas’ mempersembahkan gubahan nona Mardiana SM, Singapore. Bangga, karena ia menaruh minat terhadap karang-mengarang dan soal jang ditulis terhitung soal jang berharga untuk ‘hidup’ manusia.

Belum banjak penulis wanita. Terlalu sedikit bilangannya. “Bintangmas’, dengan segala kemungkinan akan menghargakan tiap2 penulis jang sungguh2 berminat besar untuk memadjukan perpustakaan Indonesia dan Semenandjung Tanah Melayu.

Kata pendahuluan nona Mardiana Sm sengadja tidak dirobah (edjaan di Malaya). Edjaan dalam tjerita disesuaikan dengan edjaan di Indonesia.”

Kemudian pada halaman 8 roman atau novel ini terdapat lukisan wajah sang penulis, dan di bawahnya tertera ‘pengantar’ atau ‘kata pendahuluan’ darinya.

“INILAH HIDUP” saya gambarkan menurut keadaan-keadaan yang biasa tersua didalam penghidupan manusia. Tak banyak bedanya dengan perjalanan siang dan malam. Hujan dan panas silih berganti. Terkadang badai mendatang dihari cherah.

Disana sini kita bertemu dengan perobahan nasib yang tiada disangka. Mengejut dan mengherankan. Tetapi sebagaimana chuacha baik boleh digantikan oleh mendung dan taufan, begitulah hidup hamba Allah senantiasa mengalami perobahan-perobahannya.

Moga-moga rangkaian kata2 yang sedikit ini mengingatkan manusia pada hari KEMARIN, hari INI dan hari ESOK.”

S’pore, Nov. 1950

Yang benar,

Mardiana SM

 

Simak juga:  Kejarlah Karta Kau KuPenjara

Sesuai dengan judulnya, roman atau novel karya Mardiana SM ini memang bercerita tentang liku-liku dan romantika kehidupan yang sering dialami oleh insan yang bernama manusia. Bahwa hidup itu memang penuh dengan warna dan romantika. Ada yang kaya, ada yang miskin. Ada kegembiraan dan kepedihan. Ada bahagia dan sengsara. Ada cinta, ada dusta.

Roda kehidupan terus berputar. Suatu saat kaya raya, suatu saat pula akan miskin papa. Suatu ketika bahagia, suatu ketika pula akan sengsara. Inilah hidup, dan inilah romantika kehidupan yang dialami dua tokoh bersaudara (abang-adik), Abdul Kadir dan Abdul Rachman, putera Haji Kahar, seorang hartawan berdarah Indonesia di Singapura. Ceritanya menjadi menarik, karena ada keikhlasan dan ketulusan cinta, tapi juga ada perselingkuhan atau pengkhianatan cinta.

 

“Triffid Mengantjam Dunia”

Triffid Mengantjam Dunia” adalah novel terjemahan karya John Wyndham. Novel berjudul asli “The Day of The Triffids” ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Sitor Situmorang (seorang sastrawan kenamaan Indonesia) dan diterbitkan NV Penerbitan W. Van Hoeve, Bandung – S-Gravenhage, tahun 1953.

Novel setebal 251 halaman ini menceritakan kisah perjuangan dan petualangan tokoh ‘aku” bersama teman-teman, keluarga dan kerabatnya dalam menghadapi ancaman mahluk bernama triffid. Triffid adalah sejenis mahluk perpaduan tumbuhan dan hewan. Bentuknya seperti tetumbuhan, tetapi gerakan dan sifatnya seperti hewan buas yang berbahaya. Tak jelas bagaimana awal mula kemunculan triffid. Tapi diyakini, triffid sebagai hasil rekayasa atau buah keberhasilan dari uji coba sejumlah ahli.

“Masa Remadja Puteri”

Masa Remadja Puteri” merupakan buku pengetahuan populer yang khusus ditujukan untuk remaja-remaja puteri berusia 12 tahun ke atas. Buku ini juga buku terjemahan dari karya penulis Johan van Keulen yang aslinya berjudul “Meisjes Vragen ….!”. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Djaafar, dan diterbitkan oleh Timun Mas NV.

Simak juga:  Pak Zul, Membantu Sesama dengan Buku Bekas

Saya tidak menemukan tahun penerbitannya. Tapi dari tulisan tangan di halaman awal buku ini yang ditulis oleh pemilik pertamanya tertera tulisan 16-8-56. Di atas tulisan tanggal dan tahun itu terdapat tandatangan. Mungkin buku ini dibeli oleh pemilik pertamanya nya pada tanggal 16 Agustus 1956. Melihat dari catatan itu, saya yakin buku ini diterbitkan pada antara tahun 1950 sampai 1956.

 

* Sutirman Eka Ardhana, pecinta buku, penggiat Taman Bacaan Masyarakat dan redaktur Warta Kebangsaan.

Lihat Juga

Foto dan Puisi: Dua Karya Seni Dalam Satu Antologi Puisi

Antologi puisi yang diberi judul ‘Kepundan Kasih’, bukan hanya berisi puisi, tetapi juga berisi karya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.