Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Nasehat Kehidupan Dalam Kemasan Kupat, Apem, Lontong

Nasehat Kehidupan Dalam Kemasan Kupat, Apem, Lontong

KUPAT, atau ketupat, termasuk jenis makanan yang sangat bersahaja, jauh dari mewah. Sebab apa makanan jenis kupat ini disajikan oleh masyarakat Jawa sebagai makanan bersama lotek, sayur-sayuran dan berbagai jenis makanan lainnya. Sebenarnya kupat ini mengemban nasehat luhur yang ditujukan bagi masyarakat Jawa khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya.

Kupat sebenarnya diambil dari kata Telupat. Sebab biasanya klongsongan kupat itu dibuat dari tiga anyaman dari dua janur yang bagi orang Jawa daun kelapa muda ini biasa melambangkan dyaning nur, Si Empunya Terang. Jadi melambangkan apa sebenarnya kupat tersebut.? Secara ringkas bisa dikatakan bahwa ada doa harapan dan cita-cita manusia agar mampu hidup selaras antara “Aku – Alam – Allah”. Keselarasan hidup ini menjadi dasar pijakan manusia untuk mencapai keselarasan.

Kalau kita mau mecari makna yang lebih luas lagi bisa dicari makna yang khas yakni ‘ mengaku salah = ngaku lepat.

Dengan dasar tersebut sebenarnya diharapkan manusia Jawa untuk senantiasa sadar bahwa dirinya selalu membawa salah didalam hidupnya. Ini selaras dengan sifat manusia Jawa yang tidak lepas dari ‘lali , luput lan apes’. Bahwa manusia itu dalam pemahaman Jawa senantiasa bersifat lupa, salah dan nahas.

Dengan begitu manusia Jawa senantiasa mengedepankan kesadaran selalu salah daripada harus selalu mengaku selalu benar. Karena kalau mengaku salah sadar akan kekurangannya dan berjuang mencari kebenaran. Tetapi kalau sudah mengaku benar yang diunggulkan cuma kesewenang-wenangan.

Dengan begitu manusia selalu diingatkan untuk berhati-hati dalam melangkah, karena selalu salah bila tidak hati-hati.

Dengan begitu ada makna yang lebih dalam dari sekadar makan kupat, yaitu bahwa semangat orang Jawa di dalam pergaulatannya dengan sesama senantiasa mengedepankan semangat untuk senantiasa memberikan maaf kepada mereka yang salah. Demikian pula sebagai manusia dia sendiri juga senantiasa mengaku salah.

Oleh karena itu bagi orang Jawa sebenarnya jauh dari mencari kambing hitam terhadap sebuah kesalahan. Tidak bakal menunjuk keslahan orang lain. Sebab kalau menyalahkan orang lain nantinya hanya akan menuai badai konflik. Yang akhirnya yang dicari adalah kemenangan. Dengan demikian keselarasan tidak bakal dicapai lagi.

Kalau kemenangan yang senantiasa dicari maka yang muncul adalah semboyan “asu gedhe menang kerahe”, siapa yang besar, siapa yang kuat siapa yang beruang banyak , dialah yang menang. Ini bagi orang Jawa sudah tidak bermartabat lagi dan tidak selaras dengan jiwa Jawa.

Dengan Kupat itu sebenarnya mau disodorkan petuah luhur untuk mengedepankan hidup dengan bijaksana selaras dengan lingkungan dan sesama hidup. Artinya kebijaksanaan hidup jangan sampai ditinggalkan. Sebab kalau ditinggalkan, masyarakat kecil yang tidak tau apa-apa akan jadi korban.

Kalau orang mengaku benar itu berat tanggungjawabnya. Malah bisa terjadi sebaliknya., salah. Kalau toh benar-benar salah martabatnya bakal jatuh. Bahkan bisa jadi stress. Sedangkan kalau kita mau selalu mengaku salah ditambah lagi sikap merendah –andhap asor seperti nasihat leluhur, malah bisa jadi benar. Kalau ternyata bahwa orang tersebut benar, malah mendapatkan bonus. Mendapatkan nilai plus. Tetapi kalau sudah mengaku salah tetapi memang salah beneran itu bisa dinamakan ksatria.

Kalau orang sudah mengaku salah, dia punya niat , paling tidak, sudah tidak bakal mengulangi keslahatannya.

Coba kita cermati kalau kita pilih padi yang berisi. Ketika  hidup penuh isi ia pasti merunduk. Digambarkan pula di dalam wayang, ksatria-ksatria mempunyai muka menunduk

Idealnya siapa saja yang mengaku salah ya minta maaf. Meskipun usianya  lebih tua harus berani minta maaf. Tidak seperti sekarang ini yang minta maaf justru yang muda- bawahan terhadap atasan, seolah yang tua atasan tidak pernah membuat kesalahan.

 

Apem

Lalu apa makna apem didalam kehidupan masyarakat Jawa. Ada yang mengartikan , apa dengan apem wis sumanggem?

Makna apem dalam bahasa Arab afamum, artinya Gusti Allah sayekti paring pangapura lan pangayoman.  : ya- qa wiyu, qulhullaha bil afamum, nafsihi filafiatin:’

Duh Allah, mugi Paduka paring pangapura tuwin pangayoman dhateng kawula, ingkang ugi nyenyuwun amrih tinebihna saking hawa nefsu, saha cinaketna dhateng bagaswarasing lair batin kawula”. Ya Allah semoga Paduka memberikan maaf serta perlindungan kepada kami yang meminta agar dijauhkan dari hawa nafsu, serta didekatkan pada keselamatan kesehatan lahir batin hamba”.

Artinya apem mempunyai makna mohon perlindungan serta syafaat demi kehendak Allah. Di sini ada anasir iman dan ikhlas yang terkandung di dalam dasar kehendak sejati yaitu lemper – alamperpramasidhi  yang berarti  muhung kaniyatan mesu budi, berniat untuk senantiasa berupaya untuk bersifat seperti kupat = sirekupatandha ( iya kowe sing wus kinarilan kodrate ) , serta mengharapkan  lonthong = halunthungaris yang berarti sipat sabar  ditambah dengan  obor = pupu=popor-parandhita senantiasa memuja dan memuji Allah yang Maha Tinggi.(Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

Jiwa Jawi Menjawab Kerinduan Barat

PASCA revolusi industri yang terjadi di Barat, masyarakatnya kehilangan pola pikir spiritual. Umumnya mereka berlomba …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *