Sabtu , 8 Agustus 2020
Beranda » Peristiwa » Diskusi Kebangsaan IV : Nasionalisme Mencintai Indonesia Hukumnya Wajib
Emha Ainun Najib. (ft: Ist)

Diskusi Kebangsaan IV : Nasionalisme Mencintai Indonesia Hukumnya Wajib

Emha Ainun Najib
Budayawan

Emha Ainun Najib (ft. Ist)
Budayawan Emha Ainun Najib mengatakan, nasionalisme mencintai Indonesia dan merawat keutuhan Indonesia hukumnya adalah wajib. Jadi tidak ada alasan lain yang dicaricari. Namun demikian kata Cak Nun, panggilan akrab pria kelahiran Jombang ini, dirinya mengakui kahanan atau kondisi bangsa saat ini sejatinya bukan soal negara, bukan soal parpol, pun bukan soal pemerintah, tapi cara pandang kita melihat kondisi bangsa selama ini cenderung karena frame yang tidak sama. Bisa jadi kurang fokus, kurang presisi, atau memang salah lihat.

“Saya mungkin tidak terlalu membicarakan seperti yang Anda kehendaki, tapi saya mencoba menjelaskan, bahwa saya kira kita harus mencari cara pandang, sudut pandang, sisi pandang, jarak pandang. Terus yang sekarang banyak berlaku 90%, adalah kepentingan pandang. Saya memandang setiap apapun berdasarkan kepentingansaya. Ini yang banyak bikin benturan-benturan,” tandas Cak Nun. Tapi benturan-benturan itu lanjutnya tidak perlu dicemaskan. Karena itu cuma skala kecil, yaitu pemerintahan, kekuasaan. Ada skala yang lebih besar yaitu kebangsaan. Ada skala yang lebih besar juga, yakni kebudayaan. Berbicara kebudayaan tidak hanya menunjuk Indonesia. Tapi bagi seluruh umat manusia. Sehingga kemudian ada skala yang lebih besar lagi yaitu dunia akhirat.

“Bagi saya itu berlaku, saya selama ini hidup karena dengan skala itu. Saya tanya kepada Ibu-ibu, Bapak-Bapak, apakah dunia sama akhirat itu dua hal yang berbeda bertentangan atau dia itu satu. Kita cara pandangnya bisa berbeda. Tuhan tidak menyuruh anda pintar dan bener, yang penting cinta, patuh dan taat, Tidak ada syarat untuk pinter, tidak ada syarat untuk hebat. Kalau dalam Islam ada yang namanya silmi,” ucapnya.

Simak juga:  Enam Universitas di Indonesia Perkuat Pendidikan Hukum

Kembali soal sudut pandang tentang kondisi kekinian bangsa ini, Cak Nun memberi amsal gambar di sebuah ruangan, apakah ada bangun segitiga di dalamnya. Selama ini kita tidak pernah bisa menjawab keberadaan benda tersebut, apa dia ada di sana atau di sini. Titik tengahnya itu. di luar sana atau di dalam sini. Sebenarnya hidup itu seperti itu. Amsal ini ia contohkan pada buku karyanya yang ia beri judul “Indonesia bagian dari desa saya”.

“Ini maunya apa, mana yang benar? Indonesia bagian dari desa saya apa desa saya bagian dari Indonesia?” tanyanya.

Cak Nan punya keyakinan, jika dimensi yang dikembangkan adalah dimensi kemanusiaan, maka akan mampu menjawab berbagai hal. Lain halnya dengan dimensi kenegaraan dan dimensi materialisme atau pembangunan.

“Dimensi saya adalah dimensi kemanusiaan. Manusia Indonesia itu jangan dilihat dari posisi dan kedudukannya. Jangan dilihat itu presiden, itu menteri, ketua parpol, ulama, tapi lihatlah wong cilik. Sebab kawula alit Indonesia itu sudah super power seluruhnya. Tidak ada manusia dan bangsa setangguh bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia itu tidak bisa dibikin menderita. Mereka terhadap penderitaan saja, mereka punya supremasi, menderita seperti apa tetap saja cengengesan.” ucapnya.

Simak juga:  Melihat Sastra Bulan Purnama Dari Rumah

Menurut Cak Nun, nasionalisme mencintai Indonesia, dan merawat Indonesia itu wajib hukumnya. Kalau tidakTuhan akan marah. Maka nasionalisme itu wajib. Nah kalau tiba-tiba di dalam gelembung kecil yang namanya parpol dan pemerintah, ini ada nasionalis bermusuhan dengan Islamis. Ini pasti ada salah cara memandang. Jadi sekarang ada kelompok radikalis, ada kelompok moderat. Ini juga salah memandang.

“Manusia disuruh radikal thok, yang satu disuruh moderat thok. Padahal manusia itu mengandung moderat, mengandung radikal, mengandung liberal. Saya seorang liberal di soal berpikir. Liberal itu artinya saya punya kemerdekaan, tapi saya seorang konservatif karena saya terus menjaga perasaan orang. Saya tidak boleh mencuri barang orang, saya tidak boleh menistakan harga diri orang dan saya tidak boleh membunuh orang, maka saya seorang konservatif. Justru karena saya seorang konservatif saya menjaga milik orang lain, tidak boleh saya ganggu. Tapi saya juga seorang radikalis.“ kata suami Novia Kolopaking ini. (BW)

Lihat Juga

Derap Kebangsaan XXVI: Kesimpulan

Diskusi Derap Kebangsaan seri XXVI, yang menghadirkan 3 narasumber, yakni, Idham Samawi, Anggota DPR-MPR RI, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *