Selasa , 13 November 2018
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Ngelmu Slamet

Ngelmu Slamet

PEPELING, atau peringatan Jawa berbunyi:  Urip iku urub, Urub itu laras, Laras iku respati, Respati iku careming kantentreman. Hidup itu sebuah perbuatan baik, Perbuatan baik yang selaras dan indah. Keselarasan itu indah dan menarik. Hidup yang indah dan menarik itu menenteramkan.

Orang Jawa senantiasa diperingatkan akan kehidupannya, bahwa kehidupan itu sangat berarti. Oleh karena itu jangan disia-siakan. Hidup itu harus berkontribusi terhadap kehidupan dengan segala daya dan upaya. Yang dicari adalah hidup yang lurus, laras dan leres, benar, selaras dengan alam, sesama dan Allahnya serta terlihat indah dipandang mata. Selebihnya membuat hidup itu menjadi sebuah wahana kedamaian bagi setiap orang.

Guyup rukun, saling membantu, tolong menolong, bahu membahu, holobis kuntul baris membangun masyarakat, membangun negara dan membangun bangsa dalam upaya mencapai kesejahteraan bersama yang menjadi cita-cita rakyat Indonesia, adil makmur tata tentrem karta raharja.

Dunia senantiasa berputar, tidak pernah berhenti. zaman pun terus berjalan. Sayangnya hal-hal dan kebiasaan buruk terus saja menguasai jagad manusia. Meskipun sebenarnya kearifan Jawa senantiasa mengingatkan bahwa dunia ini ibarat Cakra Manggilingan, tetapi manusia sering lupa. Roda dunia terus berputar, tidak pernah berhenti. Nasib manusia pun terus berubah. Kadangkala di atas, tak jarang juga berada di bawah. Tinggal menunggu waktu. Tidak selamanya manusia itu senang, dan tidak juga selamanya manusia sengsara.

Menderita akibat bencana kebijaksanaan, sengsara akibat bencana alam  semakin nyata. Tragedi menjadi-jadi. Sebagai akibat, manusia tidak lagi percaya kepada pimpinan, bahkan juga sesamanya. Dunianya masih sama, namun nasib manusianya berbeda. Mereka yang tadinya bersimaharaja, kini terkucil, sendiri. Yang dulunya mereka di bawah berdarah-darah, kini berkuasa. Masih banyak lagi contoh. Namun manusia sering lupa akan hal ini bahkan tak ingat lagi arah hidupnya sendiri, akibat pengejaran harta, tahta dan derajad serta kebendaan yang tiada henti. Seolah-olah manusia sudah melalaikan tujuan hidupnya.

Yang dikejar adalah kekuasaan dan kekayaan. Tidak luput, agama digunakan sebagai wahana mencapai kekuasaan dan kekayaan. Dengan berbagai jalan, kekuasaan dan pengumpulan uang dijalani.

Kelihatannya dunia semakin tua dan semakin tidak lagi mengindahkan kebaikan. Dunia seakan-akan menjadi buruk . Ini diperlihatkan para leluhur dengan jangkanya yang berbunyi “Wong ala diuja. Wong ngerti mangan ati. Bandha dadi memala. Pangkat dadi pemikat. Sing sawenang-wenang rumangsa menang. Sing ngalah rumangsa kabeh salah. Wong sing atine suci samsaya didohi.

Orang jahat dibiarkan merajalela. Orang yang seharusnya tahu hukum malah bikin kisruh. Orang-orang yang melek hukum yang diminta mengatasi masalah hukum semakin menggunakan kepandaiannya untuk bisa bikin frustasi rakyat kecil. Orang yang berkuasa dan bertindak sewenang-wenang makin merasa menang. Yang mengalah serba salah. Orang-orang yang baik dan suci justru semakin dibenci dan dijauhi. Memang zamannya baru begini. Haruskah manusia ikut arus zaman?

Kawruh bangunjiwa dengan ngelmu slametnya mengedepankan nasehat atau piwulang ‘tuwa pan wus pantes, kalamun pupuse tansah ngengidung pepudyan jati, karana wus lerem kerem ing reh rahayu’ Tua seharusnyalah senantiasa mengedepankan kearifan Ilahi, karena senang dalam ulah kebatinan yang mengarah kepada keselamatan.

Kalamun pupuse wus tumelung, tumuli ngalami alum, tumungkula kanthi alim, paniku sinebut sepuh, garis wates pepancening Gusti pinasthi”. Kalau umur sudah senja, bergegaslah untuk sadar dan insyaf karena sudah garis Tuhanlah bahwa manusia harus mati.

Tuwa hawya kongsi tiwas hangudi nggayuh kauuutaman, kang supadi sinupeket ing pamitran, margane untuk pangapura”. Tua jangan sampai lelah memburu keutamaan, mencari sahabat, karena itulah jalan mendapatkan maaf dan pengampunan.

 

Al Sugeng Wiyono, cantrik Padepokan Bangunjiwa Kasihan Bantul

Lihat Juga

Amustikarana

MUNGKIN kita tak begitu menghiraukan ketika rumah-rumah di jaman dahulu di pagar nya terdapat hiasan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.