Selasa , 21 November 2017
Beranda » Musik » Musik dan Tarian Dalam Srawung Anak Bangsa
Kesenian dari Pemuda Hindu Banguntapan

Musik dan Tarian Dalam Srawung Anak Bangsa

Warga bangsa kita terdiri dari beragam jenis suku, etnis, keyaninan dan lainnya, yang tinggal dalam satu ruang yang sama, yakni Indonesia. Maka perlu ada kebersamaan menjaga perbedaan agar menjadi kekuatan bersama untuk kemajuan bersama, dan hidup bahagia di ruang sama dalam perbedaan. Srawung Anak Bangsa menyelenggarakan satu kegiatan budaya untuk merawat perbedaan itu,

Pertunjukan tarian dan musik mengisi satu acara yang dikemas dalam ‘Srawung Anak Bangsa’ satu bentuk, sebut saja Forum Silaturahmi  antar kelompok Iman di Yogyakarta diselenggarakan, minggu 23 Juli 2017 di Plasa Ngasem, Yogyakarta. Lokasi ini berada di wilayah Kecamatan Kraton Yogyakarta di area dalam beteng Kraton Yogyakarta.

Penyelenggara dari acara ini Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Keusukupan Agung Semarang (Kom HAK KAS) bekerjasama dengan komunitas-komunitas lain seperti Forum Jogja Damai, Srikandi Lintas Iman (SRII), Orang Muda Katolik (OMK), Pemuda Katolik, Pemuda Hindu dan komunitas-komunitas lain.

Sejumlah acara kesenian disajikan, dengan menampilkan ragam seni dari berbagai daerah, di antaranya dari NTT, Papua, Kalimantan,, Tari Jawa, Tari Manggarai, Tari Sufi dan sejumlah kesenian lainnya untuk merayakan persahabatan anak bangsa. Satu pesan damai untuk anak bangsa disampaikan melalui acara ini.

Srawung Anak Bangsa, sebut saja merupakan satu ruang bersama dari kelompok masyarakat yang terdiri dari beragam latark belakang, jenis keyakinan yang berbeda, dan mereka menyadari tinggal dalam satu ruang yang sama bernama Indonesia, dan menjalani hidup dalam perbedaan.

Seperti halnya kesenian yang dipentaskan, dan dinikmati bersama, perbedaan mestinya bukan menjadi sumber masalah, melainkan keindahan yang dinikmati. Orang mengenali identitasnya, justru karena adanya perbedaan, dan identitas masing-masing bukan harus diunggulkan dan merendahkan identitas yang lain, Berbeda, ya berbeda, begitu saya, tidak perlu dicari di mana letak masalah dari perbedaan.

Tarian Sufi, yang  menggerakan tubuh secara berputar terus menerus sehingga kostum yang dikenakan memberikan keindahan tersendiri, kiranya memberikan pemahaman bahwa dinamuka dalam persahabatan memiliki keindahan jika semuanya saling menjaga. Tiga penari sufi, yang terus berputar dan masing-masing saling menjaga, sehingga membuat tubuh yang berputar yang dilengkapi dengan kostum yang terus ikut berputar tidak saling berbentuan.

Tarian dari daerah lain, Kalimantan, Papua, NTT dan lainnya, kiranya bisa dimengerti bahwa anak bangsa terdiri dari beragam suku dan etnis, yang masing-masing memiliki jenis kesenian yang berbeda, serta keindahan yang tidak sama.

Pertunjukan musik, dengan menampilkan musik masa kini, ada yang sejenis hip hop, nuansa rock atau lagu pop seolah memberi tahu, anak-anak bangsa yang berusia muda memiliki cita rasa seni yang berbeda.

Kesenian yang dipentaskan, perpaduan antara kesenian daerah dan kesenian modern yang bersentuhan dengan musik barat, semua bersatu untuk Jogja Damai untuk Indonesia. Satu slogan yang terus diteriakan ‘Bukan Aku, Tapi Indonesia’ seperti menjadi penyemangat bersama.

Rasanya, ‘Srawung Anak Bangsa 2017’ ini adalah perekat dari kelompok sosial yang terdiri dari anak-anak muda, yang menampilkan diri secara gembira dengan berekspresi melalui kesenian. Rasanya juga, anak-anak muda ini memahami, rasa damai bisa dilihat dari ekspresi bahagia yang dialami.

Penguatan sosial dan budaya, terutama dari kalangan anak muda yang setiap saat bersentuhan dengan perbedaan memang terus perlu digulirkan sambil meneguhkan keyakinan bahwa perbedaan adalah satu kebahagiaan, bukan sumber masalah. Semoga, sesrawungan ini bisa terus berlanjut dan bukan hanya sekali srawung setelah itu (di) lupa (kan). (*)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan IX: Perlu Sosialisasi Hidup Sabutuhe, Sakcukupe, Sakanane

Oleh: Prof Dr Suwardi Endraswara  Membahas Kebangsaan dalam Religi dan Budaya cukup rumit.  Pertama, Yang saya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *