Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Peristiwa » Nasionalisme dalam Impian Sukarno

Nasionalisme dalam Impian Sukarno

ISU tentang nasionalisme senantiasa menarik diperbincangkan. Bahkan sampai hari ini, persoalan nasionalisme tetap merupakan isu yang menarik diperbincangkan, terlebih bila dikaitkan dengan beragam masalah kehidupan berbangsa dan bernegara. Ada yang mengatakan jiwa dan sikap nasionalisme kita sekarang ini sudah memudar, sudah tak lagi bercahaya, sudah kehilangan nyala apinya, dan lain-lainnya lagi.

Di tengah-tengah adanya kekhawatiran melemah atau memudarnya sikap dan jiwa nasionalisme itu, ada baiknya kita mencoba mengingat tokoh yang di masa perjuangan kemerdekaan hingga era kemerdekaan tak pernah surut dalam menumbuhkan jiwa nasionalisme. Tokoh yang layak dikenang itu adalah Sukarno, Sang Proklamator Kemerdekaan dan Presiden RI pertama.

Sukarno merupakan tokoh dan pemimpin bangsa ini yang tak pernah berhenti berjuang membangun dan menumbuh-kembangkan jiwa dan semangat nasionalisme. Sejak ia tampil di kancah politik perjuangan membebaskan bangsa ini dari cengkeraman kebodohan dan penjajahan, ia tak pernah berhenti mengkampanyekan atau mempropagandakan jiwa dan semangat nasionalisme kebangsaan.

Impiannya tentang nasionalisme terlihat jelas dari tulisan-tulisannya di sekitar tahun 1920-an hingga 1940-an, maupun pada sambutan-sambutannya sebagai Presiden setelah Indonesia merdeka sejak 17 Agustus 1945.

Cobalah simak tulisannya berjudul “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme” yang dimuat media Suluh Indonesia Muda pada tahun 1926 dan terhimpun di dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi” jilid I (1965).

Di artikel itu Sukarno antara lain menulis:

Nasionalis yang sejati, yang cintanya pada Tanah Air itu bersendi pada pengetahuan atas susunan ekonomi dunia dan riwayat, dan bukan semata-mata timbul dari kesombongan bangsa belaka, nasionalis yang bukan chauvanis, tak boleh tidak, haruslah menolak segala paham pengecualian yang sempit budi itu.

 Nasionalis yang sejati, yang nasionalismenya itu bukan semata-mata suatu copie atau tiruan dari Nasionalisme Barat, akan tetapi timbul dari rasa cinta akan manusia dan kemanusiaan, nasionalis yang menerima rasa nasionalisme itu sebagai suatu wahyu dan melaksanakan dan melaksanakan rasa itu sebagai suatu bukti, adalah terhindaru dari segala paham kekecilan dan kesempatan.

Di bagian lain tulisannya itu Sukarno juga menegaskan:

Simak juga:  Bung Karno dan Pancasila (2) : "Mufakat, Tempat Terbaik Memelihara Agama"

Bahwasanya hanya nasionalisme ke-Timur-an yang sejatilah  yang pantas dipeluk oleh nasionalis Timur yang sejati. Nasionalisme Eropa, ialah suatu nasionalisme yang bersifat serang-menyerang, suatu nasionalisme yang mengejar keperluan sendiri, suatu nasionalisme perdagangan yang untung atau rugi, nasionalisme yang semacam itu akhirnya pastilah kalah, pastilah binasa.

Adakah keberatan untuk kaum Nasionalis yang sejati, buat bekerja bersama-sama dengan kaum Islam, oleh karena Islam itu melebihi kebangsaan dan melebihi batas negeri ialah super-nasional super-teritorial? Adakah internationaliteit Islam suatu rintangan buat geraknya  nasionalisme, buat geraknya kebangsaan?

Sukarno menyinggung pula tentang bagaimana semestinya sikap nasionalisme itu dipadukan dengan Islamisme.

Banyak nasionalis-nasionalis kita yang sama lupa, bahwa orang Islam, di mana pun juga ia adanya,  di seluruh “Darus Islam”, menurut agamanya, wajib bekerja untuk keselamatan orang negeri yang ditempatinya. Nasionalis-nasonalis itu lupa, bahwa orang Islan yang sungguh-sungguh menjalankan ke-Islam-annya, baik orang Arab maupun orang India, baik orang Mesir maupun orang mana punjuga, jikalau berdiam di Indonesia, wajib pula bekerja untuk keselamatan Indonesia itu. ” Di mana-mana orang Islam bertempat, bagaimana pun juga jauhnya dari negeri tempat kelahirannya, di dalam negeri yang baru itu ia masih menjadi satu  bahagian dari pada rakyat Islam, dari pada Persatuan Islam. Di mana-mana orang Islamn bertempat, di situlah ia harus mencintai dan bekerja untuk keperluan negeri itu dan rakyatnya.”

Inilah Nasionalisme Islam! Sempit budi dan sempit pikiranlah nasionalis yang memusuhi Islamisme serupa ini. Sempit budi dan sempit pikiranlah ia, oleh karena ia memusuhi suatu azas, yang walaupun internasional dan interrasial, mewajibkan pada segenap pemeluknya yang ada di Indonesia, bangsa apa mereka pun juga, mencintai dan bekerja untuk keperluan Indonesia dan rakyat Indonesia juga adanya.

Semangat Proklamasi

Simak juga:  Menyimak Ulang Pidato Kenegaraan Terakhir Bung Karno (3)

Dan, Sukarno juga sering menyamakan jiwa dan semangat nasionalisme itu dengan “semangat proklamasi”. Dalam amanatnya sebagai Presiden pada Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1950 di Jakarta, Soekarno menyatakan dengan berapi-api tentang “semangat proklamasi” itu. Demikian katanya:

“Semangat proklamasi” adalah semangat rela berjuang, berjuang mati-matian dengan penuh idealism dan dengan mengesampingkan segala kepentingan diri sendiri. “Semangat proklamasi” adalah semangat persatuan, persatuan yang bulat mutlak dengan tiada mengecualikan suatu golongan dan lapisan. “Semangat proklamasi” adalah semangat membentuk dan membangun, membentuk dan membangun Negara dari ketiadaan.  Ingatkanlah kembali, Saudara-saudara, bahwa dari ketiadaanlah kita telah membentuk Negara, dari ketiadaan, dari kenihilan – tak lain tak bukan ialah karena kita ikhlas berjuang dan berkorban, karena kita mutlak bersatum jarena kita tak segan mengucurkan keringat untuk membentuk dan membangun. Dan manakala sekarang tampak tanda-tanda kelunturan dan degenerasi, – kikislah bersih semua kuman-kuman kelunturan dan degenerasi itu, hidupkanlah kembali “semangat proklamasi”!

Hanya dengan demikianlah kita pantas bernama satu bangsa yang bertradisi proklamasi, hanya dengan demikianlah kita tidak harus malu kepada diri sendiri manakala kita pada hari iniu merayakan proklamasi.

Nah, mari kita renungkan, apakah yang diutarakan Bung Karno itu hingga kini masih membekas dan meneggelora di dada anak-anak bangsa? *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVIII: Kemerdekaan, Demokrasi, dan Pancasila “Membudayakan Musyawarah Mufakat” Inspirasi Majapahit

Djoko Dwiyanto, Ketua Dewan Kebudayaan DIY Bentuk dan unsur-unsur negara kesatuan Republik Indonesia diyakini berurat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.